Home » Berita » Konsistensi yang Terbayar Setelah Tiga Warsa Wuling di Indonesia

Konsistensi yang Terbayar Setelah Tiga Warsa Wuling di Indonesia

Jakarta – Besarnya potensi pasar otomotif Indonesia memang bisa dianggap seperti manisnya gula yang mengundang semut. Tak salah kalau banyak pabrikan otomotif kelas dunia yang berbondong-bondong memasuki Indonesia, yang memang memiliki volume pasar terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Beragam industri otomotif dari Jepang, Jerman, Korea, dan yang terakhir Cina sudah masuk di Indonesia. Bahkan pabrikan otomotif Cina ini dapat memberikan kualitas yang baik dengan harga bersaing. Terlebih lagi komponen kendaraan mayoritas berasal dari komponen lokal.

Kehadiran kendaraan produksi pabrikan Cina itu tentu memberikan pilihan bagi publik di Tanah Air. Memang, ini bukan kali pertama merek Cina masuk ke Indonesia. Ini berbeda dengan yang beberapa tahun lalu membuat kecewa konsumen Tanah Air. Baik terkait kualitas dan after sales.

Ya, PT SAIC General Motor Wuling (SGMW) dengan serius merambah dan memperlebar pasar otomotif Indonesia. Keseriusan Wuling terlihat dari investasi awal yang mereka lakukan dengan menggelontorkan USD 700 juta (sekitar Rp 9,3 triliun).

Pabrik ini menciptakan rantai industri hulu dan hilir. Hal ini sekaligus memperlihatkan optmisme Wuling di pasar Indonesia. Bukan hal mudah bagi Wuling hingga bisa meraih capaian positif hingga kini.

Tahun 2020 menjadi momentum penting bagi PT SGMW Motor Indonesia, karena pada 6 April 2020 kemarin, merek Wuling genap 1000 hari beraktivitas di Tanah Air. Ini bukan waktu yang singkat bagi Wuling untuk melakukan strategi multiplier efek dalam meraih pasar.

Perkuatan jaringan dan selalu memberikan inovasi serta wara baru bisa dikatakan multiplier efek yang jitu, apalagi ditambah dengan harga yang “ramah” bagi konsumen Indonesia. Nah, ini juga yang mengikis image merek Cina yang negatif dan dipandang sebelah mata.

Going Straight and Focus

Wuling Motors tidak tiba-tiba muncul begitu saja dan menjual produknya, namun mereka melalui sebuah riset yang panjang untuk mengenalkan produk kepada konsumen untuk memberikan value yang optimal.

Di tahap awal, Wuling menyasar segmen mobil penumpang kecil (low multipurpose vehicle, MPV), dimana di Indonesia sangat besar “kue” yang menjadi minat konsumen Indonesia. Ya, di segmen harus diakui menguasai pasar paling besar.

Bahkan beberapa model low MPV saat itu antara lain Honda Mobilio, Chevrolet Spin, Daihatsu Xenia, Mazda VX-1, Nissan Livina, Suzuki Ertiga, Toyota Avanza. Seakan tak gentar Wuling berhadapan dan berkompetisi dari pemain-pemain lama yang sudah lebih dulu “besar” di pasar otomotif Indonesia.

Dengan penuh rasa optimistis Wuling berhasil bertahan dan bahkan melampaui target, ini yang membuat beberapa merek pada akhirnya menyerah. Rentetan strategi yang dirancang membuahkan hasil positif dalam langkah selanjutnya.

Diler Wuling
Diler baru Wuling yang ada di Palembang. Foto/Wuling.

Adanya pabrik dan ketelatenan melebarkan jaringan menunjukkan keseriusan Wuling di Tanah Air. Bahkan hampir semua memiliki konsep 3S (Sales, Service, dan Spare Part). Salah satu faktor kesuksesan pemasaran mobil di Indonesia adalah ke-tersedian jaringan. Kesiapan diler aftersales diperlukan guna memberikan pelayanan yang maksimal kepada konsumen.

Wuling tak mau menimbulkan kebimbangan konsumen, apalagi merek baru dari negara yang reputasinya tak diperhitungkan dan kurang bagus di Indonesia, bukan sekadar merek yang hit and run.

Bisadikatakan produk pertama dari Wuling yaitu Confero yang meluncur pada awal Agustus 2017 tak mengecewakan. Senyuman yang “menggairahkan” sudah pasti ada pada jajaran petinggi Wuling Motors dan ini menjadi salah satu memotivasi Wuling terus berkembang. Dalam catatannya hingga akhir 2017 sudah 5.050 unit Wuling Confero keluar dari pabrik yang terjual.

