Reviews Sepeda motor Sumber informasi

Coba Honda PCX Electric Tarikannya Spontan dan Senyap

Test Ride Honda PCX Electric di JIExpo Kemayoran

Jakarta – Pekan lalu PT PT Astra Honda Motor memperkenalkan Honda PCX Electric. Sayangnya, skuter ini tidak dijual, pihak Agen Pemegang Merek hanya menyewakan unit tersebut kepada korporasi, baik swasta atau pemerintah.

Sebagaimana biasa, AHM menggelar sesi test ride Honda PCX Electric kepada undangan media setelah peluncuran. Dalam sesi test ride ini, AHM memberi jatah dua putaran pada trek yang dibuat di pelataran parkir barat JIExpo Kemayoran. Carmudi.co.id pun tidak ketinggalan mendapat kesempatan mencicipi skuter ramah lingkungan itu.

Pada test ride ini, AHM ingin membuktikan kepada media soal performa PCX bertenaga listrik. Menurut kami, motor ini bakal menggabungkan sisi kenyamanan dan kelincahan khas PCX dengan kemampuan motor listrik hasil riset mereka selama dua tahun untuk pasar Indonesia.

Honda kabarnya mulai menyewakan PCX Electric pada April 2019 mendatang. Tarif sewa motor listrik ini mencapai Rp 2 juta per bulan dengan garansi gratis maintenance. Sayangnya, motor ini tidak boleh disewa atau dibeli oleh kalangan individu.

Motor ini sudah masuk era mass production, tapi Honda masih terus menyempurnakan kemampuan motor ini agar sesuai dengan karakter bikers di banyak negara. Pasti banyak yang penasaran, bagaimana kemampuan motor listrik bikinan merek ternama. Berikut ini ulasannya, dari sesi test ride pada Kamis (31/1) lalu.

Performa Honda PCX Electric

Hal pertama yang kami fokuskan saat test ride Honda PCX Electric ini adalah soal performa motor penggeraknya. Secara fisik terlihat di sisi kiri bila hub (penutup bodi samping) ke roda ini lebih ramping ketimbang PCX biasa. Jelas saja, isi didalamnya hanya kabel dan dinamo untuk menggerakkan roda belakang.

Sebelum masuk ke pembahasan performa saat di trek, sebagai intermezzo saya akan jelaskan secara singkat cara menyalakannya. PCX Electric ini sudah memakai sistem keyless, dan cara menghidupkannya sama persis dengan PCX biasa. Tekan dan putar knob ke ‘ON’, tarik tuas rem belakang sampai mentok kemudian tekan tombol starter.

Nah, disinilah beda antara versi elektrik dengan konvensional. Apabila PCX biasa langsung terdengar suara mesin saat hidup, versi elektrik ini ditandai dengan suara alarm ‘biiiiippp’ yang menandakan sistem elektrikal penggerak siap digunakan.

Karakter motor listrik ini menawarkan torsi besar sejak putaran awal. Dengan kata lain, tarikan motor langsung spontan saat grip gas mulai diputar. Menilik spesifikasi teknisnya, torsi maksimal 18 Nm sudah tersedia pada 500 rpm.

Sayangnya, tenaga PCX Electric sangat kecil bila dibandingkan dengan versi konvensional. Skuter ini menghasilkan output maksimum 4.2kW sejak putaran rendah. Sementara itu, PCX konvensional tenaganya 10,8 kW (14,7 PS) / 8.500 rpm dan torsi 13,2 N.m (1,35 kgf.m) / 6.500 rpm. Jauh sekali bukan?

Bila melihat strategi AHM dan karakter PCX Electric ini dengan baterai yang cuma mencapai 69 kilometer, terlihat kalau skuter ini hanya untuk pemakaian komuter dalam kota saja. Kelincahan dan kenyamanan ala PCX masih terasa, seperti posisi jok lebar dan ayunan suspensi empuk.

Berkendara Honda PCX Electric

Bagi yang tidak biasa, bisa langsung kaget saat memuntir grip gas skuter ini. Torsi besar langsung terasa, sehingga menghasilkan akselerasi spontan. Selain itu, motor elektriknya hslus banget, nyaris tanpa suara saat bekendara santai.

Skuter ini dengan mudahnya digeber sampai lebih dari 40 km/jam pada trek lurus pendek, sekitar 50 meter bikinan panitia AHM. Akselerasi memang spontan tapi sebenarnya tarikan motor ini cukup halus. Suara dinamo listrik baru terdengar saat kecepatan melewati 30 km/jam.

Menguji kelincahan Honda PCX Electric

Suaranya hanya dengungan halus, mirip seekor tawon yang sedang terbang di dekat kita. Bila di jarak kejauhan jelas tidak terdengar. Cocok untuk pengguna dengan tempat tinggal di kompleks elite, yang minim kebisingan.

