Home » Berita » Alasan Daihatsu Tetap Produksi Mobil di Tengah Pademi Corona

Alasan Daihatsu Tetap Produksi Mobil di Tengah Pademi Corona

Test drive New Daihatsu Sigra di Bandung, Jawa Barat.
Test drive New Daihatsu Sigra di Bandung, Jawa Barat (Foto: Carmudi)

Jakarta -Pasien terinfesksi virus corona (Covid-19) belum juga menunjukkan tanda-tanda penurunan, malah jumlahnya semakin naik setiap hari. Hal tersebut membuat sebagian besar perusahaan otomotif khawatir bila wabah semakin melebar. Oleh karenanya, masing-masing perusahaan punya cara berbeda-beda dalam menekan penyebaran virus. Mulai dari memberlakukan sistem kerja di rumah (Work From Home/WFH), hingga rela memberhentikan operasi pabrik mobilnya.

Ada beberapa pabrikan otomotif yang memilih untuk menutup operasi pabrik selama dua minggu, sebut saja dua di antaranya Suzuki dan Honda. Berbeda dengan Daihatsu, pihaknya lebih memilih untuk terus produksi mobil. Hanya saja ada pengurangan waktu kerja, dari sebelumnya dua menjadi satu shift. Dengan begitu para pekerja pabrik hanya bekerja dua hari sekali, sehingga mereka bisa memanfaatkan waktu libur untuk istirahat di rumah.

“Saya tegaskan lagi ya, yang mau stop produksi sementara itu kan mereka per dua minggu nanti, dua minggu ini mereka kerja, lalu dua minggu mereka stop. Daihatsu memilih dua hari sekali kerja, jadi sehari libur sehari masuk kerja, bila total sama saja kayak mereka (yang menutup pabrik) kira-kira masa kerjanya dua minggu,” ungkap Corporate Planning & Communications Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra di Jakarta saat teleconference bersama media, Senin, (5/4/2020).

Perempuan yang akrab disapa Amel itu pun menambahkan, Daihatsu sengaja menerapkan sistem kerja seperti demikian untuk menghindari para pekerja mudik. Bila sampai kejadian maka sama saja tidak mengindahkan anjuran pemerintah pusat maupun daerah.

“Karena kami mengikuti anjuran pemerintah kalau karyawan pabrik diberi libur di dua minggu, misalnya akhir April libur orang-orang itu (karyawan) pasti pulang kampung. Sementara pemerintah menganjurkan jangan pulang kampung. Nah, kalau kami maunya setiap hari mereka harus di Jakarta, ya mau enggak mau kami atur dua hari satu kali kerja. Jadi itu masalah manajemen saja. Kalau merek mobil lain mungkin mengatur dua minggu terakhir libur tapi dua minggu di awal mereka masuk, kalau di Daihatsu maunya dua kali sehari,” terang Amel.

Gaji dan THR Dibayar Penuh

Walaupun para karyawan tidak bekerja penuh secara normal, Daihatsu tetap akan membayar gaji dan Tunjangan Hari Raya (THR) penuh. Amel mengatakan, bagi Daihatsu, karyawan adalah aset perusahaan yang juga perlu mendapat perhatian.

“Untuk itu (gaji dan THR) kami berikan, tidak ada yang kami potong hak-haknya mereka. Karena pada dasarnya kami selalu mempekerjakan karyawan itu dan menganggapnya sebagai aset,” tutur Amel.

Sebagai informasi, saat ini Daihatsu memiliki dua pabrik di dua lokasi yang berbeda. Satu berada di Sunter, Jakarta Utara dengan kapasitas produksi 300 ribu unit per tahun, dan Karawang, Jawa Barat berkapasitas produksi 200 ribu unit setahun. Dengan pemberlakuan waktu kerja satu shift ini, maka diperkirakan jumlah produksi mobil Daihatsu di kedua pabrik tersebut tidak akan mencapai kapasitas maksimal.

 

Penulis: Santo Sirait

Editor: Dimas

Baca Juga:

Harga Terlalu Mahal, Toyota Corolla Altis Dihentikan Secara Permanen

Previous post
Ungkap Harga Jual Nissan GT-R, Mobil Nahas Sang Wakil Kejagung
Next post
Daihatsu Tidak Akan Jor-Joran Kasih Diskon Pembelian Mobil