Langkah Pasti dan Inovasi

Setelah menghadirkan Confero, Wuling meluncurkan Cortez pada 8 Februari 2018 lalu dilanjutkan dengan Cortez 1.5 pada 19 April 2018. Masih bermain di segmen Medium MPV, Cortez coba mengunggulkan beberapa fitur yang tidak ada di kompetitornya, seperti keberadaan sunroof dan TPMS (Tire Pressure Monitoring System).

Pada tahun yang sama tepatnya November atau 484 hari Wuling di Indonesia, Wuling menjutkan geliatnya dengan meluncurkan Formo dengan menkonfersi Confero yang dijadikan moda pengangkut barang (minivan dan blind van).

Wuling motors masih konsisten salah satu kunci keberhasilannya yaitu menawarkan produk tak mengecewakan sesuai dengan kebutuhan kosumen juga harganya yang kompetitif tapi tidak murahan. Biaya perawatan yang dibutuhkan diklaim sangat minim alias produk ini value for money.

Wuling Almaz 7 seater
Wuling Almaz 7 seater sekarang sudah bisa dipesan melalui diler resmi. (Foto: Carmudi/Santo)

Merek Wuling tak bisa diremehkan, karena pangsa pasarnya perlahan tapi pasti menanjak dari 0,5 menjadi 1,5 persen di 2018. Penjualannya secara wholesales juga naik hampir tiga kali lipat.

Wuling sadar betul kalau capaian ini harus dirawat dengan baik untuk meningkatkan tren penjualan. Atas dasar itu, kembali lahir produk unggulan mereka, Wuling Almaz pada 27 Februari 2019. erlanjut pada 18 Juli 2019 atau hari ke-737, Wuling meluncurkan teknologi WIND sebagai bagian percepatan teknologi dari Wuling Motors bagi masyarakat Indonesia.

Product Planning Wuling Motors, Danang Wiratmoko sempat mengatakan kalau ini yang disebut value. Wuling hadir memang mentitik beratkan dari value. Hadirnya voice command Almaz yang menggunakan bahasa Indonesia itu juga menjadi nilai lebih dari sebuah produk yang bisa menjadi pilihan.

Boleh dibilang pada model ini, Wuling sukses mendobrak pasar dengan menghadirkan SUV yang affordable dan lebih value for money. Momen kepercayaan sudah di tangan, saatnya melancarkan penjualan juga pendekatan produk.

Basis Produksi ASEAN

Bahkan masuk di tahun ketiga sejak kehadiran pertamannya di Indonesia, Wuling yang mempunyai pabrik di Indonesia juga melirik pasar Internasional untuk melakukan ekspor. Salah satunya adalah Thailand dengan model yang dikirim adalah SUV namun dengan brand Chevrolet. Meskipun akhirnya mobil buatan Wuling yang dibranbding menjadi Chevrolet Captifa akhirnya gulung tikar di Thailand, namun total ekspor Wuling sudah mencapai 3.104 unit hingga Maret 2020.

Catatan Wuling Motors di Indonesia dalam waktu kurang dari 3 tahun sudah menghadirkan empat model, mulai dari Confero, Cortez, Formo kemudian Almaz. Hingga saat ini Wuling seri Confero menjadi tulang punggung penjualan dengan angka 26.550 unit, disusul Wuling Almaz 9.903 unit, Wuling seri Cortez 9.424 lalu Wuling Formo 485 unit.

Tamasya Ke Pabrik Wuling Motors, Begini Proses Produksi Cortez (Foto: Dok Wuling Motors)

Selama 1.000 hari kerja keras Wuling mendapatkan hasil positif sebagai pemain baru di Indonesia. Namun persaingan dan inovasi harus tetap dilakukan agar bisa bertahan dan lebih dalam lagi mendapatkan kepercayaan konsumen. Bahkan selain penjualan yang terus meningkat, keberadaan komunitas pecinta mobil dengan lambang lima berlian ini juga mencapai ribuan.

Kondisi sekarang alhasil merek Cina tak bisa lagi diremehkan, kepercayaan konsumen Indonesia lambat laun akan mobil merek Cina berangsur positif. Bahkan sebutan mobil kaleng-kaleng terkikis dengan sendirinya.

Rem tromol pada sepeda motor
Previous post
Perawatan Rem Motor, Jaga Kemampuan Pakemnya Tetap Optimal
Pabrik Suzuki
Next post
Imbas Corona yang Meluas, Pabrik Suzuki Kembali Berhenti Operasi