Berita

Harus Tahu, Ini Beda Teknologi e-Power Milik Nissan dengan Hybrid

Jakarta – Kicks e-Power menjadi mobil elektrifikasi pertama dengan teknologi e-Power yang dipasarkan oleh Nissan di Indonesia. Kehadiran Kicks e-Power untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang ingin merasakan sensasi berkendara menggunakan kendaraan listrik murni, tapi tidak perlu repot mengisi ulang daya baterai.

Tidak sedikit yang beranggapan teknologi e-Power yang disematkan pada Kicks sama dengan hybrid. Patokannya, karena baik e-Power maupun hybrid sama-sama memiliki mesin konvensional berbahan bakar bensin.

Teknologi e-Power Nissan

Meluncur September, Nissan Kicks e-Power sudah dikirim ke konsumen (Foto: Nissan)

Namun, nyatanya jika ditelurusi lebih dalam lagi, teknologi e-Power milik Nissan berbeda dengan hybrid.

“Jadi teknologi e-Power ini semua motor penggeraknya digerakkan oleh baterai listrik dan enggak perlu lagi melakukan charging baterai. Di dalam mobil sudah ada mesin kecil pakai bensin yang otomatis dia (mesin) hidup untuk ngecas kalau daya baterainya berkurang,” ungkap Evensius Go President Director PT Nissan Motor Distributor Indonesia (NMDI), Evensius Go dalam acara Ngovsan Forwot bersama Nissan Indonesia, Rabu (6/10/2021).

Lebih lanjut mengenai perbedaan teknologi e-Power dengan hybrid, Bagus Susanto selaku Nissan Representative Director menjelaskannya secara singkat.

Perbedaan Teknologi e-Power dan Hybrid

Menurut Bagus setidaknya ada dua hal yang menjadi pembeda antara teknologi e-Power dengan hybrid, yaitu dari segi arsitektur teknologinya dan performa.

Arsitektur Teknologi

Teknologi e-Power dirancang bangun berdasarkan teknologi Battery Electric Vehicle (BEV). Di mana kendaraan digerakkan sepenuhnya oleh motor listrik.

Dalam rangkaian teknologi tersebut terdapat mesin bensin berkapasitas kecil yang fungsinya adalah untuk menggantikan kebutuhan eksternal charging, sehingga kapasitas mesin tidak perlu besar.

Hasil Riset Mobil Listrik

Teknologi e-Power (Foto: Nissan)

“Seperti misalnya, Nisaan Kicks e-Power, mesin bensinnya itu kapasitasnya hanya 1,2 liter saja. Namun, demikian ini tidak mengurangi performa daripada kendaraan tersebut. Kenapa, karena setiap saat atau 100% kendaraan tersebut digerakkan oleh sebuah motor listrik,” terang Bagus.

Sementara mobil berteknologi hybrid, arsitekturnya mengadopsi pada mobil konvensional dengan mesin bensin. Melalui teknologi arsitektur mobil bensin dimasukkan sebuah motor listrik dan baterai yang bisa menggerakkkan kendaraan dalam kurun waktu tertentu.

Sehingga kendaraan tersebut digerakkan secara bergantian.

“Kadang digerakkan oleh mesin bensinnya, kadang digerakkan oleh motor listrik yang power-nya berasal dari baterai di dalam kendaraan tersebut,” sambungnya.

Performa

Dari segi performa antara teknologi e-Power dengan hybrid jelas berbeda. Dijelaskan Bagus, teknologi e-Power digerakkan oleh 100 persen motor listrik maka karakteristik performa dari kendaraan lebih mendekati karakter performa mengendarai mobil listrik murni.

Ilustrasi

Ilustrasi komponen dalam pada mobil sedan hybrid.Foto/Carmudi Indonesia/Ben

Sementara, pada mobil berteknologi hybrid, pengemudi masih bisa merasakan perbedaan pergerakan kendaraan ketika digerakkan oleh mesin bensin atau motor listrik.

“Itu yang membedakan kenapa dalam teknologi mobil hybrid, kapasitas mesin bensin itu sangat penting. Jadi kalau mesin di teknologi hybrid menggunakan mesin bensin yang kapasitasnya kecil, maka tentunya memberikan power yang kurang maksimal kepada pengendara,” pungkas dia.

Baca Juga: 

 

Penulis: Santo Sirait

Santo Sirait

Santo Sirait sebelumnya Jurnalis di Okezone.com, pindah ke Carmudi.co.id sebagai Reporter pada November 2017. Fokus di sektor otomotif, terutama meliput tentang mobil, motor dan industri otomotif. Santo dapat dihubungi di [email protected]

Related Posts