Reviews

Test Drive New Honda CR-V Sensing, Diajak Naik Gunung Dieng Oke Juga!

Sebelumnya saya sudah membahas bagaimana rasanya menggunakan Sensing pada New Honda CR-V di jalan tol Cipali menuju Dieng. Kalau belum baca, silakan klik link ini dulu, ya.

Usai beristirahat di rest area KM382, tepatnya pada pukul 06.00 WIB saya melanjutkan perjalanan menuju Dieng. Rute yang saya tempuh kali ini melewati Kecamatan Sukorejo dan menempuh perjalanan via Tambi. 

Sekadar informasi, Tambi merupakan jalan alternatif yang ada di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo yang bisa digunakan untuk menuju Dieng. Hanya saja jalan tersebut memiliki kontur jalan tanjakan dan tikungan yang cukup terjal.

test drive new honda cr-v sensing

Kami menyarankan jika Carmudian yang ingin melewati daerah tersebut untuk memastikan kondisi mobil benar-benar fit, terutama pengereman.

Namun, pemandangan yang disajikan benar-benar memanjakan mata dan udaranya sangat sejuk. Melewati Tambi juga mempersingkat waktu lebih cepat 1 hingga 2 jam untuk menuju Dieng ketimbang melewati kota Wonosobo.

Menuju Sukorejo

Dari rest area, saya pun keluar di Exit Tol Weleri dan melanjutkan perjalanan menuju Sukorejo. Pada aplikasi Maps tertera jarak tempuh saya dari exit tol hingga Tambi memakan waktu sekitar lebih kurang 3 jam.

Sepanjang perjalanan menuju Sukorejo, saya dihadapkan dengan trek yang berliuk-liuk dan menanjak. Kebetulan sekali, ini menjadi momen pas untuk mencicipi SUV berpenggerak roda depan.

Harus diakui, performa mesin CR-V ini tak perlu diragukan lagi kehandalannya. Saya hanya mengandalkan mode D tanpa sama sekali mengurangi persneling melalui paddle shift di balik setir.

test drive new honda cr-v sensing

Bagian belakang New Honda CR-V with Sensing

Sebagai gambaran, New Honda CR-V turbo dibekali mesin berkapasitas 1.498 cc, 4 silinder, DOHC, i-VTEC, turbocharger dengan drive by wire. Mesin ini bisa mengeluarkan tenaga sampai 187 hp pada 5.600 rpm dengan torsi maksimal 240 Nm pada 2.000 rpm. 

Pilihan transmisinya hanya tersedia otomatis CVT yang perpindahan giginya sangat halus. Untuk melewati gunung dengan membawa penumpang penuh seperti saya, rasanya bukan masalah berarti bagi SUV kekinian ini. 

Berbagai tikungan yang diselingi tanjakan dan turunan saya lewati dengan mantap. Karena saya merasa pemandangannya cukup menyenangkan dan masih pagi, maka saya pun membuka sunroof serta panoramic untuk memanjakan mata.

test drive new honda cr-v sensing

Tampak depan New Honda CR-V with Sensing

Tak lupa, kaca jendela sedikit saya buka untuk menghirup udara segar khas pegunungan di Jl Ahmad Yani. Sekitar pukul 07.00 WIB, saya tiba di Alun-alun Sukorejo dan memutuskan untuk berhenti sejenak sembari mengisi perut yang mulai keroncongan.

Dalam hati saya berkata,”Ah pantas saja mobil ini cukup laku, ternyata nikmat betul buat dikendarai sendiri. Apalagi perjalanan jauh seperti ini”. Oh iya, sepanjang perjalanan dari Jakarta hingga Alun-alun Sukorejo saya belum digantikan oleh siapapun.

Sehingga saya yakin jika mobil ini benar-benar nyaman untuk dikendarai jarak jauh. Satu hal yang paling saya suka, posisi jok pengemudinya benar-benar pas menopang badan.

Memulai Jalur Pendakian

Sebagai informasi, dari Sukorejo jika ingin menuju Dieng biasanya akan diarahkan melewati Jl Parakan untuk menuju Wonosobo. Rute tersebut merupakan rute yang digunakan untuk mengitari Gunung Sindoro.

