Home » Berita » Kalah Lawan KPPU di PN Jakut dan MA, Honda Ngotot Tidak Melakukan Kartel

Kalah Lawan KPPU di PN Jakut dan MA, Honda Ngotot Tidak Melakukan Kartel

Jakarta – Akhir April 2019 Mahkamah Agung (MA) memutuskan untuk menolak kasasi yang diajukan PT Astra Honda Motor (AHM) dan PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) atas pengaturan harga atau kartel di segmen skuter matik bermesin 110 cc hingga 125 cc. Dugaan pengaturan harga yang dilakukan oleh dua produsen sepeda motor terbesar di Tanah Air diselidiki oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sejak 2016.

Setelah melalui berbagai proses penyelidikan, akhirnya pada Februari 2017 KPPU menyatakan bahwa Honda dan Yamaha bersalah telah melakukan kartel. Sebagai hukumannya Honda diharuskan membayar denda senilai Rp22,5 miliar sedagkan Yamaha Rp25 miliar. Tak puas dengan hasil putusan KPPU, kedua merek asal Jepang itu mengajukan permohonan banding ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara. Setelah melalui beberapa kali sidang dan berbagai pertimbangan, akhirnya sidang yang dipimpin hakim ketua Titus Tandi, SH, MH, menolak keberatan putusan KPPU dari pemohon Honda dan Yamaha.

Belum berhenti sampai disitu, Honda dan Yamaha mengajukan permohonan kasasi dugaan kartel hingga ke level MA. Hasilnya nihil, kedua merek yang sudah lama berada di Indonesia itu tetap dinyatakan bersalah. Meski putusan MA sudah keluar, tetapi salinannya belum diterima oleh Honda.

Pembelaan Honda

Setelah melalui proses hukum yang sangat panjang dan selalu kalah dari KPPU, pihak Honda tetap pada pendiriannya sejak awal yaitu tidak merasa melakukan kartel.

“Gini yang pertama pastinya kami tidak pernah melakukan pengaturan harga. Sudah pasti kami tidak pernah melakukan itu. Kedua tentu dengan putusan dari MA, kami sangat kecewa karena kami dari awal sudah yakin dari awal MA akan mengabulkan kasasi kita. Ketiga kami juga belum menerima salinan dari hasil putusan itu, sehingga secara detal kami belum tahu,” ujar Direktur Pemasaran AHM Thomas Wijaya di Kemayoran, Jakarta Pusat, pekan lalu Jumat (3/5/2019).

Thomas menambahkan sampai saat ini pihaknya masih belum mengerti kenapa MA menolak kasasi. Saat ini perusahaan belum menentukan sikap atau tindakan selanjutnya. Upaya hukum berikutnya baru bisa ditentukan ketika salinan putusan MA diterima.

“Jadi kenapa kasasi ditolak, faktornya apa? belum tahu. Tentu kami akan mempelajari setelah keluar hasil salinan resmi kami akan melihat tindakan langkah hukum apa yang akan kami ambil selanjutnya, apa nanti akan Peninjauan kembali (PK) dan selanjutnya,” tambah Thomas.

Honda Merasa Sangat Dirugikan

Sejak awal dituduh telah melakukan pengaturan harga skutik secara bersama-sama dengan Yamaha, Honda selalu membantahnya. Meski demikian Honda menolak untuk meyebut KPPU asal tuduh dalam kasus kartel ini.

“Ya kami tak pernah melakukan itu lah (kartel) intinya,” kata Thomas.

Yang jelas lanjut dia, efek dari tuduhan tersebut berimbas pada banyak hal termasuk bisnis roda dua di dalam negeri.

“Ya pasti karena akhirnya iklim dunia bisnis dan investasi jadi terdampak, kepastian hukumnya kok sudah menggerakkan ekonomi kita sudah punya puluhan ribu karyawan. Pekerja kita punya lima pabrik, malah dituntut sama sesuatu yang tak pernah kami lakukan,” tegas Thomas.

Seperti diketahui, Honda dan Yamaha dituduh telah melakukan pengaturan harga jual skuter matik 110 cc – 25 cc. Tuduhan tersebut disampaikan oleh KPPU berdasarkan bukti email dari Presiden Direktur YMIM Yoichiro Kojima yang dikirimkan ke tim internal YMIM pada 2014. Isinya soal harga jual sepeda motor Yamaha harus naik mengikuti harga yang dilakukan oleh Honda. Yoichiro juga memerintahkan supaya email tersebut dikirimkan juga ke pihak Honda.

Honda dan Yamaha terbukti melanggar Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Pada 20 Februari 2017 majelis komisi KPPU menghukum denda bagi Yamaha dan Honda dengan total Rp47,5 miliar.

Previous post
Tembus 771 SPK, Ini Mobil Wuling yang Paling Banyak Dipesan Selama IIMS 2019
DFSK Glory
Next post
Harga Sama, DFSK Yakin Glory 560 1.5L turbo dan 1.8L Tidak Akan Saling "Makan"