Home » Sumber informasi » Catat Nih! Kerugian Menggunakan Bensin Jenis Premium pada Mobil

Catat Nih! Kerugian Menggunakan Bensin Jenis Premium pada Mobil

Komunitas Honda Mobilio Ikut Uji Emisi

Jakarta – Baru-baru ini sempat ramai dibicarakan soal PT Pertamina akan menghapus Bahan Bakar Jenis (BBM) Premium. Alasannya, bensin jenis Premium memiliki kerugian lantaran angka oktan rendah dan dinilai tidak ramah lingkungan.

Tak cuma itu, alasan lainnya karena Premium tidak sesuai standar Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No 20 Tahun 2017. Permen ini mengatur tentang standar baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor yang harus sesuai standar Euro4.

Sehingga BBM yang digunakan untuk uji emisi minimal mengikuti Research Octane Number (RON) 91 atau CN minimal 51. Sementara BBM jenis Pertalite dan Premium memiliki RON dibawah 91.

Di sisi lain, Remigius Choerniadi Tomo Manager Technical and Fuel Retail Marketing PT Pertamina dalam webinar Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), menjelaskan penggunaan Premium secara terus menerus pada mobil akan lebih banyak menghasilkan kerugian.

Kerugian Penggunaan Bensin Premium

Lebih lanjut, berikut pemaparan singkat Choerniadi mengenai kerugian menggunakan bensin Premium yang memiliki RON 88:

Lebih Boros dan Gas Buang Lebih Kotor

Premium hanya bisa digunakan untuk mesin bensin dengan rasio kompresi yang rendah. Kerugian mesin bensin dengan rasio kompresi yang rendah adalah power density mesin ikut rendah. Akibatnya, fuel economy tidak optimal serta emisi gas buang lebih kotor.

“Umumnya pabrikan mobil saat ini menggunakan compression ratio yang sudah tinggi. Sudah jarang mobil-mobil modern menggunakan compression ratio yang rendah. Kalau menggunakan compression ratio yang rendah maka power density ikut rendah akibatnya fuel economy yang dinyatakan dalam satuan kilometer per liter (km/L), rendah dan juga emisi gas buang lebih polutif,” jelas Choerniadi, di Jakarta, Sabtu (27/6/2020).

Bikin Rusak Piston

Premium yang dipaksakan untuk mesin bensin dengan rasio kompresi yang tinggi maka akan terjadi knocking atau denotasi yang berakibat pada emisi yang semakin polutif. Selain itu dalam jangka panjang akan merusak piston lantaran daya menurun sehingga mengurangi kenyamanan penumpang.

“Knocking adalah dua tumbukan di dalam ruang bakar sehingga menyebabkan penurunan power pada mesin mobil. Akibat lainnya polusi lebih tinggi dan piston mobil mudah rusak,” sambungnya.

mesin diesel
Asap yang dikeluarkan dari mobil bermesin diesel (Dok.istimewa)

Hanya Cocok untuk Mesin Standar Emisi Euro1

Premium hanya cocok digunakan untuk mesin bensin dengan teknologi mesin bensin Euro1 yang emisi buangnya sangat polutif. Besaran polusi udara CO (Carbon monoxide), NOx (nitrogen oxides), dan HC (hydrocarbons) yang bisa ditekan jika beralih dari mesin dengan standar emisi Euro1 ke Euro4 sebesar 93,5%.

“Kalau 100 persen bisa dicapai dengan menggunakan mobil listrik. Euro1 adalah paling polutif maka semakin besar Euro-nya maka emisi gas buang semakin bersahabat dengan lingkungan karbon yang dikeluarkan makin rendah,” tutur Choerniadi.

Gas Buang Lebih Polutif

BBM jenis Premium jika dipaksakan digunakan di mesin bensin dengan standar emisi Euro3 atau Euro4 maka three-way catalysts-nya yang berfungsi untuk menurunkan emisi hydrocarbons, carbon monoxide, dan nitrogen oxides akan turun efektifitasnya sehingga gas buangnya akan lebih polutif.

 

Penulis: Santo Sirait

Editor: Dimas

Baca Juga:

GAIKINDO Minta Implementasi Euro4 Kendaraan Diesel Diundur

Previous post
GAIKINDO Minta Implementasi Euro4 Kendaraan Diesel Diundur
Kawasaki kembali memproduksi silinder head motor lawas
Next post
Kawasaki Mulai Produksi Silinder Head Mesin Motor Jadul