Sumber informasi

Kelebihan dan Kekurangan CVT, Transmisi yang Kian Populer pada Mobil Baru

Kelebihan dan kekurangan CVT banyak menjadi pertanyaan seiring keberadaannya yang kian populer pada mobil baru. Contoh terkini ialah penggunaannya pada mobil sejuta umat Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia.

Kelebihan dan kekurangan CVT mobil

Meski demikian, Continuous Variable Transmission (CVT) sebenarnya bukanlah barang baru. Sebuah literatur menyebut konsepnya sudah ada sejak tahun 1490 walaupun belum menggunakan sebutan seperti sekarang.

Sebagian kalangan menyebutnya step-less transmission, pulley transmission, bahkan one-speed transmission.

Penemu asal Amerika Serikat bernama Milton Reeves kemudian menggunakan transmisi semacam ini untuk gergaji mesin pada tahun 1879. Kemudian Daimer Benz mengajukan paten untuk CVT berbasis friction belt di Eropa pada 1886 dan di Amerika pada 1935.

Walau begitu sejarah mencatat mobil pertama yang menggunakan transmisi CVT ialah produk asal negeri Belanda, yaitu DAF 600 yang diperkenalkan kepada publik pada 1958. Jenis transmisi yang sama kemudian diadopsi model-model selanjutnya yang dibuat oleh pabrikan tersebut dan juga Volvo.

Perbedaan Transmisi CVT

Sebelum melihat kelebihan dan kekurangan CVT mari kupas dulu perbedaannya dengan transmisi otomatis biasa atau yang umumnya disingkat transmisi AT. Keduanya memiliki perbedaan besar terkait komponen-komponen yang digunakan sekaligus cara kerjanya.

Kelebihan dan kekurangan CVT

(Foto: JD Power)

Di satu sisi transmisi CVT memiliki komponen utama berupa sabuk baja (v-belt) dan puli. Terdapat dua jenis puli pada transmisi CVT, yakni drive pulley dan driven pulley. Puli yang terhubung pada sabuk baja tersebut dapat bergerak membesar atau mengecil menyesuaikan dengan putaran mesin.

Pergerakan tersebut pada akhirnya akan membuat diameter sabuk baja ikut berubah. Hal itulah yang kemudian berfungsi sebagai rasio gigi transmisi CVT.

Dengan kemampuan puli untuk bergerak secara luas tanpa hambatan maka transmisi CVT dapat menyuguhkan pengalaman berkendara yang halus saat diaplikasikan pada kendaraan bermotor.

Hal tersebut sangat berbeda dengan transmisi AT yang menggunakan komponen utama berupa torque converter dan planetary gear. Perpindahan gigi pada transmisi otomatis AT mengandalkan dorongan oli yang berasal dari valve body untuk menggerakkan input shaft.

Kelebihan Transmisi CVT

Pastinya bukan tanpa alasan pabrikan mobil baru saat ini seolah beramai-ramai menggunakan transmisi CVT untuk produknya.

all new avanza veloz

Ambil contoh Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia yang sejak diperkenalkan 18 tahun lalu menggunakan transmisi AT kini juga turut mengaplikasikannya. Di luar perkongsian dua merek Jepang tersebut, Mitsubishi juga melakukan hal yang sama untuk Xpander facelift.

Cek mobil baru Toyota Avanza harga spesial dari diler, klik link ini.

Itu artinya ketiga mobil tersebut mengikuti langkah yang diambil Honda Mobilio jauh lebih dulu. Mobil Low Multi Purpose Vehicle (LMPV) Honda tersebut sudah menggunakan transmisi CVT sejak 8 tahun yang lalu atau tepatnya mulai 2013 ketika pertama kali dirilis.

Dalam pemberitaan yang beredar, masing-masing pabrikan menyebut alasan yang mirip antara satu dengan yang lain terkait penggunaan transmisi CVT pada produknya. Faktor kenyamanan dan efisiensi bahan bakar sepertinya menjadi pertimbangan terbesar.

Pada satu sisi Toyota juga menyampaikan transmisi CVT memiliki bobot yang lebih ringan dibandingkan dengan transmisi otomatis AT. Seperti diketahui, pemangkasan bobot pada sebuah kendaraan berpotensi untuk meningkatkan performanya secara keseluruhan.

first drive new xpander

Terlepas dari semua itu, berikut beberapa poin kelebihan transmisi CVT, dirangkum dari situs web Suzuki Indonesia.

  • Tarikan halus saat berakselerasi
  • Mobil jadi lebih nyaman untuk dikendarai
  • Putaran mesin lebih stabil
  • Tenaga mesin tidak banyak yang terbuang
  • Konsumsi bahan bakar jadi lebih irit
  • Daya engine brake yang dihasilkan lebih besar

Kekurangan Transmisi CVT

Ulasan mengenai kelebihan dan kekurangan CVT ini tentunya juga akan melihat sisi minus dari penggunaan transmisi sabuk baja tersebut.

