BeritaMobilReviewsSumber informasi

Jajal Langsung Mitsubishi Xpander Di Jalan Raya, Apakah Sebaik Tampangnya? (Part 1)

Jajal Mitsubishi Xpander

Carmudi Indonesia mendapat kesempatan menguji langsung Mitsubishi Xpander (Carmudi Indonesia/Rosano)

Penulis : Fransiscus Rosano Adi Prakoso

Jakarta – Mitsubishi memang tidak bohong saat gembar-gembor memperkenalkan konsep MPV XM Concept beberapa tahun silam. Kami kira, bakal seperti mayoritas pabrikan lainnya, versi produksi dari MPV berbentuk ‘nyeleneh’ tersebut akan kelihatan hambar dan cenderung membosankan, jauh dari versi konsepnya.

Well, ternyata tidak! Mitsubishi Xpander jelas terlihat tidak membosankan, berani, dan memang mirip dengan konsepnya. Jadi tak salah kalau kami bilang Xpander jadi Low MPV yang paling menarik di Indonesia saat ini.

Apalagi saat melihat antusiasme pengunjung di booth Mitsubishi kala ajang GIIAS 2017 yang tak pernah sepi, kami yakin mayoritas dari kalian juga setuju dengan pendapat tersebut.

Karena baru lini awal produksi, tentu belum banyak yang sempat merasakan produk dengan tagline “Next Generation MPV” ini.

Beberapa mungkin sudah, tapi kami yakin itu pun hanya mengelilingi area test drive di kala pameran atau mengelilingi sekitaran showroom saja.

Untungnya, Carmudi Indonesia mendapatkan kesempatan ekslusif, menjadi media yang melakukan uji coba langsung pesaing terbaru dari Toyota Avanza, Suzuki Ertiga dan Honda Mobilio ini untuk berkeliling Jakarta lebih dari 200 km.

Penasaran? Ini hasil jajal Mitsubishi Xpander oleh reviewer Carmudi.

Jajal Mitsubishi Xpander Varian Tertinggi

Selama tiga hari, Carmudi dipinjamkan satu unit varian tertinggi dari Xpander, yaitu Ultimate A/T yang dibanderol Rp245.350.000 on the road Jabodetabek.

Mengejutkannya karena unit yang dibalut warna Sterling Silver Metallic ini mendapatkan banyak perhatian di jalanan dibanding Low MPV lainnya yang pernah kami coba.

Namun bila Anda ingin mendapat perhatian lebih, “All Eyes on You”, warna Red Metallic yang hanya ada di varian Sport dan Ultimate kami sarankan jadi pilihan Anda.

Tentu kami tidak akan bahas lebih jauh soal desain yang sudah beberapa kali ditulis maupun bisa ditonton review 10 Hal-nya di Channel Youtube Carmudi Indonesia, yang bisa anda klik pada video di bawah ini.

Kali ini, kami akan fokus kepada bagaimana rasa Xpander ini untuk dikemudikan sehari-hari.

Jajal Mitsubishi Xpander diawali dengan menyalakan mesin yang cukup tekan tombol Start/Stop Engine saja sambil mengantungi kunci KOS (Keyless Operation System). Oh iya, fitur ini cuma tersedia pada varian Sport dan Ultimate.

Rasanya mengejutkan karena suara mesin 4N91 yang digunakan ternyata cukup tenang, dan saat idle tidak sampai menembus ke mobil.

Sekadar informasi, mesin 4N91 ini bukan jantung mekanis full baru. Melainkan sudah ada dari pertengahan tahun 2000-an dan sempat digunakan di unit Colt (hatchback) dan Lancer yang ada di Jepang.

Injak pedal gas agak dalam dari keadaan diam, akselerasi mesin 4-silinder berkapasitas 1.499 cc ini ternyata masih cukup terasa. Lumayan galak, meski memang tidak sampai seagresif tarikan bawah Suzuki Ertiga atau Honda Mobilio, lebih mirip karakter bawah Grand New Toyota Avanza yang sudah menggunakan seri mesin NR.

