Home » Berita » Strategi Renault Indonesia Dipaparkan, Agresif Tanpa Target Penjualan

Strategi Renault Indonesia Dipaparkan, Agresif Tanpa Target Penjualan

Aliansi Renault Nissan Mitsubishi

Jakarta – Nusantara Maxindo Group secara resmi ditunjuk Renault Asia Pacific sebagai mitra baru guna memasarkan dan membangun bisnis strategi Renault Indonesia. Kerja sama ini akan resmi beroperasi per tanggal 24 Februari 2019 mendatang.

“Alasan kami ditunjuk dan setuju menjalin kemitraan dengan Renault ada banyak hal. Salah satunya adalah perkembangan aliansi Renault-Mitsubishi-Nissan (jadi aliansi terbesar di dunia dengan penjualan tahunan di 2017 mencapai 10,6 juta) dan konsistensi Renault di global. Walaupun merek ini sudah 120 tahun, dia tak berhenti untuk inovasi,” kata CEO PT Maxindo Renault Indonesia (MRI), Andrew Limbert di peresmiannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (21/1) kemarin.

Di tangan PT Maxindo Renault Indonesia (MRI), pabrikan asal Perancis ini berharap mampu bersaing ketat dengan pabrikan lain yang mendominasi pasar otomotif asal Jepang. Belum lagi persaingan semakin panas berkat kemunculan produsen lain asal Cina yang mulai melontarkan amunisinya.

Strategi Renault Indonesia: Aggressive Mindset

PT Maxindo Renault Indonesia

Sadar akan hal tersebut, jajaran direksi pun dirombak.  Davy J Tuilan, sosok yang pernah jadi pentolan di beberapa pabrikan otomotif di Indonesia seperti Nissan, Suzuki dan Ford ini kini ditunjuk sebagai COO PT MRI. Dirinya memaparkan visi ke depan dengan konsep Aggressive Mindset sebagai strategi Renault Indonesia. Visi tersebut memecah pada kedua fokus, yakni sisi produk dan jaringan.

“Kunci sukses Renault di Indonesia ke depan adalah Aggressive Mindset, memanfaatkan pasar otomotif yang saat ini sangat dinamis memberikan celah bagi merek-merek baru untuk berkembang cepat,” tegas Davy penuh percaya diri.

“Ada tiga hal yang dimaksud dari agresif tadi, yakni dari sisi produk, network coverage lewat perluas jaringan serta layanan purna jual, dan juga consumer journey. Jadi kami akan mempermudah masyarakat Indonesia untuk bisa mengakses informasi maupun mendapatkan mobil Renault,” jelasnya.

Bicara tentang jaringan, Davy menjelaskan bahwa strategi Renault Indonesia sejauh ini hanya bermain di tiga segmen, hanya 20 persen total pasar di Indonesia. Renault nantinya juga akan menumbuhkan portofolio itu dalam waktu singkat. Sederhananya, Renault akan bermain di tujuh segmen.

“Ke depan, dalam waktu singkat kami akan menumbuhkan portofolionya, akan bermain di tujuh segmen. Dan mendirikan lebih dari 15 diler dalam waktu 18 bulan,” tuturnya.

Fokus pembangunannya sendiri akan lebih ke empat pulau terbesar dulu seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Pendirian diler ini dijelaskan untuk meningkatkan pelayanan purna jual juga kepada konsumen. Dengan begitu, Renault nantinya akan punya fasilitas purna jual sendiri dalam waktu beberapa bulan ke depan.

Strategi Renault Indonesia: Jual MPV 7-Seater

Tapi untuk mendongkrak pasar yang berkaitan dengan produk, Davy pun menambahkan juga akan membawa unit model MPV murah Renault ke Indonesia.

“Kami akan membawa 7-seater dengan harga terjangkau dalam waktu dekat,” seru Davy.

Besar kemungkinan MPV murah yang akan dibawa adalah Lodgy untuk memenuhi strategi Renault Indonesia. MPV ini sendiri bukanlah model baru. Model ini sudah beredar di India dengan spesifikasi mesin 1.500cc. Namun sekilas tampaknya MPV murah Renault di India ini masih akan sulit melawan dominasi Avanza maupun Xpander. Karena kalau masuk ke Tanah Air bisa-bisa harganya malah kemahalan.

Dari itu, prediksi MPV murah Renault melebar kepada MPV berbasis Renault Kwid. MPV ini memiliki nama RBC. Namun jika benar RBC akan masuk ke Indonesia, peta pertarungan justru bukan mengarah pada Avanza dan Xpander, namun lebih ke Calya, Sigra, atau bahkan Datsun GO+.

Baca Juga: Renault Siap Bawa MPV Murah Pesaing Avanza dan Xpander

Strategi Renault Indonesia: Memanfaatkan Naik Daunnya Xpander

Seperti yang dijelaskan sebelumnya tadi, Renault kini masuk ke sebuah aliansi perusahaan otomotif terbesar bersama Nissan dan Mitsubishi. Melihat pasar otomotif terutama mobil di segmen LMPV, Mitsubishi boleh berbangga diri lantaran Xpander moncer di angka penjualan pasar Indonesia.

Naiknya pamor Xpander membuka celah kerjasama menarik yang dilihat Nissan yang kemudian akan menjadi pemasok mesin LMPV ini. Hanya saja butuh waktu yang tidak sebentar sejak kerjasama dilakukan, kira-kira sekitar dua tahun hingga Mitsubishi mau berbagi platform dengan Nissan.

Lalu bagaimana dengan Renault? Menyasar pasar LMPV tentu tidak mudah. Kemungkinan berbagi platform dengan Mitsubishi masih terlihat jauh. Alhasil, prediksi menyebut bahwa Renault ‘terpaksa’ akan memboyong produk model MPV yang sudah ada ke Tanah Air.

Tidak Ada Target Penjualan

Angka penjualan Renault di Indonesia sendiri memang dianggap tidak membanggakan sejauh ini. Mengambil data penjualan keseluruhan dari Gaikindo periode Januari – November 2018, Renault hanya mampu menjual sebanyak 273 unit. Mengenai hal ini, Davy menyebutkan tidak akan ambil pusing. Dirinya mengaku strategi Renault Indonesia akan fokus pada brand awareness dulu.

“Melihat potensi yang sangat besar ini, kami akan membangkitkan merek Renault dulu saja,” tutupnya.

PT Maxindo Renault Indonesia

Tentang Renault

Renault merupakan merek mobil Eropa populer berpengalaman internasional selama 120 tahun. Renault pun kini telah menjadi salah satu aliansi otomotif terbesar di dunia. Renault juga aktif di ajang F1 sejak tahun 1977 baik sebagai peserta maupun pemasok mesin mobil F1 untuk peserta lain.

“Sebagai brand mobil Eropa yang memiliki pengalaman internasional selama 120 tahun, kami percaya bahwa Renault akan terus mendapat respon positif di Indonesia,” tutup Andrew.

Previous post
Daftar 5 SUV Di Bawah Rp 300 Jutaan yang Bisa Dibawa Pulang
Next post
LX 570 Sport SUV Lexus Alami Perubahan Signifikan Makin Powerful