BeritaMobilReviewsSumber informasi

Review: All New Chevrolet Spark Berubah Signifikan

Jakarta – Masih ingat Daewoo Matiz di tahun 2000-an silam? Jika Anda seperti mayoritas masyarakat Indonesia lainnya, mungkin jawaban pertanyaan di atas jelas adalah ‘tidak’.

Dengan alasan yang sama, mungkin juga Anda tidak ingat dengan Chevrolet Spark, alias kembaran Matiz di tahun tersebut. Desain tidak menarik boleh dikatakan melebihi kepraktisan yang ditawarkan kala itu.

Fast forward satu setengah dekade kemudian, masuklah Spark generasi keempat. Setelah pendahulunya sempat tampil di laga box office ‘Transformers’, Spark kembali melengkapi jajaran Chevy dalam negeri dengan embel-embel “All-New”.

Mobil ini masuk line up Chevrolet sebagai varian terkecilnya, setelah sebelumnya line-up diisi Captiva, Trailblazer dan Trax.

Carmudi Indonesia mencoba Chevrolet Spark berkode bodi M400 tersebut untuk beberapa hari. Singkat kata, apapun yang membuat Matiz tidak diperhitungkan di masa lampau tak lagi jadi masalahnya kini.

Meninggalkan gaya ‘tinggi cungkring’ sebelumnya karena sekarang berdesain ala kakaknya, Aveo. Serta kenaikan kapasitas mesin ke kelas 1.400 cc dari sebelumnya 1.200 cc. Chevrolet Spark semakin patut dipertimbangkan meski harus masuk ke pasar city car yang sangat berdarah-darah.

Kompetisi yang Berat Segmen City Car

Dalam segmen ini banyak persaingan, mau tidak mau All-New Chevrolet Spark akan berkompetisi dengan sengit bahkan berdarah-darah.

Bagaimana tidak, pemain brand Amerika Serkat ini harus berhadapan dengan pesaing berat seperti Honda Brio RS, Daihatsu Sirion. Ada juga Nissan March, Kia Picanto, Hyundai Grand i10x, Proton Iriz, hingga Suzuki Ignis yang paling fresh.

Tak masalah, toh beberapa senjata seperti output tenaga terbesar di kelas dengan angka 97 hp dan torsi 124 Nm. Sementara fitur keselamatan paling berlimpah berkat stability control dan HSA (Hill Start Assist).

Apalagi melihat tampangnya yang tak kalah menarik dibanding kompetitornya jadi kunci anak bungsu Chevy ini. Bila ditanya mengapa harus memilih ini ketimbang lainnya, kalimat ini salah satu jawaban.

Oh dan masih ada juga teknologi transmisi CVT (Continously Variable Transmission) yang tidak dimiliki pesaing di kelasnya, yaitu aux gear.

Apa itu dan cukupkah setiap hal di atas agar membuat anda mengucurkan Rp 196 juta on the road Jakarta untuk menebusnya? Simak full review-nya di bawah.

Gaya Bodi dan Tipe (Score: 6/10)

All New Chevrolet Spark hanya tersedia dalam 1 varian, yaitu LTZ. Bila belum familiar dengan merek ini, LTZ biasa digunakan untuk menunjukkan tipe tertinggi dari keluarga Chevy.

Yang mungkin langsung terlihat dari spesifikasi bagian depan yang cukup lengkap. Seperti penggunaan lampu proyektor, DRL dan lampu kabut.

Oh iya, kali ini pun PT General Motors Indonesia menyempitkan pilihan pengguna soal transmisi. Spark hanya ada dengan pilihan CVT dan mesin 1.400 cc barunya.

Chevrolet Spark

All New Chevrolet Spark. Foto/Carmudi Indonesia

Tersedia 7 pilihan warna agar anda bisa terlihat unik. Diantaranya warna hitam Black Meet Kettle, putih Summit White dan silver Switchblade Silver tersedia.

Namun bagi para jiwa muda bisa pilih Pull Me Over Red, ungu Mystic Violet, biru Splash Blue dan hijau muda Mint My Mind. Perihal harga, All New Chevrolet Spark LTZ dibanderol Rp 196 juta on the road Jakarta.