Namun kali ini saya melewati rute Nglaruk yang diteruskan ke daerah Dusun Sibajag dan melewati Jl Tambi. Tambi sendiri kawasan yang terkenal sebagai perkebunan teh.

Ketika memasuki wilayah Nglaruk, jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Jalur yang saya lalui benar-benar sempit, hanya cukup untuk 2 mobil saja.

New Honda CR-V with Sensing kami ajak melahap jalur alternatif menuju Dieng

Itupun jika berpapasan salah satu mobil harus mengalah agar tidak saling bergesekan. Beruntung sisi luar jalan merupakan tanah pinggir sawah yang masih bisa digunakan untuk berpijak. 

Di sinilah saya mulai merasa sedikit kerepotan mengendarai CR-V. Dimensinya yang cukup lebar membuat saya beberapa kali harus mengalah menepi ke bahu jalan ketika berpapasan dengan mobil dari arah atas.

Sekadar informasi, New Honda CR-V with Sensing ini punya dimensi yang sama persis dengan CR-V yang tanpa Sensing. Panjangnya mencapai 4.584 mm, dengan lebar 1.855 mm, dan tinggi 1.679 mm. 

Sepanjang perjalanan menuju Tambi, saya dan keluarga setuju untuk tidak menyalakan AC. Bukan karena ingin mengirit bahan bakar, tetapi karena pemandangan pegunungan sudah menyambut saya yang disertai dengan tiupan angin segar.

Pemandangan ini sangat mahal bagi saya, apalagi selama 2 tahun terakhir atau selama pandemi baru kali ini saya bisa melakukan perjalanan darat cukup jauh. 

Memaksimalkan Paddle Shift

Sekitar 20 menit perjalanan dari pertigaan Nglaruk, akhirnya tiba saatnya untuk memulai jalur pendakian. Pada saat inilah paddle shift saya gunakan untuk memindahkan gigi ketika menanjak. 

Jalur menuju Tambi terbilang cukup ekstrem dan lebar jalannya semakin ke atas semakin sempit. Tanjakan yang harus dihadapi inipun cukup terjal yang disertai tikungan tajam ke arah kanan ataupun kiri. 

test drive new honda cr-v sensing

New Honda CR-V with Sensing mengunjungi Kampoeng Atas Awan di Dusun Sibajag, Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

Beberapa kali saya sedikit memaksa mobil untuk menggunakan gigi 1 saat menanjak. Harus diakui, performa mesin turbonya sangat mumpuni ketika diajak naik gunung seperti ini.

Namun, karena beban mobil saya cukup berat akibat penuh penumpang rasanya mobil seperti sedikit keteteran ketika menanjak. Terasa beberapa kali roda depan spin akibat tanjakan curam yang disertai tikungan tajam ke arah kanan atau kiri.

Jika dibayangkan, jalur menuju Tambi ini karakternya mirip seperti arah ke gunung Bromo di Jawa Timur. Jalannya sempit, tanjakan curam, banyak tikungan tajam. 

Perjalanan dengan kontur jalan seperti ini lebih kurang memakan waktu 1 jam hingga menuju perkebunan Tambi. Sepanjang perjalanan saya sangat menikmati pemandangan yang tersaji. 

Beberapa kali penumpang di baris kedua dan tiga menghela nafas akibat tanjakan yang curam. Fitur hill start assist juga sangat membantu di saat seperti ini.

Ketika saya berhenti di tanjakan, saya tak perlu merasa khawatir mobil akan mundur. Fitur hill start assist akan menahan mobil selama beberapa detik tanpa harus menginjak rem.

test drive new honda cr-v sensing

Pemandangan di atas awan di belakang New Honda CR-V with Sensing

Ketika memasuki area perkebunan teh Tambi, pemandangannya semakin membuat orang Jakarta seperti saya kegirangan. Hamparan tanaman hijau berkolaborasi dengan indahnya pegunungan dan bukit-bukit yang ada di sana. 