Jajal Mitsubishi Xpander

Mitsubishi Xpander tampak samping belakang (Carmudi Indonesia/Rosano)

Respon “Halus” Saat Akselerasi

Yang cukup kita suka, Xpander cenderung mudah memberi respon yang smooth alias halus ketika pedal gas hanya diinjak sedikit. Hal yang sudah kami ekspektasi di awal, mengingat angka tenaga 102 hp dan torsi 141 Nm jauh dari class leaders. Namun cukup mengganjal karena mesin itu dipasang ke bodi yang lebih besar dibanding seluruh kontender di kelasnya.

Menaikkan kecepatan dari sekitar 40 km/jam hingga 80 km/jam cukup jadi isu, kelemahan karakter bawah mesin Xpander yang sudah menggunakan teknologi MIVEC ini mulai terasa. Cukup sulit untuk menambah kecepatan, bahkan ketika kickdown pun raungan mesin terasa berat.

Apakah ini artinya Xpander lebih lambat dibanding Avanza, Ertiga dan Grand Livina? Tidak juga, hanya saja karakter akselerasi di putaran mesin rendah memang jauh lebih halus.

Oh iya, konsekuensi karakter mesin seperti ini juga membuat gaya berkendara ‘geradakan’ alias super agresif di jalanan dalam kota jadi tidak terlalu cocok.

Sayangnya, kami masih belum diperbolehkan untuk ‘menyiksa’ Baby Pajero Sport ini karena angka di odometer yang masih rendah banget saat kami mengambil unitnya, artinya masih dalam masa break in atau inreyen. Baru menempuh 19 km, bro!

Performa Transmisi 4-Speed

Jajal Mitsubishi Xpander

Reviewer Carmudi Indonesia saat melakukan uji coba Mitsubishi Xpander (Carmudi Indonesia/Rosano)

Lalu bagaimana soal transmisinya?

Jujur, unit pengganti gigi ini jadi yang paling membuat kami kecewa terhadap Xpander saat membaca kertas spesifikasi. Ternyata pemakaian di kehidupan nyatanya jauh lebih baik dibanding CVT yang digunakan di Mirage, Delica, maupun Outlander Sport sekalipun.

Transmisinya menggunakan jenis torque converter, punya 4-percepatan dan sistem overdrive off untuk menahan di putaran lebih tinggi.

Menekan pedal gas setengah dari keadaan berhenti, akan terasa perpindahan dari gigi 1 ke 2 cepat, sedangkan 2 ke 3 akan terasa cukup panjang dan gigi 4 jelas paling efektif untuk cruising santai.

Bertengger di 100 km/jam juga terasa rileks, karena putaran mesin cukup jauh dari kisaran 3.000 rpm, tepatnya di 2.500 rpm.

Perpindahan gigi naik alias upshift terasa sangat halus. Selama pedal gas tidak diinjak terlalu dalam yang membuat akselerasinya bekerja terlalu keras. Namun limit transmisi 4-speed ini akan langsung terasa ketika ‘disiksa’. Misalnya ketika kickdown yang akan langsung membuat putaran mesin naik berlebih tinggi.

Namun bila dibawa santai, perpindahannya terasa halus bak CVT. Sekaligus mengeleminasi kekurangan transmisi karet baja tersebut seperti yang ada di Mirage, Outlander Sport dan Delica. Dimana membuat akselerasi awal sangat-sangat berat.

Overall, karakter mesin dan transmisi dari Mitsubishi Xpander ini akan jauh lebih cocok untuk cruising santai alias comfort cruiser. Sehingga dibawa mengemudi rileks di jalan raya akan terasa cocok. Sedangkan yang ingin berlebih agresif di jalan dalam kota lebih baik dengan pilihan lainnya.

Penasaran apakah Xpander benar jadi yang ternyaman di kelasnya? Bagaimana konsumsi bahan bakar, peredaman suara dan handling-nya?

Tunggu di artikel selanjutnya ya….

Tutus Subronto

Tutus Subronto memulai karirnya di dunia otomotif sebagai jurnalis di Media Indonesia. Sejak 2008, telah meliput beragam kegiatan otomotif nasional. Terhitung Januari 2014 masuk sebagai tim Content Writer di Carmudi Indonesia. Kini terlibat di tim editorial Journal Carmudi Indonesia untuk mengulas dan publikasikan berita-berita otomotif terbaru. Email: [email protected]

Related Posts