Soal kelincahan juga oke, karena mewariskan DNA langsung keluarga PCX. Bahkan, versi elektrik lebih lincah saat belok patah-patah. Ini didukung torsi besar pada putaran bawah, sehingga cocok untuk selap-selip di kemacetan.

Pada putaran pertama, saya coba adaptasi dengan si gembul lincah ini. Benar saja, goyangannya maut broo… Beda seperti PCX biasa yang perlu lebih sering melirik ujung hidung motor demi mendapat haluan yang pas. Sekilas rasanya mirip seperti naik Honda Vario Techno 150.

Saya pun tidak perlu sampai turun kaki untuk bertumpu ketika motor berbelok patah. Cukup mainkan grip gas saja untuk menyeimbangkan laju motor. Posisi travel suspension yang ikut berubah ternyata berpengaruh terhadap pengendalian di sesi test ride Honda PCX Electric ini.

Saya bisa lebih mudah melirik bagian hidung karena posisi duduk sedikit nungging. Tapi tenang saja, berkendara pakai motor listrik ini tidak capek kok karena sebenarnya pengendara tidak menunduk selama berkendara.

Pengereman juga pakem, dengan teknologi ABS di roda depan. Proses deselerasi pada motor listrik sebenarnya lebih mudah ketimbang motor metik biasa. Karena suplai daya bisa langsung berkurang saat kita mengurangi bukaan grip gas. Dengan adanya power control unit, sensasi berkendara ala metik biasa untungnya masih ada.

Ketika motor berjalan dan gas ditutup sampai habis, maka motor masih melaju dengan kecepatan yang berangsur menurun. Dengan begini, tenaga motor tidak langsung drop karena tenaga ke roda diatur oleh PCU. Karena tenaganya yang kecil, pengereman dari kecepatan tinggi jadi lebih mudah.

Karakter Motor Listrik

Karena pengujian bertujuan mengeksplorasi sisi performa motor listrik, maka saya coba berkendara sesuai dengan kondisi nyata di jalanan ibukota yang padat. Motor ini nikmat untuk stop and go di tengah kemacetan karena handling lincah dan torsi instan.

Test Ride Honda PCX Electric menguji kelincahan

Uniknya, wheelbase PCX versi elektrik lebih panjang ketimbang versi konvensional karena adanya hugger tambahan untuk roda belakang. Tapi, motor listrik ini pengendaliannya lebih lincah terutama saat diajak zig-zag.

Gas tinggal diayun buka-tutupnya saat lewat jalur zig-zag. Motor pun nurut saja ikut maunya pengendara. Untuk berkendara santai, PCX Electric jelas pas asalkan bukan jarak jauh. Kapasitas baterai cuma bisa digunakan dengan jarak maksimal 69 kilometer.

Itu sama saja berkendara mulai dari Stasiun Jatinegara, sampai dengan pertigaan Gadog, di Ciawi, Bogor. Lebih dari itu, pengendara harus isi ulang baterai yang cukup lama. Tapi kalau untuk pemakaian komuter dengan jarak tempuh pergi-pulang sekitar 50 kilometer sih jelas cocok.

Honda Pangkas Fitur?

Soal kenyamanan berkendara hampir tidak ada bedanya dengan PCX biasa. Namun, soal fitur utilitas jadi persoalan. Pertama dari ukuran bagasi di bawah jok jadi berkurang karena sepasang baterai besar. Kamu tidak bisa lagi menyimpan helm half face di balik jok.

Bagasi Honda PCX Electric

Ini bakal jadi pekerjaan rumah Honda Motor Corportation nantinya. Karakter pengguna yang suka bawa banyak barang jadi kerepotan akibat bagasi lebih sempit. Pabrikan perlu mencarikan solusi desain bagasi tetap lega tanpa mengorbankan baterai.

Selain itu, fitur parking brake lock hilang dari PCX versi listrik. Padahal, fitur ini berguna saat motor berhenti di tanjakan dan turunan supaya tetap diam. Ini jelas merepotkan pengguna saat harus berhenti menunggu lampu hijau di bidang jalanan tidak datar. Tangan pengendara harus terus menarik tuas rem sampai motor ini berjalan lagi.(dol)

Tutus Subronto

Tutus Subronto memulai karirnya di dunia otomotif sebagai jurnalis di Media Indonesia. Sejak 2008, telah meliput beragam kegiatan otomotif nasional. Terhitung Januari 2014 masuk sebagai tim Content Writer di Carmudi Indonesia. Kini terlibat di tim editorial Journal Carmudi Indonesia untuk mengulas dan publikasikan berita-berita otomotif terbaru. Email: [email protected]

Related Posts