BeritaMobil

Sebelum Carlos Ghosn Ditangkap, Ada Rencana Renault Merger dengan Nissan

carlos ghosn ditangkap

Carlos Ghosn ditangkap pihak berwenang di Jepang (Foto: Getty Images)

Tokyo – Di balik heboh penangkapan Carlos Ghosn yang sampai membuat saham Nissan drop, ternyata ada rencana besar yang nyaris dilakukan sang bos, persis sebelum Carlos Ghosn ditangkap.

Pria keturunan Brasil-Lebanon itu rupanya menyiapkan merger antara Renault dan Nissan. Mega-deal yang disebut sejumlah sumber bakal terjadi dalam hitungan bulan.

Rencana ini rupanya bersebrangan dengan keinginan direksi Nissan yang kemudian disebut ‘mencari cara’ untuk menghentikan Ghosn. Meski sukses membesarkan Nissan bahkan bisa dibilang menyelamatkan perusahaan, Ghosn dianggap direksi telah melakukan hal yang ‘terlalu jauh’ dengan ambisi merger ini, demikian yang dilansir Financial Times.

Salah satu masalah dalam aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi adalah saham Renault di Nissan saat ini mencapai 43%, sedangkan saham Nissan di Renault hanya 15%. Padahal Nissan jauh lebih besar dari Renault, setidaknya dari angka penjualan. Nissan 60% lebih besar dari angka penjualan Renault, tapi justru Renault yang ‘mengontrol’ Nissan.

Proporsi saham ini membuat ketidakseimbangan pada kontrol perusahaan. Misalnya dalam merekrut eksekutif untuk perusahaan. Dalam arti, Renault bisa mengontrol Nissan, tetapi Nissan tidak dapat mengontrol Renault.

Carlos Ghosn berbincang dengan Presiden RI, Jokowi. (Foto: Carmudi Indonesia)

Rekam Jejak Berdirinya Aliansi Renault-Nissan

Dalam rekam jejak berdirinya aliansi, Nissan butuh sokongan dana pada era ’90-an dengan melakukan deal dengan Renault. Tetapi sebagai kompensasinya, Renault memiliki saham ‘voting shares‘ Nissan sebesar 38% dan CEO Renault saat itu, Carlos Ghosn, kemudian juga menjadi CEO Nissan.

Pada saatnya Nissan memiliki uang, perusahaan hanya bisa membeli 15% saham non-voting Renault.

Saat itu kesepakatan dengan Renault mungkin bisa menyelamatkan Nissan, namun sebenarnya bukan kesepakatan seperti ini yang Nissan inginkan, setidaknya dalam jangka panjang.

Tidak banyak yang dapat Nissan lakukan. Nissan hanya dapat berharap tetap menjadi independen. Apalagi CEO Renault sudah menjadi CEO Nissan, kemudian menjadi Chairman dari kedua perusahaan. Kemudian menyusul masuknya Mitsubishi ke dalam aliansi.

Ghosn memang sukses membuat Nissan menjadi besar. Tetapi ada satu kesalahan yang ia lakukan dan dianggap direksi Nissan sudah terlalu jauh. Direksi Nissan tidak ingin Ghosn melakukan merger sepenuhnya antara Nissan dan Renault.

Entah kebetulan atau tidak, persis ketika rencana merger Renault dan Nissan tampak semakin nyata, Carlos Ghosn ditangkap pihak berwenang (yang disebut dekat dengan Nissan dalam penyelidikan kasus ini) pada Senin (19/11). Carlos Ghosn ditangkap karena kasus fraud laporan pendapatan, hingga penggunaan aset perusahan untuk kepentingan pribadi.

Hmm, kebetulan? (dna)

 

 

 

Wahyu Perdana Putera

Berkarir di sejumlah online media sejak 2012 sebagai jurnalis teknologi, sains dan otomotif, kini di Carmudi Indonesia sejak Juli 2015 untuk mengulas & mempublikasikan kabar otomotif terkini dari perspektif lain. Menggilai mobil retro era '80-90an, modifikasi & kultur balap jalanan Jepang serta hobi modifikasi dengan aliran oldschool brutal seperti Shakotan, Kyusha & Kaido Racer. Email: [email protected]
Follow Me:

Related Posts