Sumber informasi Tips dan Trik

Etika Membunyikan Klakson, Hormati Sesama Pengguna Jalan

Jakarta – Klakson berfungsi untuk memberi peringatan suara antar sesama pengguna jalan. Tak bisa sembarangan, membunyikan klakson ini jelas ada etikanya, tidak asal pencet dan berbunyi panjang. Dalam hal ini seseorang bisa terlihat bijak atau arogan di jalan raya.

Klakson kendaraan telah didesain dengan tingkat kebisingan tertentu. Klakson bisa digunakan untuk simbol menyapa atau peringatan. Bahkan, klakson bisa juga untuk menunjukkan rasa amarah atau emosi si pengendara terhadap pengguna jalan lain.

Kendaraan yang biasa digunakan untuk antar kota atau antar negara biasanya memiliki dua jenis klakson. Pada bus dan truk contohnya, dibekali klakson untuk dalam kota dan klakson ketika di jalan bebas hambatan. Hal ini mengacu pada etika penggunaan klakson di beberapa negara tertentu yang sangat sensitif.

Pemilik kendaraan boleh mengganti klakson bawaan dengan produk aftermarket. Namun, produk tersebut kualitas suaranya harus memenuhi ambang batas yang diizinkan pemerintah. Jangan sampai, suaranya terlalu bising sehingga tidak nyaman di telinga pengguna jalan lainnya.

Aturan Pemerintah Perihal Membunyikan Klakson

Membunyikan klakson

Membunyikan Klakson Telolet

Etika dan kualitas bunyi klakson ini telah diatur oleh pemerintah dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 44 Tahun 1993 Bab II pasal 74. Pasal itu menyebutkan jika klakson yang digunakan harus dapat mengeluarkan bunyi yang dalam keadaan biasa dapat didengar pada jarak 60 meter.

Pemerintah juga mengatur tingkat kebisingan klakson melalui PP No. 55/2012 pasal 69 yang berbunyi, “Suara klakson sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (2) huruf f paling rendah 83 (delapan puluh tiga) desibel atau dB (A) dan paling tinggi 118 (seratus delapan belas) desibel atau dB (A)”.

Dua peraturan tadi jelas jadi patokan pemilik mobil maupun pabrikan saat memasang klakson pada kendaraan. Suara yang dihasilkan dari klakson ini sesuai dengan batas kemampuan pendengaran manusia. Manusia normal mampu mendengar suara berfrekuensi 20-20.000 Hz dengan tingkat kekerasan di bawah 80 dB.

Mendengarkan bunyi di atas 80 dB secara terus menerus bisa merusak pendengaran karena dapat mematikan fungsi sel-sel rambut dalam sistem pendengaran. Untuk mobil dengan dua jenis klakson ini bisa secara bijak mengganti suara sesuai kondisi jalan yang sedang dilewati.

Soal pelanggaran batas maksimum kebisingan klakson diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 58 yang berbunyi, “Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di jalan dilarang memasang perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas.”

Klakson bising dianggap sebagai perlengkapan kendaraan tidak standar dan mengganggu keselamatan. Hukuman jika melanggar yaitu kurungan paling lama 1 bulan atau denda Rp250 ribu.

Nah, Anda yang terbiasa berkendara antar kota mungkin bisa menggunakan klakson dengan tingkat tekanan suara maksimal saat di jalan tol atau jalan arteri nasional. Saat melewati wilayah padat penduduk atau perkotaan, sebaiknya gunakan klakson dengan tekanan suara seperlunya.

Etika Membunyikan Klakson

Membunyikan klakson

Membunyikan Klakson Keras

Membunyikan klakson tidak bisa sembarangan, sekalipun tujuannya sebagai bentuk peringatan kepada sesama pengguna jalan. Ada etika atau tata krama tidak tertulis maupun tertulis soal membunyikan klakson.

Memakai klakson itu klakson harus memilki unsur empati yakni memposisikan diri sendiri sebagai orang lain yang mendengar suara klakson itu.

Layaknya orang yang berbicara, penggunaan klakson menunjukan tingkat kesopanan seorang pengendara dalam berkomunikasi dengan pengendara lain. Dinas Perhubungan dan Kepolisian Republik Indonesia juga telah membuat rambu dilarang membunyikan klakson. Biasanya, rambu-rambu ini terpasang di sekitar tempat ibadah atau sekolah.

Saat membunyikan klakson sebaiknya jangan sampai mengganggu pengendara lain. Mereka bisa saja kaget dan kehilangan fokus, atau parahnya lagi tersinggung karena suaranya.

Misalnya Anda akan menyalip kendaraan lain, bunyikan klakson sekali atau dua kali dengan durasi pendek dan kedipkan lampu dim. Pengemudi di depan akan paham bila Anda akan menyalip, sehingga dia menjaga posisinya dan memberi jalan.

Kadang, masih ada pengemudi lain yang tidak sadar bahwa mobilnya akan disalip. Pengemudi seperti ini terlalu fokus ke depan dan tidak memperhatikan spion. Setelah menyalip, bunyikan klakson pendek sekali sebagai tanda terima kasih. Umumnya, Anda akan mendapat jawaban dengan bunyi klakson juga.

Anda juga bisa memperingatkan pengguna jalan lain yang salah atau berpotensi membahayakan. Caranya dengan membunyikan klakson satu kali agak panjang.

Anda juga bisa memberi peringatan pengguna jalan lain dengan membunyikan klakson saat melewati jalur pegunungan yang berliku atau jarak pandang terbatas. Bunyikan klakson agak panjang dua kali, biasanya kendaraan dari arah berlawanan akan membalas klakson.

Waktu yang Tidak Tepat Membunyikan Klakson

Klakson mobil jadi salah satu alat komunikasi sekaligus tanda peringatan di jalan raya. Oleh karena itu, nada klakson harus disesuaikan dengan kondisi pesan yang disampaikan. Jangan sampai Anda dicap arogan karena membunyikan klakson seenaknya.

Klakson dengan nada panjang yang berulang-ulang akan terdengar seperti orang cerewet atau membentak. Banyak kasus perselisihan di jalan raya akibat cara membunyikan klakson yang salah.

Di kota besar tingkat stres pengendara di jalan raya cukup tinggi akibat terlalu sering mendengar suara klakson yang berlebihan. Hal ini bisa berpotensi gugup dan hilang konsentrasi saat mengemudi sehingga menyebabkan kecelakaan.

Manusia normal yang mendengar suara lebih dari 20-20.000Hz bisa merusak pendengaran. Gejala awal biasanya telinga berdengung, kemudian diikuti oleh menurunnya kemampuan pendengaran.

Proses fisiologi jaringan otot dalam tubuh manusia akan lebih mudah terganggu di usia tua.  Ini diperparah bila terlalu sering mendengarkan suara bising. (dna)

Tutus Subronto

Tutus Subronto memulai karirnya di dunia otomotif sebagai jurnalis di Media Indonesia. Sejak 2008, telah meliput beragam kegiatan otomotif nasional. Terhitung Januari 2014 masuk sebagai tim Content Writer di Carmudi Indonesia. Kini terlibat di tim editorial Journal Carmudi Indonesia untuk mengulas dan publikasikan berita-berita otomotif terbaru. Email: [email protected]

Related Posts