Home » Berita » Bicara Bahan Bakar Bebas Polusi, Ketum GAIKINDO: Indonesia Masih Terbelakang

Bicara Bahan Bakar Bebas Polusi, Ketum GAIKINDO: Indonesia Masih Terbelakang

Standart Euro4. Foto/Ilustrasi.

Jakarta – Kendaraan bermotor merupakan salah satu sektor penyumbang polusi udara di Indonesia terutama di kota-kota besar. Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menilai Indonesia jauh tertinggal dibanding negara lain yang sudah fokus menekan angka polusi dari kendaraan bermotor.

“Kalau bicara penggunaan bahan bakar yang bebas polusi memang Indonesia masih terbelakang. Untuk kendaraan bermesin diesel masih Euro2, kalau mesin bensin sudah Euro4. Akan tetapi bensin yang Euro4 sendiri masih sedikit sedangkan sebagian besar masih di bawah Euro4. Ini tentunya butuh perhatian pemerintah untuk menyediakan bahan bakar yang lebih bersih, walaupun nanti ini akan berdampak ke harga jual bahan bakar minyak,” kata Nangoi.

Bahkan Nangoi membenarkan jika kendaraan bermotor penyumbang polusi udara. Namun menurutnya untuk mengatasi polusi udara pemerintah telah memberikan solusi yaitu dengan mengajak produsen otomotif menyediakan kendaraan dengan standar Euro4. Tapi permasalahannya tidak semua bahan bakar minyak yang dipasarkan di dalam negeri sesuai dengan standar emisi Euro4.

“Kalau pemerintah sudah bilang harus Euro4, mobil yang dihasilkan oleh pabrikan dan dijual di Indonesia semuanya adalah standar Euro4. Permasalahnya adalah apakah bahan bakar yang disediakan sudah Euro4 kita masih belum tahu, tanya ke Pak Ignasius Jonan (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) apakah sudah mengeluarkan bahan bakar Euro4. Apalagi kendaraan mesin diesel berstandar Euro4 mulai berlaku pada Maret 2021,” terang Nangoi.

Terlepas dari belum banyaknya bahan bahan berstandar Euro4 tersedia di pasar, namun GAIKINDO mendukung penuh strategi-strategi yang telah disiapkan oleh pemerintah dalam upaya mengurangi polusi udara.

“Tentunya hal ini mesti kita lihat bahwa pemerintah telah mengupayakan perbaikan polusi dengan naik ke teknologi lebih tinggi, dengan menggunakan bahan bakar lebih bersih. Sehingga paling tidak polusi yang dihasilkan kendaraan bermotor bisa ditekan,” paparnya.

Volume Kendaraan di Indonesia

Tidak sedikit yang beranggapan bahwa kendaraan bermotor sudah sangat banyak di Indonesia, hal itu dibantah oleh Nangoi. Dirinya membandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, di mana angka kepemilikan kendaraan di kedua negara tersebut lebih banyak ketimbang di dalam negeri.

“Kalau bicara volume kendaraan bermotor di Indonesia masih kecil sekali. Kita hanya punya 87 mobil per 1.000 orang, sementara Thailand sudah 240 mobil per 1000 orang, sedangkan Malaysia 400 mobil per 1000 orang. Jadi kalau dibilang Indonesia banyak kendaraan bermotor, ya saya rasa enggak ya,” tutur Nangoi.

Memang terlihat padat kendaraan bermotor karena masih terkonsentrasi di satu area, tapi sambung Nangoi jika pemerintah berhasil membangun infrastruktur yang lebih baik maka penyebaran kendaraan akan lebih ke arah daerah.

“Kalau dilihat lima tahun lalu penjualan mobil 80 persen terkonsentrasi di pulau Jawa, sementara 20 persen di luar pulau. Tapi saat ini 60 persen terkonsentrasi di pulau Jawa, sekira 40 persen di luar Jawa. Jadi sekarang mulai menyebar,” pungkas dia. (dms)

Previous post
Penjualan Mobil Toyota Turun, Avanza dan Calya Masih Terlaris
mitsubishi outlander sport
Next post
Stok di Diler Mulai Menipis, Mitsubishi Outlander Sport Akan Disuntik Mati?