BeritaMobilSumber informasi

Soal Mobil Listrik, Indonesia Jangan Cuma Mau Jadi “Tukang Jahit”

Ilustrasi mobil Listrik (Foto: Carscoops)

Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian menargetkan pada 2025 kendaraan Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) sudah diproduksi. Targetnya sebanyak 20 persen dari seluruh populasi kendaraan di Indonesia.

Itu artinya pemerintah sangat serius dalam menghadirkan mobil listrik di Tanah Air. Tapi untuk mencapai hal tersebut ada banyak pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintah yaitu menggunakan banyak komponen lokal di mobil listrik.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Yohannes Nangoi, mengatakan terkait hal ini. Dalam memproduksi mobil listrik itu ada beberapa komponen utama, seperti baterai dan motor listrik.

Menurutnya kedua komponen itu harus di produksi di Indonesia di samping komponen lainnya. Jngan sampai mobil listrik diproduksi di Indonesia tapi hampir 100 persen komponennya di datangkan dari luar negeri.

“Kami (Gaikindo) mendukung pemerintah, cuma faktanya kedepan sangat menantang, risetnya berat. Jangan sampai kita (Industri otomotif di Indonesia) hanya menjadi pasar mobil listrik yang hanya ngejahit,” ujarnya.

Dirinya mencontohkan iPhone itu buatan China dengan harga 1.100 USD. Di China iPhone hanya diproduksi saja, pihaknya mendapat untung 60 USD. Sementara Taiwan yang supply komponennya mendapat 200 USD.

Korea Selatan yang juga menyuplai komponen dapat sekira 280 USD, lalu Jerman sebagai penyuplai komponen mendapat untung lebih besar yaitu 400 USD. Jadi ongkos ‘jahit’ IPhone itu di China hanya 60 USD.

“Kalau sekarang bikin mobil listrik di Indonesia tapi semua komponennya impor ya enggak ada untungnya buat kita (Indonesia). Itu yang kami (Gaikindo) jaga, tolong dijaga industri otomotif Indonesia yang sedang berkembang,” tegas Nangoi.

Sekarang ini ada beberapa mobil yang diproduksi di Indonesia untuk pasar domestik dan ekspor meskipun masih ada latar belakang nama perusahaan asing. Namun menurut Nangoi mobil-mobil tersebut membawa keuntungan bagi Indonesia karena di produksi secara lokal dan menggunakan banyak komponen dalam negeri.

“Sekarang industri otomotif Indonesa ada Agya dan Ayla, keduanya menggunakan 80 sampai 90 persen komponen lokal. Sudah bisa dikatakan sebagai produk nasional namanya memang ada Daihatsu dan Toyota. Kalau mau merek nasional tapi 80 sampai 90 persen komponennya dari luar, yang ada kita (Indonesia) hanya sebagai tukang jahit saja, nanti keuntungan buat kita kecil sekali,” tuturnya.

Pabrikan Otomotif di Dalam Negeri Mau Berinvestasi

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sempat mengungkapkan, sudah ada beberapa pabrikan otomotif dalam negeri yang siap berinvestasi. Guna mengembangkan kendaraan emisi karbon rendah (low carbon emission vehicle/LCEV) atau mengusung konsep ramah lingkungan, termasuk mobil listrik.

“Misalnya, Mitsubishi yang telah menghibahkan 10 mobil listrik kepada Pemerintah Indonesia. Untuk dilakukan studi bersama mengenai teknologinya. Kemudian, Toyota juga tengah melakukan studi bersama melibatkan UI, UGM, ITS dan ITB mempelajari teknologi berbagai tipe mobil listrik,” paparnya.

Menperin menilai, salah satu kunci pengembangan mobil listrik itu berada di teknologi energy saving, yaitu penggunaan baterai. “Indonesia punya sumber bahan baku untuk pembuatan komponen baterai, seperti nikel murni,” ujarnya.

Mitsubishi

Mitsubishi Motor Corporation (MMC) berikan 10 kendaraan listriknya kepada Pemerintah Indonesia . Foto/Carmudi.

Indonesia memiliki nikel murni dan bisa diolah secara lokal, bahkan, sudah ada industri pengolahan nikel murni yang berinvestasi di Morowali dan Halmahera. Selain itu, ada satu bahan baku lainnya, yakni kobalt yang juga dapat mendukung pembuatan baterai.

Dengan ketersediaan dua sumber bahan baku tersebut, Menperin meyakini, teknologi baterai untuk mobil listrik dapat dikuasai terlebih dahulu.(dol)

Santo Sirait

Santo Sirait sebelumnya Jurnalis di Okezone.com, pindah ke Carmudi.co.id sebagai Reporter pada November 2017. Fokus di sektor otomotif, terutama meliput tentang mobil, motor dan industri otomotif. Santo dapat dihubungi di [email protected]

Related Posts