Home » Sepeda motor » Ada Corona, Penjualan Motor Bekas Jelang Lebaran ‘Suram’

Ada Corona, Penjualan Motor Bekas Jelang Lebaran ‘Suram’

adira finance
Penjualan motor bekas terganggu selama PSBB. Foto/Ilustrasi.

Jakarta – Masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah diperpanjang ke fase kedua. Pemberlakuan PSBB yang sudah melewati waktu sebulan membuat bisnis motor bekas kian sepi. Akibatnya, penjualan motor bekas pun ikut merosot sehingga para penjual harus menurunkan harga.

Turunnya permintaan motor bekas membuat para pedagang motor bekas juga harus menurunkan harga agar cepat laku. Kondisi ini membuat pedagang sepeda motor bekas mengeluhkan kondisi bisnisnya yang kian ‘suram’ selama pandemik virus corona (Covid-19). Penjualan motor bekas terus merosot setelah pemerintah mengumumkan kasus pertama positif Covid-19.

Selama PSBB ini, diler motor bekas tidak beroperasi normal sebab mesti menutup toko. Penjualan motor kini hanya digencarkan melalui iklan online dan cetak, media sosial, atau perantara makelar dari mulut ke mulut.

Turunnya daya beli masyarakat juga menjadi penyebab kepada harga jual motor bekas yang ditawarkan para pedagang. Pedagang kadang terpaksa harus ‘jual rugi’ sehingga harga yang ditawarkan lebih murah dari biasanya. Penurunan harga berkisar antara ratusan ribu rupiah hingga di atas Rp1 juta.

Penjualan Motor Bekas Jelang Lebaran Menurun

Ilustrasi jual kendaraan (Foto: Carmudi)

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, penjualan motor saat pandemik Covid-19 menurun signifikan. Semestinya, penjualan motor sebelum puasa cukup baik dan meningkat pesat sekitar sepekan sebelum hari raya. Kondisi PSBB membuat sebagian masyarakat dirumahkan atau di PHK.

“Puasa sekarang sepi, gara-gara Corona bikin orang jadi nahan diri beli motor. Pekerja banyak yang dirumahkan sama PHK juga, kalaupun ada yang masih kerja juga pada berhemat duit THR dulu. Sekarang sepi banget, biasanya seminggu laku dua atau tiga motor tapi ini enggak,” beber Mamat, tenaga penjual Rahman Motor di kawasan Kayu Manis, Jakarta Timur saat dihubungi Carmudi.

Pria paruh baya ini menyebut bila kondisi satu atau dua pekan sebelum Lebaran biasanya penjualan motor bekas akan naik signifikan, atau setelah pembayaran THR. Dalam dua pekan tersebut, biasanya pedagang kecil seperti dirinya bisa menjual setidaknya 10 unit motor bekas.

Pada bulan puasa beberapa tahun terakhir, lanjut Mamat, permintaan motor bekas akan meningkat di pekan kedua dan ketiga. Biasanya, pembeli mencari motor bekas untuk mudik ke kampung halaman atau ganti motor.

“Biasanya orang menjelang Lebaran banyak juga yang ganti motor. Mereka biar bisa jalan-jalan waktu Lebaran sekalian pamer juga sama yang lain. Sekarang orang terpaksa nahan dulu beli motor, duitnya dipakai buat kebutuhan yang lebih penting dulu,” tuturnya.

Untuk mensiasati sepinya pembeli dan menghemat modal, Mamat mengungkapkan jika ia kemudian bergabung dengan diler motor bekas skala besar. Ia membantu rekanan di dir motor bekas skala besar menjualkan unit mereka.

“Biasanya kan kalau diler gede stok unitnya juga banyak, jadi kita bantu teman yang punya diler untuk jualin. Sistemnya bagi hasil keuntungannya, lumayan tanpa keluar modal. Modal yang ada sekarang juga nggak dipakai semua, sebagian disimpan dulu buat bertahan sampai Corona ini beres,” ungkapnya.

Pedagang Motor Bekas Jual Rugi?

bisnis online motor bekas

Melihat fakta di atas, tidak menutup kemungkinan sebagian pedagang motor bekas menjual impas unit yang mereka miliki. Hal ini dimaksudkan untuk mendapat uang segar cukup cepat dan barang dagangan tidak mengendap terlalu lama.

