Home » Berita » Beda dengan Versi Indonesia, Isuzu Traga untuk Ekspor Pakai Standar EURO 4

Beda dengan Versi Indonesia, Isuzu Traga untuk Ekspor Pakai Standar EURO 4

Isuzu Traga
Isuzu traga yang baru diluncurkan bermain di kelas truk kecil. Foto/Carmudi.

Bogor – Isuzu Indonesia sekarang tidak hanya mengandalkan Panther untuk produksi pasar domestik. Merek dengan spesialisasi mesin diesel ini sekarang memiliki Isuzu Traga, pikap yang menjadi penantang Mitsubishi L300. Begitu berambisinya Isuzu menguasai segmen pickup medium, Traga nantinya juga akan diekspor.

“Betul Isuzu Indonesia menjadi basis produksi Isuzu Traga. Kemungkinan tahun depan baru terealisasi, dengan tujuannya kemungkinan besar kawasan Asia Tenggara,” ungkap Tonton Eko selaku Product Development Division Head PT Isuzu Astra Motor Indonesia di sela-sela sesi test drive Traga.

Berbeda dengan versi Indonesia yang masih Euro 2, Traga yang nantinya diekspor menggunakan standar Euro 4. Isuzu Indonesia tidak mengalami kesulitan soal perbedaan standar ini karena sebenarnya sudah memiliki teknologi untuk memproduksi kendaraan dengan standar tersebut.

“Kita akan ekspor dalam bentuk utuh (CBU). Ada beberapa negara yang membutuhkan Euro 4. Teknologi kita di Isuzu sebetulnya sudah punya, tinggal disesuaikan dengan regulasi dengan negara tertentu,” tambah Tonton.

Isuzu Traga Minim Fitur Kenyamanan

Soal spesifikasi Traga ini sebenarnya terbilang sederhana dari sisi fitur kenyamanan. Pickup ini tidak menggunakan penyejuk udara atau AC, dan hanya menggunakan blower.

Isuzu Traga
Interior kabin Isuzu Traga. Foto/Carmudi.

Ternyata cara ini mengikuti langkah para kompetitor yang menjual mobil pick-up tanpa penyejuk udara. Bedanya, Traga yang sudah memakai blower ini modifikasinya lebih murah saat nanti ingin dipasang AC.

“Yang biasa menolak AC itu ownernya, tapi kita sadar ke depannya AC itu akan menjadi standar. Kita sudah siapkan blower, saat konsumen ingin AC bisa beli tinggal pasang punya Panther,” jelas Tonton.

Menurut owner, adanya AC malah menambah biaya atau uang jalan. Selain itu, beban kerja mesin jelas lebih berat ketimbang tanpa AC dan ini berdampak pada konsumsi bahan bakar yang meningkat.

Kenapa tidak pakai AC? Kita belajar dari model lain. Owner itu sangat peduli dengan cost operationalnya, saat menggunakan AC itu bisa membuat mesin lebih boros. Menurut owner, kalau ada AC itu sopir yang menikmati tapi owner yang ‘biayai’,” tutur Beny Dwyanto selaku Product Marketing Dept Head PT Isuzu Astra Motor Indonesia.(dol)

Previous post
Kualitas Mobil BMW Dipertanyakan, Lebih dari 300 Ribu Unit Cacat Produksi
Next post
Komunitas Pengguna Mobil Altis Kampanyekan Bahaya Jalan Lambat di Lajur Kanan