Spesifikasi dan Performa Mesin (Score: 9/10)

Berkat menaikkan kapasitas 200 cc, Spark bisa dibilang naik kelas. Hal ini karena Chevy meninggalkan mesin B12D STEC II 1.206 cc. Sebelumnya untuk jantung mekanis baru LV7 ECOTEC dengan VVT. Sehingga tenaganya naik 15 hp menjadi total 97 hp di putaran mesin 6.200 rpm.

Segment leader? Yup. Kecuali dibandingkan dengan March 1.5L yang harganya sudah jauh di atas Rp 200 juta. Output All New Spark dengan mudah mengalahkan setiap pesaingnya.

Namun lebih penting, bagaimana efek mesin ‘besar’ ini ketika dipasangkan ke bodi mungilnya? Respon tarikan di awal terasa smooth meski cenderung berat, khas penggunaan transmisi tanpa gigi alias CVT.

Seiring dibangunnya putaran mesin, tenaga yang dicapai dari putaran roda depan pun untungnya semakin terasa optimal.

Performa Kenyamanan

Menguji Spark di jalan bebas hambatan, jelas langsung feels like home. Karena dengan mudah dan tidak terasa membawa jarum speedometer ke 100 km/jam meski gas tak diinjak terlalu dalam.

Jelas, karakter ini membuat Spark lebih menyenangkan untuk highway cruising dibanding menjelajah perkotaan yang macet. Lebih istimewa lagi adalah efek dari gir tambahan (aux gear) yang dipakai CVT-nya.

Chevrolet Spark

Mesin All new Chevrolet Spark. Foto/Carmudi Indonesia.

Memang bukan hal baru karena sudah sering dipakai oleh kontender atas seperti Civic atau Corolla Altis. Namun untuk sub-Rp 200 juta, tentu sangat diapresiasi.

Aux gear memberi efek ala-ala adanya perpindahan gigi seperti pada transmisi otomatis konvensional. Misalnya ketika putaran mesin mencapai 3.000 rpm, maka akan disimulasikan naik gigi sehingga akan turun putarannya.

Yes, meski masih menggerung ala sabuk baja ketika kickdown, namun gejalanya diredamkan oleh simulasi upshift tersebut.

Begitu juga ketika pedal gas diinjak lebih dalam, putaran mesin akan jauh lebih cepat naik seperti terjadi downshift. sehingga karakternya menjadi jauh lebih agresif dibanding pesaingnya dengan CVT konvensional.

The flip side? Well, kami beberapa kali mengalami gejala ‘ndut-ndutan’ karena efek di atas saat merangkak di kecepatan rendah yang untungnya tidak terlalu mengganggu.

Konsumsi Bahan Bakar (Score: 6/10)

Penggunaan transmisi CVT memang biasa berujung untuk penghematan, cocok dengan penambahan kapasitas mesin 200 cc. Yang tentu bisa merugikan segi berapa banyaknya bahan bakar yang digunakan tersebut.

Sayangnya, angka di MID hanya berkisar di 8.0-8.7 L / 100 km saja ketika kami mengitari Jakarta sejauh 300-an km, alias hanya di sekitar 11,5-12,5 km/liter. Mencobanya sejauh lebih dari 200 km, angka yang terbaca terpatok di 12 km/liter dengan kecepatan rata-rata 23,6 km/jam.

By no means konsumsi si mini-Murica ini boros. Angka di atas tentu masih tergolong irit dan tak akan membuat rekening Anda bengkak bahkan bila dijadikan komuter bermacet-macetan setiap harinya.

Hanya saja bila dibandingkan para pesaingnya yang masih bermesin 1.200 cc, somehow kami mengharapkan Spark 1.4L ini bisa mengimbanginya. Lagipula bila digunakan untuk fungsi cruising jarak jauh seperti keluar kota misalnya, angka 5 l/100 km masih cukup mudah didapatkan.

Handling dan Impresi Berkendara (Score: 9/10)

Sejatinya sebuah mobil kompak, pengemudian yang mudah dan menyenangkan jadi kuncinya. Untungnya, Spark tergolong unggul di sektor ini.

