Home » Sumber informasi » Membuat SIM untuk Difabel, Prosesnya Tidak Terlalu Sulit

Membuat SIM untuk Difabel, Prosesnya Tidak Terlalu Sulit

Ujian dalam SIM Difabel

Jakarta – Dalam berkendara, pihak Kepolisian telah memberikan kesempatan bagi kalangan difabel untuk menggunakan kendaraan bermotor. Persyaratannya tentu mereka harus memiliki atau membuat SIM D (Difabel). Dengan demikian, masyarakat penyandang disabilitas tetap bisa beraktivitas sebagaimana orang normal pada umumnya.

Hal ini juga telah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Pasal 80 tentang bentuk dan penggolongan SIM. Penyandang disabilitas diperbolehkan mengendarai sepeda motor khusus di jalan raya asalkan mengantongi SIM D.

Dikutip dari NTMC Polri, selama ini, penyandang difabel yang memilih untuk terus berusaha berkendara seperti orang lain pada umumnya mengalami kesulitan. Mereka bahkan sering terkena tilang karena tidak memiliki SIM. Sementara selama ini, SIM yang diterbitkan polisi hanya diperuntukkan bagi pengendara motor dengan tubuh normal.

Petugas saat memberikan pelayanan pembuatan SIM D ini tidak hanya melihat dari sisi pemohonnya saja atau difabel yang datang. Dalam proses pembuatan ini juga melihat sarana kendaraan bermotor yang digunakan harus sesuai standar. Diharapkan, setelah punya SIM tidak mengabaikan keselamatan di jalan.

Kalian sebagai penyandang disabilitas tidak perlu khawatir. Sebab, unit yang digunakan dalam ujian praktik juga telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan kebutuhan khusus peserta. Untuk itu, sebelum membuat SIM Difabel alangkah baiknya kalian mempersiapkan diri untuk ujian teori dan praktik.

Kedua ujian itu saling berhubungan. Dengan melewati ujian teori dan praktik maka orang tersebut telah memahami peraturan lalu lintas dan terampil mengemudikan kendaraan bermotor di berbagai situasi dan kondisi.

Kendaraan untuk SIM D berbeda dengan SIM C, yaitu berupa sepeda motor yang telah dimodifikasi menjadi roda tiga. Sementara itu, untuk lokasi pengujian SIM D ini dilakukan di tempat yang sama dengan SIM A dan C. Materi ujian baik teori ataupun praktik ini sama seperti pemohon SIM C.

Persyaratan Membuat SIM Difabel

Adanya fasilitas bagi pemohon SIM D ini tentu mendapat sambutan baik dari para penyandang disabilitas. Dengan adanya SIM D, kalangan disabilitas dapat menjalani kehidupan seperti masyarakat pada umumnya khususnya dalam berkendaraan.

Mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2016, biaya untuk pembuatan SIM D lebih murah ketimbang golongan SIM lainnya. Biaya penerbitan SIM D sebesar Rp50 ribu, sedangkan untuk perpanjangan dikenai Rp30 ribu.

Kemudian, persyaratan dasar untuk mendapatkan SIM D sama seperti SIM A dan C. Pemohon harus berusia lebih dari 17 tahun, memenuhi syarat administratif memiliki KTP, dan cek kesehatan. Hal terpenting, pemohon dengan kondisi disabilitas tetap memiliki penglihatan dan pendengaran normal.

Prosedur yang perlu dilakukan oleh pemohon untuk membuat SIM D ini perlu memberikan surat keterangan kesehatan dokter, bukti pembayaran PNBP SIM dari bank, mengisi formulir pemohon penerbitan SIM, dan melakukan pendaftaran. Faktor kesehatan jasmani yang perlu diperhatikan mencakup penglihatan, pendengaran, dan fisik atau perawakan.

Artinya, kalangan difabel dengan kondisi tuna netra atau tuna rungu tidak bisa mengajukan pembuatan SIM D. Mereka tidak memiliki kemampuan melihat atau mendengar yang baik sehingga akan lebih berisiko saat berkendara. Disabilitas tuna rungu dianggap tidak bisa berkomunikasi dengan baik karena butuh kepekaan pendengaran saat berkendara di jalan raya.

Pendaftaran untuk membuat SIM D ini tidak bisa dilakukan via online, artinya pemohon harus datang langsung ke Satpas SIM di kota masing-masing. Saat akan mengikuti ujian SIM, kita perlu membawa fotokopi KTP serta surat keterangan sehat jasmani baik dari puskesmas atau klinik kesehatan di Satpas SIM.

