BeritaMobil

Cerita Orang Indonesia yang Bekerja di Tesla Selama 3 Tahun

orang indonesia yang bekerja di tesla

Niko Questera, 3 tahun bekerja di Tesla (Foto: Sano)

Penulis: Rizen Panji

Tesla, pabrikan mobil listrik asal Amerika Serikat sedang memantapkan rencananya untuk merealisasikan mobil listrik yang dapat digunakan oleh masyarakat luas pada 2003 silam.

Sebenarnya, teknologi mobil listrik bukanlah hal baru di dunia otomotif, namun Tesla mencoba untuk menjadi perusahaan otomotif pertama yang membuat elektrifikasi ini menjadi nyata.

Elon Musk, CEO Tesla, begitu merdu menyuarakan tentang mobil listrik yang diklaim dapat memberikan pandangan baru terhadap transportasi masa depan. Di balik kisah sukses perusahaan, terselip beberapa orang Indonesia yang bekerja di Tesla.

Para orang Indonesia yang bekerja di Tesla ini menjadi kisah yang cukup menarik untuk dibahas. Salah satu orang Indonesia yang bekerja di Tesla adalah Niko Questera.

Pria kelahiran 25 Oktober 1989 ini sempat mengabdi di Tesla selama kurang lebih 3 tahun. Selama ia disana, Niko menjadi bagian dari tim yang menangani engineer yang kerap disebut ‘low voltage’.

Niko yang mengenyam pendidikan di Purdue University yang terletak di Indiana ini mencoba untuk mengirimkan aplikasi agar dapat bekerja di Tesla.

“Saya selalu kirim aplikasi ke Tesla, Cuma memang belum jodoh ya jadinya belum dipanggil,” katanya.

Ada alasan tersendiri mengapa ia ingin menaruh aplikasi di Tesla. Dalam sebuah job fair yang diadakan di Purdue University, antrian pada booth Tesla selalu yang terpanjang.

“Sudah pasti panjang. Biasanya antriannya juga sepanjang booth Google, Facebook dan Netfilx,” sambung Niko.

Pendidikan yang diambil oleh Niko lebih mengarah kepada hardware. Saking sulitnya menembus barisan Tesla, ia pun hampir menyerah. Akhirnya ia melupakan target tersebut dan singgah di perusahaan teknologi lainnya, Dell Computer. Usai bekerja di Dell, Niko berpindah ke Honda.

“Saya kerja di sister company Honda, Stanley untuk bagian lampu. Disini saya bekerja selama 5 tahun,” kata Niko.

Diterima di Tesla Pada 2015

Rasa penasaran yang amat dalam membuatnya tetap ingin mencoba agar bisa diterima di Tesla. Gayung pun bersambut, Niko yang sedang mengejar mimpinya ini akhirnya diterima di Tesla pada 2015 untuk posisi Process Engineer.

Setelah bekerja selama satu tahun, ia pun dipindah tugas ke bagian manufacturing firmware pada 2016. Pada September 2018 lalu ia memutuskan untuk hengkang dari Tesla dan bekerja di Indonesia.

Salah satu pengalaman yang pria ramah ini rasakan saat bekerja di Tesla adalah mengerjakan Tesla Model S dan X. Proyek terakhir yang ia kerjakan adalah Model 3. Mobil yang cukup sering menjadi perbincangan satu tahun terakhir.

“Lebih banyak improvement ke software driven. Jadi mobilnya itu harus bisa bicara ke pabrik dan pabriknya juga harus bicara ke mobil secara software, kalau diartikan kasarnya. Jadi kalau Tesla itu hampir semuanya harus dibuat sendiri. Tidak ada komponen yang dibuat selain oleh Tesla seperti produsen otomotif lainnya,” ujarnya.

Elon rupanya memang tidak ingin ada komponen yang didatangkan dari luar pabrik. Seiring berjalannya waktu, kebijakan tersebut perlahan disingkirkan karena tidak efisiennya pekerjaan. Elon akhirnya melunak dengan memperbolehkan produsen komponen untuk masuk ke dalam bagian dari Tesla.

“Model 3 menjadi mobil pertama yang dikombinasikan dengan komponen dari luar pabrik Tesla,” ucapnya.

Tesla Model X jadi mobil autopilot pertama di Indonesia (Foto: Tesla)

12 Jam Kerja, Tidak Ada Over Time

Sebagai salah satu orang Indonesia yang pernah bekerja di Tesla, Niko pun menceritakan sedikit pengalamannya mengenai ritme kerja di perusahaan tersebut. Ia mengatakan jika ritme kerja yang dialami sangatlah sibuk.

“Dalam satu hari bekerja 12 jam. Dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Tidak ada over time, kalau ada over time juga tidak dibayar. Benar-benar sibuk sekali dan padat,” ucapnya seru.

Momen selama bekerja di Tesla diakuinya sebagai pengalaman yang sangat berharga dan tidak terlupakan. “Selama bekerja di Tesla sih jadi pengalaman menarik yang tidak terlupakan menurut saya ya,” tutur Niko.

Elon Musk

Niko menyebut Elon Musk adalah pribadi yang disiplin (Foto: hindustan times)

Kembali dan Menetap di Indonesia

Pada bulan September 2018 ia akhirnya memutuskan untuk menghentikan karir di Tesla dan kembali terbang menuju Tanah Air untuk menetap di sini.

Ia kini bekerja di perusahaan startup bernama Ekrut karena diajak oleh teman yang memintanya kembali ke Indonesia pada saat sama-sama bekerja di Stanley.

“Ruang lingkup kerjanya memang beda. Kalau di Tesla saya lebih ke manufaktur kendaraan, tetapi disini saya lebih ke manufaktur website hehe,” pungkasnya.

Kini, Niko harus kembali beradaptasi dengan jalanan ibu kota Jakarta yang sangat padat. Kultur selama di Sillicon Valley yang tidak ada macet membuat ia harus melupakan mobil yang menjadi salah satu kesenangannya saat berkendara. (dna)

Wahyu Perdana Putera

Berkarir di sejumlah online media sejak 2012 sebagai jurnalis teknologi, sains dan otomotif, kini di Carmudi Indonesia sejak Juli 2015 untuk mengulas & mempublikasikan kabar otomotif terkini dari perspektif lain. Menggilai mobil retro era '80-90an, modifikasi & kultur balap jalanan Jepang serta hobi modifikasi dengan aliran oldschool brutal seperti Shakotan, Kyusha & Kaido Racer. Email: wahyu.per[email protected]
Follow Me:

Related Posts