Mari mulai dari faktanya terlebih dahulu. Dibandingkan Gen-3, Gen-4 ini memiliki wheelbase yang lebih panjang 10 mm. Sedangkan tinggi keseluruhan turun 45 mm. Translasikan ke hidup nyata dan artinya, Chevy mini ini akan lebih nikmat dan stabil bermanuver.

Chevrolet Spark

Performa nyaman untuk mobil dikelasnya. Foto/Carmudi Indonesia.

Dan benar! Meski Honda Brio RS selalu jadi benchmark kami soal kesenangan mengemudikan sebuah mobil mungil. Aspek fun to drive Spark bisa dikatakan hampir mengimbanginya. Hampir, karena ukuran velg yang terlalu kecil, 14 inci, sedikit mengurangi feedback dari ban ke setir.

Berbicara setir, rasa EPS (Electronic Power Steering) yang dipakai tidak terlalu ringan di kecepatan rendah. Namun tetap tidak menyulitkan saat ingin memarkirkan mobil, serta bobotnya terasa cukup saat kecepatan tinggi.

Ini membuat rasa bermanuver di kecepatan tinggi menjadi jauh lebih menyenangkan dibanding kompetitor di kelasnya. Belum lagi jika mempertimbangkan fitur keselamatan seperti rem ABS, EBD. Dan paling penting, stability control yang membuat melaju kencang tetap terasa aman.

Namun kembali ke velg 14 inci tersebut, ternyata profil ban cukup tebal 165/65R14 sedikit berfungsi membuat bantingan tidak terlalu kasar.

Hal ini karena suspensi di-set cenderung keras dan efeknya sangat terasa ketika menghajar jalan rusak di kecepatan rendah. Apalagi karena bahan jok fabric cukup keras.

Tetapi masuk jalan tol dan akan langsung terasa betapa ‘adem ayem’ set kaki-kaki yang digunakannya. Ya, masih ada body roll, namun tidak cukup mengganggu karena badan pengemudi tertahan cukup baik oleh kontur jok.

Spesifikasi Kaki-kaki

Sistem KemudiRack & Pinion
Power SteeringAda, Electric Power Steering (EPS)
Suspensi DepanMcPherson Strut dengan Coil Springs
Suspensi BelakangCompound Crank dengan Coil Springs
DamperTidak Ada
Diameter Velg14 inci
Ukuran BanContinental ContiEcoContact 165/65 R14
Ban SerepSpace Saver
Rem DepanCakram
Rem BelakangTeromol
Sistem RemABS dan EBD

Fitur & Safety (Score: 9/10)

Selain mesin yang jadi pemimpin segmen, Spark juga punya keunggulan mayor dibanding pesaingnya. Yes, mobil brand AS yang diimpor dari Korea Selatan ini terbilang berlimpah fitur.

Seperti head unit-nya, yang mengusung fitur integrasi smartphone modern. Yaitu Apple CarPlay dan Android Auto baik di kelas city car, maupun mobil di bawah Rp 300 juta. Selain itu, layar sentuh 7 inci masih ramah penggunaannya oleh driver karena masih tersedia tombol fisik dan kenop volume.

Masih soal sistem hiburan kabin, sistem MyLink yang disediakan bisa mengulik sistem dalam. Seperti menyalakan wiper belakang saat masuk transmisi mundur ketika wiper depan aktif.

Berapa lama lampu kabin akan menyala saat pengemudi keluar. Hingga mengatur apakah tombol unlock di remote bisa membuka pintu driver saja atau semua pintu.

Keren? Jelas, karena setting di atas biasanya baru ada di mobil-mobil kelas Rp 500 jutaan keatas. Cek lebih dalam, MID (Multi Information Display) yang tersedia juga bisa menunjukkan persentase umur oli mesin yang dipakai.

Chevrolet Spark

Desain spedometer dan MID Chevrolet Spark. Foto/Carmudi Indonesia.

Detail yang termasuk baik, indikator sabuk pengaman terintegrasi di overhead console dan tombol pengatur Bluetooth serta voice command di setir. Sayangnya hanya berfungsi ketika dikoneksikan ke smartphone.

