Home » Berita » Imbas Pemilu dan Penutupan Jalan, Penjualan Mobil Domestik Terganggu

Imbas Pemilu dan Penutupan Jalan, Penjualan Mobil Domestik Terganggu

Pameran Otomotif Medan (POM) 2016
Suasana penyelenggaraan Pameran Otomotif Medan (POM) 2016

Jakarta – Diperkirakan sebagian produsen mobil di Indonesia mengalami penurunan penjualan pada Juni 2019 bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Penurunan penjualan mobil sudah dirasakan oleh PT Toyota Astra Motor (TAM). Berdasarkan data penjualan ritel yang dirilis oleh TAM tercatat hanya 22.100 unit mobil terjual pada Juni 2019. Angka tersebut turun dibanding Mei 2019 yang terjual sebanyak 31.800 unit.

Terkait penurunan penjualan mobil di Juni 2019, Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menganggap itu sebagai fenomena yang biasa. Menurutnya hal itu merupakan imbas dari pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) dan kejadian lain sebelum maupun pasca pemilu.

“Ini karena namanya tahun politik, otomtis kalau tahun politik kami lihat juga orang yang tadinya mau beli mobil jadi ditunda dengan alasan nanti saja tunggu aman dulu. Takutnya beli mobil baru kena lempar batu gara-gara lewat orang demo. Itu (penurunan penjualan) biasalah, kami sudah alami ini cukup lama,” kata Nangoi baru-baru ini di Jakarta.

Kendati adanya pergolakan jumlah mobil yang terjual dipasar domestik, tetapi Nangoi tetap yakin target produksi mobil tahun ini akan tetap terpacai. Apalagi tambah Nangoi pertengahan tahun ini ada pameran otomotif berskala internasional yang diharapkan bisa mendorong angka penjualan.

“Saya masih yakin target tahun ini 1,1 juta kendaraan harusnya masih bisa dicapai. Karena saya melihat ini (penurunan penjualan) adalah kejutan sesaat karena terjadinya tahun politik, terjadinya pemilihan umum, terjadinya aksi di Mahkamah Konstitusi (MK) dan segala macam. Seharusnya mulai bulan Juli ini mulai aman dan kita bisa kembali pulih, apalagi bulan ini ada GIIAS juga. Jadi tentunya kami akan lihat di enam bulan terakhir ini apakah masih bisa kita recover,” terang Nangoi.

Tidak Berimbas Pada Ekspor

Pemilu berimbas langsung pada penjualan mobil di pasar domestik, tapi tidak bagi pasar luar negeri. Nangoi mengatakan justru pengiriman mobil buatan Indonesia ke luar negeri membaik bahkan cenderung mengalami peningkatan dibanding tahun lalu.

“Yang patut kita lihat bahwa ekspor tumbuh dengan pesat. Jadi ini menunjukkan yang namanya kondisi politik di dalam negeri yang membuat konsumsi domestik terganggu tapi yang dikirim ke luar negeri masih tetap baik,” kata Nangoi.

Ekspor mobil Honda Brio (Foto: Dok Honda)

Dirinya memaparkan bahwa ekspor mobil di 2018 tumbuh sekira 14 dibanding 2017. Sedangkan untuk ekspor pada Januari-Mei 2019 meningkat 20 persen dibanding periode sama tahun lalu. ” Mudah-mudahan sampai akhir tahun ini kami menargetkan kalau bisa ekspor sekira 300 ribu unit sesuai dengan keinginan pemerintah, keingininan presiden Jokowi bahwa kita harus lebih konsentrasi ke arah ekspor supaya bisa menghasilkan devisa buat negara,” papar dia.

Peningkatan ini terjadi karena semakin banyaknya negara yang menjadi tujuan. Saat ini mobil-mobil buatan Indonesia yang terdiri dari berbagai merek dan tipe sudah dikirim ke 80 negara.

“Kenapa bisa tumbuh karena semakin banyak negara yang kita ekspor semakin banyak varian-varian kendaraan yang kita ekspor tentunya otomotif bisa tumbuh. Tentunya kita butuh dukungan dari pemerintah untuk membuka market baru dan dukungan dari prinsipal,” pungkas Nangoi.(dol)

Harley-Davidson Street 500
Previous post
Sabar, Motor 'Murah' Harley Davidson Bakal Masuk Indonesia 2021
Next post
Bersaing dengan Rush dan Terios, Ini Harga DFSK Glory 560 di Medan dan Padang