Di tempat ini saya sempat mengabadikan foto 1 kali saja. Tahu pemandangan apa yang ada di arah belakang mobil saya? Hamparan awan yang terlihat seperti karpet langit.

Pemandangan ini benar-benar menjadi penyegar otak bagi saya dan seluruh penumpang. Di tempat ini sayangnya saya hanya sempat mengabadikan beberapa foto saja lantaran sulit mencari tempat parkir.

Setelah melewati Tambi, kami pun akhirnya memasuki Jl Raya Dieng. Jalur yang kami lewati benar-benar jalan pintas bagi mereka yang ingin mengejar waktu untuk menuju Dieng tanpa harus melewati kota Wonosobo.

Menuju Kawasan Wisata Dieng

Setelah masuk ke Jl Raya Dieng, jalannya seperti Jl Raya Puncak yang ada di Bogor. Dua jalur berukuran besar yang aspalnya cukup mulus, sehingga sangat nyaman dan ramah dilalui oleh mobil-mobil tidak seperti daerah Tambi yang jalannya kecil. 

test drive new honda cr-v sensing

Perjalanan kami menuju kawasan wisata Dieng hanya tinggal 30 menit lagi dari titik tersebut. Beruntung, kami menemukan pom bensin dan memutuskan mengisi bahan bakar penuh di tempat itu dan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Wisata Dieng.

Konsumsi BBM Luar Kota New Honda CR-V with Sensing

Sepanjang perjalanan dari Jakarta saya mengisi bahan bakar penuh Pertamax Turbo di rest area KM52. Itupun hanya mengisi Rp100 ribu lantaran untuk memenuhi saja.

Memasuki rest area sebelum keluar Weleri, saya kembali mengisi bahan bakar Pertamax Turbo sebanyak Rp250 ribuan. Di rest area ini posisi indikator bensin sudah setengah tangki, saya inisiatif mengisi bahan bakar untuk mempersiapkan pendakian yang sekiranya akan memakan bensin cukup banyak.

Di Jl Raya Dieng mengisi Rp100 ribu hanya memenuhi saja agar pulang ke arah Jakarta tidak perlu mengisi bahan bakar lagi. Di MID tertera konsumsi saya sepanjang perjalanan di tol mencapai 1:12 km/liter.

Wajar saja jika angka tersebut cukup boros lantaran kecepatan yang dilalui lebih dari 110 km/jam dengan muatan penuh. Tetapi menurut saya pribadi konsumsi BBM tersebut masih sepadan dengan tenaga yang dihasilkan.

Konklusi Test Drive New Honda CR-V With Sensing

Sepanjang lebih kurang 800 km perjalanan pergi dan pulang saya menilai jika Honda CR-V generasi terbaru ini sangat layak untuk dibeli dan digunakan untuk perjalanan jauh. Kenyamanan dan karakter suspensi yang empuk membuat penumpang tidak merasakan gejala lelah yang berlebihan.

Performa mesinnya juga bisa diajak kencang. Namun karena saya membawa keluarga dengan posisi mobil terisi penuh, saya harus memastikan keamanan dan keselamatan keluarga menjadi prioritas utama.

Sehingga selama di tol kecepatan maksimal yang saya raih ada di angka 140 km/jam. Namun karena di mobil tersebut terdapat Adaptive Cruise Control, otomatis saya memaksimalkan fitur tersebut di jalur yang semestinya seperti tol Cipali. 

Dengan adanya fitur tersebut benar-benar memudahkan pengemudi. Bahkan saat mobil di depan berhenti pun fitur tersebut masih bisa bekerja dengan baik.

test drive new honda cr-v sensing

test drive new honda cr-v sensing

Baca Juga:

Penulis: Rizen Panji

Editor: Dimas

Foto: Rizen/Carmudi

Rizen Panji

Pikirannya selalu dipenuhi oleh mobil buatan asal Jerman, Swedia, dan Prancis dengan tahun produksi di bawah 2000. Jangan lupa, mesin yang bersemayam di dalam kap mesin tentunya harus 6 silinder guna memompa adrenalin ketika mengendarainya

Related Posts