Berita

CEO Daimler Kritik Aktivis Lingkungan yang Bilang PHEV Mobil Listrik Palsu

Berlin – CEO Daimler, Ola Kallenius secara tegas mengkritik aktivis lingkungan yang menyebutkan bahwa Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) adalah mobil listrik palsu. Hal tersebut disampaikannya belum lama ini saat menjalani sesi wawancara khusus dengan Automotive News Europe.

Menurut Kallenius, Klaim aktivis yang menyatakan PHEV adalah mobil listrik palsu terlalu berlebihan.

motor elektrik

Motor Elektrik akan tersedia pada seluruh mobil Volvo di 2019 (dok.volvo)

Pihaknya juga mengklaim sebagian besar pengemudi mobil berteknologi PHEV menggunakan mode non-listrik yang terkadang membuat emisi CO2 lebih tinggi daripada mobil bermesin pembakaran biasa. Mereka menganggap, bobot kendaraan yang berat karena adanya baterai membuat mesin mobil bekerja ekstra.

Namun faktanya, Kallenius menyebutkan bahwa teknologi PHEV yang ada di mobil sekarang adalah generasi terbaru. Daya baterai dalam mode listrik menawarkan jangkauan yang jauh lebih panjang daripada sebelumnya.

“Ketika berbicara tentang Plug-in Hybrid sekarang itu sudah berada di generasi ketiga. Tetapi mereka (aktivis) masih mengandalkan data dari generasi pertama. Di mana baterainya lebih kecil dan jangkauannya lebih pendek,” kata Kallenius.

Dia menambahkan, berhubung daya jangkau yang ditawarkan mobil Plug-in Hybrid lebih jauh, maka banyak pelanggan yang memanfaatkan mode listrik dalam berkendara.

Sebagai contoh, Mercedes C-Class Plug-in Hybrid terbaru dapat dikendarai sejauh 100 km hanya dengan tenaga listrik saja. Angka tersebut dua kali lebih jauh dari pendahulunya.

Mobil Listrik Palsu

CEO Daimler bantah PHEV adalah mobil listrik palsu (Foto: Automotive News Europe)

Bahkan Mercedes-Benz telah membuat aplikasi khusus untuk memberitahu pengguna mobil tentang konsumsi bahan bakar, serta mendorong pelanggan mengemudi dengan cara yang hemat energi.

Senada dengan Kallenius, CEO Hyundai Eropa Michael Cole mengatakan daya jangkau mobil berteknologi Plug-in Hybrid jika menggunakan mode listrik cukup jauh. Sehingga mampu mengurangi pencemaran udara.

“Saya masih berpikir teknologi ini menawarkan pengurangan CO2 secara nyata. Dengan menggunakannya untuk bepergian maka bisa terbebas dari emisi dalam waktu yang tepat di bawah kondisi yang tepat,” kata Cole.

Mobil Berteknologi PHEV Mengeluarkan Emisi Lebih Banyak

Akhir tahun lalu, tim penguji mobil PHEV dari Transport and Environment (T&E) di Eropa mengklaim emisi CO2 yang dikeluarkan oleh mobil PHEV jauh lebih banyak dan tidak sama seperti yang diiklankan.

Outlander PHEV Thailand

Mitsubishi Outlander PHEV (Foto: Santo/Carmudi)

Bahkan pihaknya meminta supaya pemerintah Eropa menghentikan pemberian subsidi dan keringanan pajak untuk seluruh mobil PHEV.

Tim T&E melakukan pengujian mengenai emisi gas buang CO2 dengan mengambil tiga model mobil SUV PHEV sebagai sampel. Ketiganya adalah BMW X5, Volvo XC60, dan Mitsubishi Outlander.

Hasil pengujian, tim T&E menemukan bahwa dalam kondisi optimal, ketiga kendaraan tersebut mengeluarkan jauh lebih banyak CO2 daripada yang dipublikasikan.

Baca Juga:

Penulis: Santo Sirait

Editor: Dimas

Santo Sirait

Santo Sirait sebelumnya Jurnalis di Okezone.com, pindah ke Carmudi.co.id sebagai Reporter pada November 2017. Fokus di sektor otomotif, terutama meliput tentang mobil, motor dan industri otomotif. Santo dapat dihubungi di [email protected]

Related Posts