HomeBeritaPemerintah Ngotot Mobil Listrik Harus Diproduksi di Indonesia

Pemerintah Ngotot Mobil Listrik Harus Diproduksi di Indonesia

Mitsubishi
Mitsubishi Motor Corporation (MMC) berikan 10 kendaraan listriknya kepada Pemerintah Indonesia (Foto: Carmudi)

Jakarta – Industri otomotif terus mengalami perkembangan. Ini tampak dari sejumlah pabrikan yang mau berinvestasi dalam jumlah besar demi membangun pabrik dan memperluas fasilitas produksi.

Tidak hanya itu saja, pabrikan mobil di Tanah Air juga mulai memperbanyak jumlah ekspor mobil. Baik dalam bentuk utuh atau Completely Built Up (CBU), maupun Completely Knocked Down (CKD).

Berkat dorongan pemerintah pula industri otomotif mampu berkembang dan masuk dalam salah satu penyumbang terbesar terhadap perekenomian nasional.

“Misalnya, terlihat jumlah ekspor dalam bentuk komponen kendaraan yang naik hingga 13 kali lipat. Dari 6,2 juta pieces tahun 2016 menjadi 81 juta pieces tahun 2017,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, baru-baru ini.

Kedepan, industri otomotif akan memasuki ranah kendaraan ramah lingkungan. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian, tengah fokus untuk mempercepat pengembangan kendaraan listrik di dalam negeri.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mendorong produksi kendaraan emisi karbon rendah (Low Carbon Emission Vehicle/LCEV) yang ramah lingkungan.

“Jadi, kalau kita tidak ingin hanya menjadi pengguna atau importir saja, maka perlu ada industrinya di sini,” kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Harjanto, usai mendampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bertemu dengan Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono beserta jajarannya di Jakarta, Jumat (18/5).

Harjanto menjelaskan, dalam pengembangan kendaraan listrik, perlu ada beberapa tahap yang harus dijalankan termasuk menyiapkan regulasi atau payung hukum, infrastruktur pendukung dan teknologi.

“Selain itu, kesiapan untuk keberlanjutan industri, dampak lingkungan dan dampak sosial,” imbuhnya.

Menurut Harjanto, pembangunan infrastruktur kendaraan listrik seperti charging station menjadi sangat penting. Dia menambahkan, jangan sampai ketika sudah bicara otomotif, ternyata infrastrukturnya belum siap.

“Jadi, kami berharap nanti masyarakat pakai kendaraan listrik dengan mudah dan nyaman,” ujarnya.

Mitsubishi Outlander PHEV dan i-MiEV (Foto: Santo/Carmudi)

Dalam upaya transfer teknologi, pada Februari lalu Mitsubishi MotorsCorportion (MMC) Jepang memberikan empat unit quick charger untuk keperluan sosialisasi kepada masyarakat dan studi bersama.

Industri Baterai dalam Persiapan Mobil Listrik

Baterai menjadi salah satu komponen utama yang ada dalam kendaraan listrik. Supaya mobil listrik dijual dengan harga terjangkau dan memperbanyak jumlah komponen lokal, Kemenperin berharap ada industri komponen otomotif yang mampu memproduksi baterai secara lokal.

“Industri komponen baterai juga harus disiapkan karena menjadi core component dalam mobil listrik. Kemenperin tengah menyiapkan proyek percontohan battery sharing untuk kendaraan bermotor listrik roda dua di beberapa kota, seperti Bandung, Denpasar dan akan menyusul Yogyakarta untuk penggunaan baterai yang bisa ditukar. Seperti penggunaan tabung gas LPG pada kompor,” paparnya.

Strategi lainnya untuk mendorong industri otomotif di Indonesia agar berinvestasi memproduksi kendaraan listrik, yakni pemberian insentif. Kemenperin telah mengusulkan kepada Kementerian Keuangan mengenai pemberian insentif terhadap pengembangan program LCEV, termasuk kendaraan listrik di dalamnya.

“Pada tahun 2025, kami menargetkan 20 persen dari kendaraan yang diproduksi di Indonesia adalah kendaraan LCEV termasuk kendaraan listrik. Ini sesuai tren dunia. Jika permintaannya tinggi, targetnya kami bisa lebih dari itu,”pungkas Harjanto. (dna)

yaris hatchback
Previous post
Hanya Sedan, Toyota Pilih Tidak Jual Yaris Hatchback di Negara Ini
giias 2018
Next post
Ada Brand Mobil dan Motor Apa Saja di GIIAS 2018?