Home » Berita » Permintaan Mobil Produksi Indonesia di ASEAN Meningkat

Permintaan Mobil Produksi Indonesia di ASEAN Meningkat

Ekspor mobil
Ekspor mobil di Indonesia

Jakarta – Sebagian besar produsen otomotif di Indonesia sudah memiliki pabrik untuk memproduksi mobil. Hasil produksinya tidak hanya ditujukan bagi pasar domestik saja tapi juga ekspor. Beberapa tahun belakangan pemerintah Indonesia genjar mendorong setiap produsen otomotif yang sudah memiliki pabrik supaya terus menaikkan angka ekspor. Tujuannya untuk menigkatkan devisa dan membantu pertumbuhan ekomomi di dalam negeri.

Kementerian Perindustrian berharap tahun ini performa ekspor mobil mengalami pertumbuhan yang siginifikan dibanding tahun sebelumnya. Ditargetkan ekpor mobil tahun ini menembus 400 ribu unit atau naik 15,6 persen dibanding capaian 2018 sebesar 346 ribu unit. Peningkatan ini seiring tumbuhnya permintaan konsumen luar negeri terutama di ASEAN.

“Pasar Asean masih sangat potensial. Sekarang, ekspor mobil Indonesia terbesar, di antaranya ke Filipina dan Vietnam, bahkan pasar di Thailand juga mulai terbuka,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Menurut Menperin peluang peningkatan ekspor mobil Indonesia yang juga ada di depan mata adalah ke pasar Australia. “Pemerintah tentu masih menunggu ratifikasi parlemen kedua belah pihak. Tetapi apabila sudah diratifikasi, potensi untuk ekspornya terbuka, termasuk kendaraan yang electric vehicle, pemerintah Australia juga memberi prioritas,” paparnya.

Empat Perusahaan Otomotif Jadi Basis Produksi

Potensi industri otomotif di Indonesia cukup besar, dengan jumlah produksi mobil yang mencapai 1,34 juta unit atau senilai USD13,76 miliar sepanjang 2018. Saat ini, ada empat perusahaan otomotif besar telah menjadikan Indonesia sebagai rantai pasok global.

“Dalam waktu dekat, ada beberapa principal otomotif lagi yang bergabung dan akan menjadikan Indonesia sebagai hub manufaktur otomotif di wilayah Asia. Hal tersebut akan menggenjot kinerja industri otomotif, sehingga mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Apalagi, industri ini menyerap tenaga kerja yang banyak, lebih dari satu juta orang,” ujar Airlangga.

Oleh karena itu, industri otomotif terpilih menjadi bagian dari lima sektor manufaktur andalan dalam implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. Selain mendapat prioritas pengembangan untuk lebih berdaya saing global, pemerintah juga mendorong industri otomotif siap memasuki era industri 4.0.

“Di dalam roadmap tersebut, ditargetkan pada tahun 2030, Indonesia dapat menjadi basis produksi kendaraan bermotor Internal Combustion Engine (ICE) maupun Electrified Vehicle untuk pasar domestik maupun ekspor,” tambah Airlangga.

Dalam peta jalan pengembangan industri kendaraan nasional, pemerintah menargetkan sebanyak 20 persen dari total produksi kendaraan baru di Indonesia sudah berteknologi tenaga listrik pada tahun 2025. Ini guna mendukung komitmen Pemerintah Indonesia dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (CO2) sebesar 29 persen pada tahun 2030, sekaligus menjaga kemandirian energi nasional.

Previous post
Beli BMW M2 Performance Edition, Uang DP Seharga Wuling Almaz!
Next post
Seberapa Besar BR-V Terbaru Bisa Menolong Penjualan Honda?