Bila sempurna, apa yang menghalangi kami dari memberi nilai 10/10 di sektor ini? Sayangnya, fitur yang lebih krusial di Indonesia seperti spion lipat elektrik atau sensor parkir belakang justru tidak dimasukkan.

Kemudian masih ada passive keyless entry dan auto climate control yang absen. Namun dengan harga yang ditekan masih di bawah Rp 200 juta dan paling tidak tetap ada heater serta AC yang bisa diarahkan ke bawah, we can’t have everything, eh?

Daftar Fitur

Keyless Entry (Remote)Ada
Passive Keyless EntryTidak Ada
Engine Start/Stop ButtonTidak Ada
Spion ElektrikAda
Spion Lipat ElektrikTidak Ada
Power Window Ada (4)
Auto Up/Down WindowAda (Driver Only)
HeadlightsHalogen, Proyektor dengan Height Levelling
Daytime Running LightsAda
LED/Xenon HeadlightsTidak Ada
Foglights (Front)Ada, Halogen
Foglights (Rear)Tidak Ada
TaillightsHalogen
Auto LightsTidak Ada
Wiper (Front)2, Intermittent
Wiper (Rear) Ada, Intermittent
Auto WipersTidak Ada
Tilt SteeringAda
Telescopic SteeringTidak Ada
Height Adjustable SeatDriver Only
Adjustable Headrest5
Audio Steering ControlAda
Bluetooth Telephony Steering ControlAda + Voice Command
Cruise ControlTidak Ada
Air ConditioningAda + Heater, 4 Level Fan
Auto Climate ControlTidak Ada
DefoggerAda
Multi Information DisplayAda (Odo., Tripmeter (1), Avg. & Real Time Consumption, Avg. Speed, Time Spent, Distance Left, Engine Oil Life)
Power Outlet1
USB Port1
Aux PortAda
HDMI PortTidak Ada
CD/DVD SlotTidak Ada
Touch Screen Head UnitAda, MyLink 7 Inci
BluetoothAda (Telephony & Music Streaming)
Smartphone IntegrationAda (Apple CarPlay & Android Auto)
Speaker6
Cabin Light1 (Depan)
Airbag2 (Depan)
Adjustable Seat BeltTidak Ada
3-Point Seat Belt5
ABS, EBDAda
ISOFIX PointsAda, 2
Active SafetyTidak Ada
Passanger Seat Belt IndicatorAda

Desain (Score: 7/10)

Eksterior

Hanya karena Spark menggunakan brand dari Amerika Serikat, jangan berharap banyak desainnya terlihat berbeda dari pesaingnya. Namun bila dibanding sang pendahulu yang berkode bodi M300, Spark anyar memang mengalami perubahan drastis.

Disebut desain “Kontemporer”, image tinggi nan ‘cungkring ditinggalkan. Dengan menanggalkan roof rail dan menurunkan ketinggian sebanyak 45 m. Jika tak tahu lebih baik, akan banyak yang berpikir si mungil ini adalah kakaknya, Aveo.

Gril depan model Dual-Port sekarang mirip dengan yang dipakai All New Trax dan Captiva, sehingga image Chevy jelas akan langsung terlihat.

Chevrolet Spark

Tampilan Eksterior All new Chevrolet Spark. Foto/Carmudi Indonesia.

Akan mudah saja untuk anda jatuh cinta dengan bagian depan hatchback mini ini. Berkat gril baru yang memberi kesan lebar, lampu depan dengan proyektor halogen dan DRL. Serta lampu kabut yang housing-nya memiliki desain banyak lekukan membuat front fascia-nya tampak tampan.

Sayangnya, profil dengan velg 14 inci yang terlalu polos dan bagian belakang tanpa spoiler maupun plastik hitam apapun sangat mengurangi nilai atraktifnya dari sudut selain di depan.

Untungnya, handel pintu belakang yang bersembunyi di pilar C ala-ala Honda HR-V atau Nissan Juke dilanjutkan, juga window line krom yang jadi satu-satunya dimiliki di kelas ini.

Interior

Desain berlekuk-lekuk dari luar kembali dibawa ke dalam. Dasbornya memanjang luas ke depan memberi windshield cukup besar. Aura mobil yang seakan-akan luas, meski sebenarnya kabin Spark termasuk sempit.

