Mobil

Mengenal Ban Run Flat Tyres, Ban Anti ‘Pecah’ dan Tahan Kempes

Ban Bridgestone

Ban Run Flat Tyres cuma dipakai di mobil mewah (Foto: Carmudi/Santo)

Jakarta – Teknologi ban Run Flat Tyres (RFT) sebenarnya sudah diperkenalkan ke industri pertama kali pada 1980-an, namun penggunaannya masih terbatas karena alasan teknologi yang masih sulit untuk mendukung kelebihannya. Seiring waktu, RFT kini menjadi populer dan digunakan pada sejumlah produk pabrikan sebagai spesifikasi standar, salah satunya adalah BMW.

Dalam kondisi pemakaian sehari-hari, RFT sebenarnya bekerja seperti ban konvensional. Ban masih mengandung udara dalam penggunaan normal tapi ketika dalam situasi ban kempis, memungkinkan Carmudian untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga puluhan kilometer, hanya saja tetap dalam kondisi kurang angin.

Carmudian pun bisa sampai ke tujuan, atau setidaknya ke lokasi aman terdekat untuk mengganti ban. RFT diciptakan guna meminimalisir potensi ledakan ban yang sangat membahayakan keselamatan berkendara dengan konstruksi unik dari dinding ban. Pasalnya, dinding ban dirancang khusus mampu menahan bobot mobil saat tekanan angin berkurang.

RFT dianggap sebagai solusi untuk semua kekhawatiran Carmudian akan ban. Produsen ban atau pabrikan mobil sudah mencantumkan informasi soal seberapa cepat dan seberapa jauh kita bisa berkendara dalam kondisi ban kempis.

Ban Run Flat Tyres Belum Wajib di Indonesia

Ban Mobil Bias dan Radial (Foto: Carmudi)

Namun demikian, regulasi yang ada di Indonesia mewajibkan pabrikan mobil untuk tetap menyediakan ban serep di setiap mobil yang mereka jual. Kehadiran RFT dianggap belum menjadi solusi mutakhir untuk meningkatkan sisi keselamatan berkendara. Padahal, rancangan ban RFT yang kokoh membuat pengemudi hanya perlu mengurangi kecepatan saat tekanan udaranya berkurang.

Tipe ban RFT seperti yang dibuat Pirelli, misalnya. Pirelli P Zero dapat terus dikendarai dalam keadaaan benar-benar kempis atau bahkan tidak ada angin sama sekali sejauh 80 km dalam kecepatan maksimal hingga 80 km/jam.

Sementara itu, pada laman resmi Bridgestone dijelaskan bila ban RFT lebih stabil daripada ban konvensional. Mobil masih bisa dikendalikan secara normal dalam batas kecepatan maksimum yang dianjurkan pabrikan ban. Dengan demikian, kita bisa melakukan penggantian ban di bengkel terdekat dan tidak perlu segera menepi saat ban bocor.

Untuk mengetahui apakah mobil Carmudian telah menggunakan RFT, tidak perlu mengubek-ubek informasinya di buku manual mobil. Cukup dengan memeriksa dinding atau sisi terluar dari ban.

Organisasi internasional untuk standarisasi (ISO) telah memilih simbol universal untuk jenis ban RFT yang diwakili seperti bentuk huruf ‘P’ dengan posisi telungkup. Bentuknya juga mirip keong atau kunci yang ternyata menggambarkan bentuk ban yang dipakai berjalan dalam keadaan kempis.

Penggunaan Ban RFT pada Mobil

Uji Ban Turanza di Trek Basah Proving Ground Bridgestone (Foto: Bridgestone Indonesia)

Patut diperhatikan dalam pemakaian ban RFT, penggunaan umumnya hanya pada mobil yang dilengkapi dengan fitur Tyre Pressure Monitoring System (TPMS). TPMS memonitor dan memberi peringatan jika tekanan ban menurun atau dalam level yang rendah lewat lampu peringatan di panel instrumen.

Tanpa sistem ini, Carmudian mungkin tidak menyadari sedang berkendara dengan ban bertekanan angin kurang. Namun bagaimanapun, Carmudian tetap bisa menggunakan ban konvensional pada mobil yang standarnya dijejali RFT dari pabrik.

Terkait akronim RFT, produsen ban rupanya lebih suka menyebut istilah run flat tyres dengan beberapa sebutan akronim yang berbeda-beda. Berikut contohnya:

  • Bridgestone: RFT
  • Continental: SSR
  • Dunlop: DSST atau DSST CTT atau DSST RunOnFlat
  • Firestone: RFT
  • Goodyear: EMT atau RunOnFlat
  • Michelin: ZP
  • Tipe Konstruksi Ban Run Flat Tyres

Self Supporting

Teknologi Self-Supporting Runflat (SSR) didasarkan pada konstruksi dinding ban yang disebut self-supporting reinforced. Ketika menerima tekanan atau tusukan, konstruksi kaku dinding samping pada ban RFT jenis ini mencegah material menjadi hancur antara bibir pelek dan aspal, serta kemungkinan ban terlepas atau tergelincir dari pelek.