Maksudnya jual impas ialah para pedagang melepas unit motor bekas mereka dengan harga sama seperti modal yang ia keluarkan saat membeli unit tersebut. Dengan demikian, kerugian bisa tetap dihindari selama masa pandemik ini.

“Sekarang harga motor pada jatuh, kita pun terpaksa jual impas supaya tetap bisa laku. Kalau sudah terlalu lama tidak terjual, misalnya sebulan tidak laku, terpaksa jual rugi sedikit. Kita subsidi silang kerugiannya ditutup dari keuntungan si motor lain,” jelas Arman Setiawan, pemilik dealer motor Rahman Motor.

Arman mengakui, ia masih bisa mendapatkan keuntungan tipis sekalipun menjual rugi motor bekas. Ia beralasan, keuntungan tersebut diperoleh ketika membeli kembali unit motor untuk barang dagangannya. Kondisi pandemik seperti sekarang membuat banyak orang yang menjual motor untuk kebutuhan hidup.

“Pernah beberapa kali jual rugi, tapi kita masih ada selisih (untung) ketika belanja lagi. Sekarang banyak orang jual butuh, jadi harganya juga lebih murah dari pasaran. Nah, kerugian kita bisa ditutupi saat membeli unit yang lebih murah dari unit yang kita jual sebelumnya,” ucapnya.

banyaknya masyarakat yang menjual motornya membuat stok di dealer motor bekas semakin banyak. Sementara itu, banyaknya stok tidak diimbangi dengan penjualan yang bagus.

Menurutnya, di tengah krisis seperti sekarang ini pasokan motor bekas cukup mudah didapatkan. Banyak orang yang menawarkan motornya, baik itu untuk dijual atau digadaikan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Permasalahannya, ia sedikit kesulitan untuk menjual kembali karena daya beli masyarakat menurun.

Kondisi kayak gini banyak yang nawarin motor bekas, makelar juga sering nawarin ke kita motor untuk dagangan. Saya sih kalau ada duit mau ambil banyak, tapi masalahnya waktu jual kembali agak susah. Nunggu pandemik selesai belum tahu sampai kapan, kayaknya kelamaan,” ucap pria Betawi asli ini.

Motor Karburator Masih Jadi Favorit

Motor-motor yang ada saat ini telah berganti memakai sistem injeksi untuk memasok bensin ke ruang bakar. Sekalipun sudah punah, ternyata motor bekas yang memakai karburator masih banyak dicari. Pembeli motor bekas karburator biasanya dari kalangan bawah yang mencari kemudahan perawatan.

Sofian Abdulah, salah seorang makelar motor bekas di Kebon Pala, Jakarta Timur, menjelaskan bila motor injeksi dihindari ketimbang versi karburator. Sebab, tidak semua bengkel bisa menangani sistem injeksi di sepeda motor.

“Motor karburator harganya masih kuat meskipun secara tahun pembuatan lebih lama. Motor injeksi cenderung dihindari soalnya cuma bisa di servis di bengkel resmi, nggak bisa di sembarang bengkel seperti karburator,” beber Sofian.

Ia mencontohkan, motor karburator yang selalu ada peminatnya yaitu 1Honda Karisma dan Supra X 125 lawas. Untuk Honda Karisma, motor bermesin 125 cc ini dijual dengan harga antara Rp 2,5 juta sampai 3,5 juta. Harga tersebut sudah bertahan hampir setahun terakhir.

“Karisma sampai sekarang masih banyak yang mencari. Harganya stabil di kisaran Rp 2,5 juta sampai Rp 3,5 juta. Motor ini jadi favorit soalnya irit dan gampang perawatannya,” jelasnya.

Tidak cuma motor bebek, motor metik karburator juga masih banyak dicari. Model yang cukup laris antara lain Honda Beat, Honda Vario, atau Yamaha Mio series. Sekalipun boros, motor metik karburator menurut Sofian sudah terbukti bandel.

“Motor seperti Honda Beat, Vario, atau Mio Smile sudah terbukti bandel. Biarpun motor sudah lama, tapi masih enak dipakai dan perawatannya enggak ribet. Karburator perawatan mudah dan bisa diutak-atik kalau mau dioprek atau upgrade performa,” katanya.

Penulis: Yongki

Editor: Lesmana

Suzuki Ciaz
Previous post
Susul Indonesia, Negara Ini Suntik Mati Suzuki Ciaz
Next post
Harga Toyota Prius PHEV Tak Sampai Rp1 M, Tapi Belum Sentuh Konsumen Individu