Sepeda motor

Bukan Dovizioso, Pengembangan Motor Ducati Ikuti Masukan Lorenzo

Jakarta – Ducati berhasil tampil perkasa pada musim 2017 lalu. Dovizioso yang mewakili tim balap pabrikan asal Borgo Panigale, Bologna, ini berhasil menjadi runner-up. Namun demikian, prestasi Dovi ternyata tidak membuatnya sebagai pebalap yang memimpin riset Ducati Desmosedici.

Dikutip Motorsport, Ducati malah mempercayakan riset Desmosedici GP18 kepada Jorge Lorenzo. Hal ini jelas kontras dengan prestasi si 99 itu. Debut semusim penuh X-Fuera bersama pabrikan Italia itu memang terbilang tak memuaskan.

ducati desmosedici

Ducati Desmosedici GP18

“Ducati Desmosedici akan meningkat cukup banyak dalam arahan saya untuk menjadi cepat. Tidak hanya akselerasi, trek lurus, atau pengereman, tapi juga misalnya di tengah tikungan,” ungkap Lorenzo.

Lorenzo hanya mempersembahkan tiga podium dengan hasil terbaik finish kedua di Malaysia. Pebalap asal Spanyol ini mengaku telah belajar banyak selama semusim kemarin. Paling penting, dia berusaha menyempurnakan gaya balapnya sesuai dengan karakter Desmosedici.

Di masa depan, Lorenzo malah ingin sebaliknya. Eks-pebalap Yamaha ini ingin supaya Desmosedici juga sesuai dengan karakter atau gaya balapnya.

“Saya banyak berubah tahun lalu. Saya banyak belajar, untuk mencoba mengendarai Ducati dengan kemampuan terbaik. Bila sebelumnya saya mengubah (karakter) dalam diri saya ke motor, mungkin tahun ini justru sebaliknya,” tambah pebalap dengan tiga gelar juara dunia MotoGP.

Dovizioso: Performa Ducati Desmosedici pada 2017 Masih Kurang

Pembalap Ducati lainnya, Dovizioso, juga angkat bicara soal kemampuan motornya musim lalu. Menurut Dovi, kinerja GP17 masih kurang mumpuni bila tetap digunakan pada balap musim 2018.

“Untuk menang, Anda harus selalu finis di podium atau masuk lima besar. Kami harus tetap pada level itu sepanjang musim. Saya tahu betul apa yang harus kami lakukan dan apa yang dilakukan rival dengan motor mereka,” kata pebalap Italia itu.

Di luar performa motor, Dovi ingin terus kompetitif dengan cara meningkatkan kemampuannya lebih dari musim lalu. Pebalap yang berlaga di kelas utama semakin kompetitif dan persaingan merebutkan podium makin sengit.

“Dalam tiga tahun terakhir ada begitu banyak pebalap yang bisa memenangi balapan. Artinya, jauh lebih sulit jika Anda ingin merebut gelar juara,” tambah Dovi. (dna)

Tutus Subronto

Tutus Subronto memulai karirnya di dunia otomotif sebagai jurnalis di Media Indonesia. Sejak 2008, telah meliput beragam kegiatan otomotif nasional. Terhitung Januari 2014 masuk sebagai tim Content Writer di Carmudi Indonesia. Kini terlibat di tim editorial Journal Carmudi Indonesia untuk mengulas dan publikasikan berita-berita otomotif terbaru. Email: [email protected]

Related Posts