Support Ring

Ban RFT dengan jenis konstruksi Support Ring lebih jarang ditemukan penggunaannya. Ketika ban kempis, permukaan ban bersandar pada ring di dalam yang menahan dan menjaga bentuk ban serta kontak ban dengan jalan. Ring tersebut terbuat dari karet, terikat pada sebuah kawat atau cincin logam ringan di dalam ban yang melingkari pelek. Peran cincin logam ini sangat vital dalam menjaga keutuhan bentuk ban dan daya cengkeram ban pada aspal.

Keuntungan Pemakaian Ban Run Flat Tyres

ban rusak

Ban menjadi komponen mobil yang langsung berhubungan dengan jalan. Foto /alphacoders

Carmudian tidak perlu mengganti ban dalam situasi darurat. Ini mungkin manfaat terbesar dari RFT dan menjadi salah satu alasan penggunaannya. Dengan ban konvensional, kita harus mengganti ban yang bocor atau kempis di tempat atau mobil yang harus diderek ke lokasi yang aman atau bengkel terdekat yang kadang merepotkan dan memakan biaya.

Dalam situasi tertusuk atau ban mengalami benturan, RFT lebih stabil daripada ban konvensional. Ban RFT dibuat untuk mengakomodasi mobil kita bahkan ketika tidak ada udara sama sekali di dalam ban. RFT akan membantu Carmudian menjaga kontrol mobil yang lebih baik dalam situasi hilangnya tekanan udara daripada ban konvensional.

Penggunaan RFT juga secara otomatis mereduksi bobot mobil secara keseluruhan. Mengapa? Karena mobil dengan RFT biasanya tidak dilengkapi dengan dongkrak bawaaan dan ban cadangan, maka dari itu bobot mobil menjadi lebih ringan.

Tetapi penurunan bobotnya tidak signifikan, karena RFT memiliki tambahan struktur di dalam konstruksinya. Ini yang membuat bobot ban sedikit lebih berat dari ban konvensional.

Kekurangan Penggunaan Ban Run Flat Tyres

Ban Serep di Kolong (Foto: Youtube)

Tidak Ada Ban Cadangan

Mobil yang dilengkapi dengan RFT tidak memiliki ban cadangan atau bahkan dongkrak. Pabrikan menggantinya dengan pemanfaatan ruang untuk kompartemen barang dan lainnya.

Untuk mobil yang dijual di Indonesia ini bisa mendapat pengecualian, karena pemerintah tetap mewajibkan adanya ban serep. Apabila jenis ban serepnya full size, maka kita tidak perlu bingung saat harus mengganti ban RFT dalam perjalanan jarak jauh.

Suspensi Terasa Keras

Karena konstruksi dinding ban yang lebih kokoh, RFT tentu memiliki material ban yang lebih kaku dan tidak selentur ban konvensional. Ini berefek pada pengemudian mobil. Maka dari itu penggunaan RFT biasanya didukung dengan pengaturan pada suspensi yang dibuat menjadi lebih empuk.

Tapak Ban Lebih Cepat Habis

Studi telah menemukan bahwa penggunaan ban RFT membuat tapak ban lebih cepat habis dibandingkan dengan ban konvensional.

Masih Ada Kemungkinan Ban Pecah

Akibat human error, pecahnya ban masih dapat terjadi karena faktor ini. Misalnya pengemudi tidak memperhatikan batas kecepatan pada penggunaan ban dalam kondisi kempis atau terjadi benturan keras pada dinding ban.

Sulit Memantau Tekanan Angin Ban

Konstruksi dinding ban yang lebih kaku membuat pemantauan tekanan angin ban secara manual tanpa TPMS menjadi lebih sulit karena tidak ada bentuk tonjolan ketika ban berada dalam tekanan angin yang rendah.

Harga Ban yang Lebih Mahal

Harga ban RFT tentu jauh lebih mahal daripada ban konvensional.

Sulit untuk Ditambal

Berbeda dengan ban konvensional yang masih bisa ditambal ketika bocor. Ban RFT punya konstruksi yang lebih kompleks dan material yang cukup berbeda. Untuk itu, ban RFT lebih disarankan untuk diganti daripada diperbaiki.

Lebih Susah Dicari

Pemasaran ban Run Flat Tyres tidak seluas ban konvensional dan relatif lebih susah dicari. Pengguna ban RFT untuk sekarang ini kebanyakan pada mobil mewah.

 

Penulis: Yongki Sanjaya

Editor: Dimas

Baca Juga:

Sterilkan Mobil Kesayangan dari Virus dan Bakteri dengan Cara Ini

Tutus Subronto

Tutus Subronto memulai karirnya di dunia otomotif sebagai jurnalis di Media Indonesia. Sejak 2008, telah meliput beragam kegiatan otomotif nasional. Terhitung Januari 2014 masuk sebagai tim Content Writer di Carmudi Indonesia. Kini terlibat di tim editorial Journal Carmudi Indonesia untuk mengulas dan publikasikan berita-berita otomotif terbaru. Email: [email protected]

Related Posts