Sumber informasiTips dan Trik

Membedakan Karakter Mobil dengan Supercharger dan Turbocharger

Jakarta – Mobil-mobil keluaran terbaru umumnya memakai mesin dengan kapasitas kecil, namun sanggup menghasilkan tenaga yang besar. Rahasia dibalik besarnya tenaga itu berasal dari komponen turbo. Supercharger dan turbocharger dirancang untuk meningkatkan tenaga, dengan peningkatan yang sangat besar.

Keduanya menambah tenaga dengan memaksa lebih banyak udara ke dalam silinder. Turbocharger memakai exhaust turbine dan intake compressor. Sementara supercharger bergantung pada putaran mesin, sehingga lebih memberikan efek layaknya naturally aspirated.

Dua jenis dopping mesin ini jadi perdebatan diantara penggemar otomotif dan kecepatan, mana yang lebih baik. Antara superharger dan turbocharger memiliki perbedaan dari cara kerja maupun karakter tenaga yang dihasilkan.

Dalam video berjudul ‘Turbochargers vs Superchargers – Which Is Better?’ yang diunggah akun Engineering Explained di Youtube akan menjelaskan keunggulan dan kelemahan masing-masing antara supercharger dan turbocharger.

Perbedaan Mendasar Supercharged dan Turbocharged

Jason Fenske sebagai pembawa acara menjelaskan soal mesin supercharged akan memberikan tenaga secara lebih linier. Supercharger bekerja tanpa lag, bergantung pada putaran mesin yang menghisap udara, yang kemudian menambah tenaga ke mesin.

Dengan demikian, supercharger begitu bergantung pada putaran mesin. Saat pedal gas diinjak, Anda mendapat dorongan tenaga yang cukup cepat dan tidak terjadi pada pemakaian turbocharger.

Sebaliknya, mesin turbocharged membangun tenaga secara eksponensial, yang berarti input throttle tidak secara langsung sesuai dengan keluaran mesin. Akan ada lag atau jeda dari tenaga yang keluar dengan saat pedal gas diinjak.

Turbocharger perlu dirancang terlebih dahulu, dimana tenaga puncak bakal muncul. Bisa di putaran awal berbarengan dengan torsi, menengah, atau bahkan putaran atas. Seiring bertambahnya tenaga, pengemudi tidak perlu semakin dalam menginjak pedal gas.

Fenske lebih cenderung memilih turbocharger karena sifatnya yang ramah lingkungan. Perangkat turbo akan menghisap udara dari emisi buang kemudian diolah kembali menjadi udara bersih yang disalurkan ke ruang bakar. Inilah yang digunakan untuk dopping tenaga ke mesin.

Gejala turbo lag ini pasti menimbulkan perasaan yang aneh bagi pengemudi yang tidak biasa. Tenaga mobil seakan muncul secara tersendat atau terlambat. Namun, keuntungan dari turbocharger adalah menambah tenaga sekaligus efisien pemakaian BBM.

Tutus Subronto

Tutus Subronto memulai karirnya di dunia otomotif sebagai jurnalis di Media Indonesia. Sejak 2008, telah meliput beragam kegiatan otomotif nasional. Terhitung Januari 2014 masuk sebagai tim Content Writer di Carmudi Indonesia. Kini terlibat di tim editorial Journal Carmudi Indonesia untuk mengulas dan publikasikan berita-berita otomotif terbaru. Email: [email protected]

Related Posts