Prosedur Ujian SIM D

Dalam proses membuat SIM Difabel ini, kita akan melewati ujian teori maupun praktik. Materi ujiannya sama persis seperti ujian SIM C, dan yang membedakan hanyalah jenis kendaraan saat ujian praktik. Materi ujian teori bisa kita pelajari dari web korlantas.polri.go.id atau buku-buku tentang aturan lalu lintas.

Soal yang diujikan berupa wawasan umum berkendara di jalan. Dalam ujian teori ini peserta hanya diberikan waktu selama 15 menit untuk menjawab 30 soal. Kriteria kelulusan dalam ujian teori SIM D yaitu harus menjawab 21 soal dengan benar, atau hanya menjawab 9 soal yang salah dengan skor minimal 7.

Setelah melakukan ujian teori, kita diminta menunggu koreksi dan hasil ujian tersebut oleh tim pengawas. Hasil ujian teori diumumkan sekitar 15-30 menit kemudian. Apabila lulus, peserta dipersilakan mengikuti ujian praktik. Apabila tidak lulus ujian teori, petugas akan meminta untuk kembali datang ke ujian ulang sekitar dua minggu berikutnya.

Contoh Soal Ujian SIM C

Salah satu contoh soal ujian misalnya begini:

Dalam suatu persimpangan jalan, terdapat alat pemberi isyarat lalu lintas, polisi lalu lintas, dan polisi pamong praja. Manakah yang harus diikuti oleh pengguna jalan?

a. Alat Pemberi Isyarat Lalu-lintas
b. Polisi Lalu lintas
c. Polisi Pamong Praja

Jawabannya adalah: b. Polisi Lalu lintas

Ujian Praktik SIM Difabel Sedikit Sulit

Proses Ujian Praktik SIM Difabel

Proses selanjutnya setelah lulus ujian teori yaitu mengikuti ujian praktik. Dalam permohonan SIM D ini, peserta akan memakai kendaraan khusus yaitu sepeda motor dengan roda tiga. Jalur yang dilalui tetap sama seperti SIM C untuk motor namun jalurnya dibuat lebih lebar.

Dengan kendaraan roda tiga, peserta disabilitas tentunya tidak mengikuti ujian keseimbangan ketika berkendara dalam kecepatan rendah. Materi berkendara yaitu tes ketangkasan melewati lintasan slalom, lintasan angka 8, dan lintasan putar balik. Terakhir, ada ujian kecekatan yang bertujuan untuk menilai kecakapan pemotor ketika harus mengambil keputusan mendadak saat berkendara.

Perlu kalian ketahui, ujian praktik ini sebenarnya cukup sulit karena butuh ketelitian dan fokus tinggi. Karena tidak dituntut menilai soal keseimbangan, maka pengendara difabel diminta lebih cekatan dan lincah tanpa keluar jalur. Kita perlu memperhatikan sisi samping kendaraan supaya tetap dalam jalurnya.

Bagian yang tak kalah sulit yaitu bagian trek menghindar. Trek ini dibuat oleh pihak Kepolisian untuk menguji kesigapan pengendara menghindari bahaya tepat di depannya. Usahakan tidak berkendara terlalu kencang dengan posisi jari tangan kanan bersiap di rem depan dan tangan kiri di rem belakang untuk motor metik.

Supaya bisa berhenti tepat di titik yang diminta, maka triknya yaitu hanya buka gas agak besar di awal kemudian di tutup. Tujuannya supaya mendapat akselerasi responsif namun putaran mesin tetap terkendali. Dengan kedua tangan siaga di tuas rem, kita bisa mulai mengerem tidak jauh dari titik henti.

Cara ini perlu latihan yang rutin supaya kita memiliki feeling yang tepat saat melakukan pengereman. Apabila kita sudah terbiasa, maka kita bisa melakukan pengereman yang lebih responsif dan tepat.

Nah, Carmudian sudah tidak bingung lagi kan bila ingin membuat SIM D (Difabel) ini. Hal terpenting yaitu punya keyakinan tinggi dan banyak berlatih baik ujian teori maupun praktik. Dengan begini, kalian sudah punya bekal pengetahuan dan keterampilan apabila turun ke jalan.

 

Penulis: Yongki Sanjaya

Editor: Dimas

Baca Juga:

Biar Lulus, Ini Contekan Soal Ujian SIM C yang Bisa Dipelajari

Previous post
Lulus Uji Tabrak, All New Suzuki Ertiga Dapat 4 Bintang
Next post
Tak Cuma di Indonesia dan Vietnam, Mitsubishi Xpander Juga Akan Dirakit di Malaysia