Mesti diakui mengendarai mobil dengan transmisi CVT memang cukup nikmat. Bukan hanya karena tidak perlu memindah-mindahkan tuas transmisi, namun juga karena tarikannya yang mulus.

Tapi di samping itu calon konsumen juga wajib tahu beberapa hal yang menjadi kekurangannya. Sudah bukan rahasia lagi transmisi CVT bisa menguras kantong seandainya mengalami kerusakan. Hal ini disebabkan rancangannya yang bersifat satu kesatuan.

Dengan kata lain jika terdapat kerusakan terutama pada puli atau sabuk bajanya maka mesti dilakukan penggantian secara keseluruhan. Tidak bisa dilakukan penggantian hanya pulinya saja atau sabuk bajanya saja.

Hal tersebut pada akhirnya membuat biaya yang dibutuhkan akan mencapai belasan bahkan puluhan juta untuk mobil yang kelasnya premium.

Situasi ini berbanding terbalik dengan transmisi otomatis AT. Perbaikan transmisi semacam ini bisa jadi lebih murah karena komponennya bisa diganti satuan.

Meski demikian calon konsumen sebenarnya tidak perlu takut apalagi alergi terhadap mobil yang menggunakan transmisi CVT. Karena umumnya kerusakan parah dipicu perawatan yang kurang baik dan minimnya pengetahuan tentang cara yang benar dalam menggunakannya.

Jika kedua hal tersebut dihindari kemungkinan besar transmisi CVT akan baik-baik saja dan awet. Terlebih lagi perkembangan dalam industri otomotif membuat transmisi CVT masa kini makin bagus.

Di samping poin yang sudah disebutkan di atas, masih ada beberapa hal yang juga kerap dinilai sebagai kelemahan transmisi CVT, seperti dirangkum dari situs web Daihatsu berikut ini.

  • Biaya perawatan mahal
  • Torsi terbatas
  • Hanya untuk mobil yang penggunaannya ringan
  • Perbaikan tidak bisa dilakukan oleh sembarangan bengkel

Perawatan Transmisi CVT

Mengingat biaya perbaikannya yang berpotensi bikin kantong jebol maka pemilik mobil dengan transmisi CVT disarankan melakukan perawatan dengan baik. Salah satunya dengan cara mengganti oli transmisi secara rutin.

Mengenai intervalnya dapat berbeda-beda untuk setiap model kendaraan. Tapi sebagai contoh, penggantian oli transmisi CVT untuk Honda Mobilio adalah setiap 80.000 km menurut buku panduan pemilik.

Akan tetapi perlu diingat angka tersebut merupakan patokan maksimum. Biar lebih aman jangan menunggu jarak tempuh itu tercapai untuk menggantinya. Terlebih mobil sering terjebak kemacetan karena dalam kondisi lalu lintas semacam itu transmisi bekerja lebih berat.

Pada dasarnya oli transmisi CVT berguna untuk melumasi gesekan yang terjadi antara puli dan sabuk baja. Kualitas oli yang sudah menurun dipastikan akan membuat friksi antara keduanya menjadi berlebihan.

Jika kondisi tersebut sampai terjadi maka permukaan puli akan tergerus. Dalam beberapa kasus sabuk baja yang digunakan pun bisa mengalami putus.

Penting juga dicermati untuk menggunakan oli atau pelumas khusus transmisi CVT, bukan untuk otomatis AT. Jangan sampai salah memilih oli karena karakter pelumasannya berbeda.

Hal lain yang tak kalah penting dalam upaya merawat transmisi CVT ialah menggunakannya dengan benar. Hindari kebiasaan melakukan kickdown alias menginjak gas dalam-dalam secara mendadak biar usia CVT lebih awet.

Di samping itu pengendara juga perlu lihat-lihat medan jalan yang akan dilalui. Saat tahu hendak melalui medan jalan yang berat maka pastikan dulu CVT dalam keadaan prima.

Kemudian agar kerjanya tidak terlalu berat, sebaiknya kurangi bobot bawaan jika mobil hendak diajak blusukan.

Pada akhirnya transmisi CVT hadir untuk memberikan kenyamanan dan efisiensi bahan bakar. Walaupun itu artinya ada beberapa hal yang menjadi kompensasinya.

Penulis: Mada Prastya

Editor: Tutus Subronto

Mada Prastya

Bergabung sebagai penulis di Carmudi Indonesia sejak Februari 2021. Menyukai kendaraan roda dua karena simpel, cepat, dan memberi rasa kebebasan dalam berkendara. Email: [email protected]

Related Posts