Tampilan pintu yang seakan bersambung dari dasbor pun membuat kami memaakfan penggunaan plastik di setiap sisi interior. Wajar memang di range harga ini, namun kami mengekspektasikan adanya lapisan kain di door trim untuk mengurangi kesan murah.

Chevrolet Spark

Interior baris pertama Chevrolet Spark. Foto/Carmudi Indonesia.

Untungnya, beberapa bahan premium seperti piano black dan brushed metal digunakan di fascia tengah dan tuas transmisi. Begitu juga handel pintu dalam yang dilapis bahan krom.

Sedangkan dengan baik hati diberikan headrest terpisah yang tinggi-rendahnya bisa diatur untuk semua jok. Meski memang bahan fabric yang digunakan terasa cukup keras baik untuk sandaran kepala dan jok itu sendiri.

Chevrolet Spark

Interior baris kedua Chevrolet Spark. Foto/Carmudi Indonesia.

 

Sangat disayangkan, handle bar sama sekali absen di belakang. Sehingga penumpang tidak bisa berpegangan apapun ketika sang pengemudi bermanuver di kala kencang.

Akomodasi

Satu sisi yang membuat Spark sangat lemah adalah soal akomodasi. Contoh bagasinya, yang hanya muat satu koper besar saja. Untungnya, ada parcel shelf agar apa yang ada di balik jok belakang tidak terlihat dari luar dan bisa digunakan untuk meletakkan kotak tisu maupun bantal.

Bila ingin menambah kapasitas, mekanisme lipat yang tersedia cukup unik. Karena bagian bawah jok belakang perlu diangkat terlebih dahulu sebelum menurunkan sandarannya yang dipisahkan dengan konfigurasi 60:40, sehingga lantainya bisa lebih rata.

Chevrolet Spark

Begasi Chevrolet Spark tanpa menghilangkan jok baris kedua. Foto/Carmudi Indonesia.

Chevrolet Spark

Jok baris kedua ditidurkan kapasitas untuk menaruh barang lebih banyak. Foto/Carmudi Indonesia.

Mau meletakkan botol minum di belakang? Nope, you can’t. Sama sekali tidak tersedia lubang di door trim, juga tidak ada kantung di belakang jok. Memang ada satu cupholder di konsol tengah, Anda harus berebutan dengan yang di depan.

Sedangkan di depan sendiri, ada 1 cupholder di masing-masing pintunya dengan tempat storage minim. Dua cupholder di bawah fascia tengah, 1 ruang cukup besar di bawah USB port. Hingga uniknya, bagian dasbor yang berlubang dan dilapisi karet untuk meletakkan dompet atau barang lainnya.

Spesifikasi Desain:

Dimensi (p x l x t) : 3.636 mm x 1.595 mm x 1.476 mm
Wheelbase : 2.385 mm
Radius Putar : 4,75 m
Ground Clearance : 159 mm
Berat Kosong/Kotor : 917 kg / 1.247 kg

What We Like
(+) Performa mesin 1.400 cc di bodi mungilnya
(+) Rasa fun to drive dan handling yang cukup natural
(+) Fitur kelas atas seperti Apple CarPlay dan Android Auto
(+) Pengaturan internal terintegrasi di MyLink cukup mendalam
(+) Value for money yang tinggi

What We Don’t Like
(-) Ruang belakang terasa sempit
(-) Bantingan cukup keras untuk bermanuver di dalam kota
(-) Ruang bagasi terlalu kecil
(-) Bahan jok keras
(-) Rasa mengendat-endat CVT

Penulis: Fransiscus Rosano

 

Dony Lesmana

Dony Lesman memulai karirnya di dunia jurnalis di Jawa Pos Surabaya 2003. Hijrah ke Jakarta bergabung di majalah Otomotif Ascomaxx dan Motomaxx di 2010. Sempat bergabung di portal berita Sindonews.com di kanal Autotekno hingga 2016 yang mengupas perkembangan otomotif dan teknologi. Terhitung Januari 2017 masuk sebagai tim Journal Carmudi Indonesia yang mengulas dan mempublikasikan berita-berita otomotif terbaru di Indonesia maupun dunia.

Related Posts