Berita

Honda: Robot Belum Bisa Gantikan Manusia Dalam Produksi Mobil

Tokyo – Pabrikan kendaraan terus berinovasi dalam proses produksi supaya makin cepat dan efisien. Salah satu caranya dengan memakai teknologi robot dalam produksi mobil. Namun demikian, manusia tetap harus campur tangan dalam pekerjaan di line produksi.

Sebagaimana dikutip Bloomberg, Honda memproduksi Accord dengan menggabungkan proses robotik dan manusia. Peran serta manusia dibutuhkan dalam proses produksi yang mendetail, karena membutuhkan kemampuan panca indra.

Sudah sejak tiga dekade silam, Honda Motor Corporation melakukan integrasi produksi antara robot dan manusia dan proses tersebut tidak akan berubah setidaknya dalam waktu dekat.

“Kita tidak bisa menemukan apapun yang bisa menggantikan kemampuan indra manusia seperti sentuhan, penglihatan, pendengaran, dan penciuman,” ungkap Tom Shoupe, Chief Operating Officer unit manufaktur Honda Ohio.

Proses manual dengan tenaga manusia ini juga dilakukan oleh Toyota dalam line produksi Camry di pabriknya di Georgetown, Kentucky, Amerika Serikat. Pabrikan otomotif sebenarnya masih mempercayakan peran serta manusia dalam produksi mobil-mobil premium atau mewah.

Manusia VS Robot pada Produksi Mobil

Markus Schaefer, kepala produksi di Mercedes-Benz, pada 2016 mengatakan bahwa produsen mobil itu lebih mengandalkan manusia dalam personalisasi yang diminta pelanggan kelas atas. Namun, peran serta manusia dalam produksi kendaraan dipastikan terus berkurang seiring otomatisasi.

Sebuah laporan McKinsey Global Institute dari bulan Desember lalu menemukan bahwa sebanyak 375 juta pekerja pabrik di seluruh dunia mungkin perlu beralih profesi. Sebab pada tahun 2030 proses robotik dalam industri semakin maju.

Produksi Mobil (foto: Bloomberg)

Peran serta robot dalam line produksi Honda di Amerika Serikat bertugas dalam proses pengelasan dan pengecatan. Perusahaan yang didirikan oleh Soichiro Honda ini bahkan menambah tempat pengelasan untuk membuat bodi Accord terbaru. Peran manusia dalam produksi Accord bertugas memasang baut suspensi belakang.

Situasi ini jelas kontras dengan apa yang dilakukan oleh Tesla Motors. Merek yang didirikan oleh Elon Musk ini bahkan ingin di hampir seluruh line produksi memakai teknologi robot. Manusia hanya bertugas sebagai operator yang menjalankan robot-robot itu.

“Masih ada banyak orang di pabrik, tapi yang mereka lakukan adalah merawat mesin, meningkatkan kemampuannya dalam produksi, atau mengatasi kerusakan. Tapi, dalam proses produksi itu sendiri pada dasarnya tidak dibutuhkan manusia,” kata Musk pada 2016 lalu. (dol)

Tutus Subronto

Tutus Subronto memulai karirnya di dunia otomotif sebagai jurnalis di Media Indonesia. Sejak 2008, telah meliput beragam kegiatan otomotif nasional. Terhitung Januari 2014 masuk sebagai tim Content Writer di Carmudi Indonesia. Kini terlibat di tim editorial Journal Carmudi Indonesia untuk mengulas dan publikasikan berita-berita otomotif terbaru. Email: [email protected]

Related Posts