HomeBeritaBanderol Mobil Listrik Bisa Lebih Murah di 2025

Banderol Mobil Listrik Bisa Lebih Murah di 2025

mobil listrik
Ilustrasi mobil listrik (Foto: Carscoops)

Jakarta – Era kendaraan listrik sudah di depan mata. Beberapa produsen otomotif sudah mulai berani memasarkan mobil tanpa emisi ini. Ada juga yang sampai saat ini masih terus mengembangkannya. Mobil listrik masih dikategorikan sebagai barang dengan harga mahal karena teknologinya tergolong baru. Berbeda dengan mobil yang masih menggunakan bahan bakar minyak sebagai penggerak roda.

Mungkin sekira tujuh tahun lagi harga mobil listrik akan lebih murah dibanding mobil yang masih menggunakan mesin bensin dan diesel. Tapi dengan catatan, biaya pembuatan baterai lithium-ion mengalami penurunan.

Beberapa produsen mobil saat ini membuat kendaraan listrik dengan biaya produksi yang hampir sama dengan mobil bermesin konvensional. Namun diprediksi paling cepat baru pada 2025 biaya produksi akan mengalami penurunan, karena permintaan semakin banyak.

Bloomberg New Energy Finance (BNEF) melaporkan jika semakin banyak permintaan, maka kemungkinan harga jual mobil listrik akan lebih murah. Apalagi jika ditopang harga paket pembuatan baterai yang turun karena permintaan untuk material logam terus meningkat dan dipesan dalam jumlah besar.

“Penjualan kendaraan listrik akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang. Tetapi harga baterai masih perlu menurun kedepannya. Sebaliknya jika harga material baterai terus meningkat tajam, ini bisa mendorong kembali ke penggunaan mobil konvensional,” kata Colin McKerracher, analis transportasi di BNEF.

Banyak kepala negara yang mendukung untuk terciptanya lingkungan yang bersih dan mengurangi timbulnya asap kendaraan terutama di kota-kota besar. Salah satu fokus utama dalam mencapai tujuan tersebut adalah dengan mendorong para produsen otomotif untuk menghadirkan poroduk ramah lingkungan seperti mobil listrik.

Anggota parlemen Amerika Serikat ini memulai penelusuran ke pasar pada bulan September lalu, guna mencari tahu infrastruktur seperti apa yang diperlukan untuk kendaraan listrik. Selain itu untuk memastikan apakah pada 2040 penjualan mobil bermesin bensin dan diesel sudah bisa dihentikan.

Butuh Dukungan dari Pemerintah

Hampir semua produsen otomotif mendukung era kendaraan listrik, tapi harga komponen dan pajak yang mahal menjadi kendala mereka dalam memasarkan mobil listrik. Oleh karena itu dibutuhkan campur tangan pemerintah berupa pemberian insentif supaya mobil listrik bisa dijual dengan harga terjangkau dan semakin banyak peminatnya.

Dengan pemberian insentif, kini Inggris dapat menurunkan defisit perdagangan otomotif sebesar 5 miliar poundsterling. Sementara itu China sebagai salah satu pasar otomotif terbesar di dunia, bermimpi ingin menjadi negara dengan pemakaian kendaraan listrik terbanyak.

Tak heran jika pemerintah menerapkan aturan yang sangat ketat kepada produsen mobil agar lebih giat lagi memproduksi dan memasarkan kendaraan listrik. Dengan begitu pemerintah percaya penjualan mobil listrik akan terus mengalami peningkatan.

Mobil Listrik di Indonesia

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sempat mengatakan kalau pemerintah berencana menetapkan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil listrik sebesar nol persen. Sementara, bea masuk untuk jenis kendaraan tersebut, akan ditetapkan menjadi sekitar lima persen.

Ini strategi pemerintah untuk mendorong pengembangan mobil listrik serta daya beli masyarakat di Indonesia. Diberikannya insentif ini karena alasan harga mobil listrik cenderung lebih mahal 30 persen dibanding harga mobil konvensional.

Langkah kebijakan ini masih dalam pembahasan di tingkat kementerian. Namun yang pasti, pengembangan kendaraan berbasis listrik menjadi bagian dari peta jalan (road map) pengembangan kendaraan bermotor nasional.

Tak hanya itu, Airlangga juga mengatakan, pemerintah juga akan memberikan insentif berupa pemotongan pajak yang lebih besar (super deductable tax). Ini berlaku bagi perusahaan yang melakukan inovasi, dalam hal ini mengembangkan mobil listrik.

Target pengembangan kendaraan listrik sendiri sudah tercantum dalam road map atau peta jalan pengembangan kendaraan bermotor nasional. Pemerintah menargetkan 20 persen dari kendaraan produksi Indonesia adalah kendaraan ramah lingkungan, Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), pada 2025. (dna)

Previous post
Polisi Mulai Buru Pelaku Aksi Drifting Jalanan 'Hagwalah' di Arab
Next post
Harga Toyota Yaris Bekas, Berapa Penurunannya Dalam Setahun?