HomeReviewsMencicipi Toyota GR Supra di Sirkuit Sentul, Adrenalin Menetes Kencang

Mencicipi Toyota GR Supra di Sirkuit Sentul, Adrenalin Menetes Kencang

Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota
Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota

Bogor – Melihat adanya email masuk, mendadak hati saya berdegup kencang. Pasalnya, email tersebut merupakan undangan untuk ‘menjinakkan’ Toyota GR Supra di Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat. Tanpa berpikir panjang, saya pun bergegas menuju lokasi bersama dengan rekan media lain bersama Toyota. Saya merasa jadi orang yang beruntung untuk bisa mencicipi mobil impian banyak orang ini.

Selain harganya yang mahal, Toyota GR Supra ini juga terbilang langka untuk didapatkan. PT Toyota Astra Motor (TAM) selaku APM resmi Toyota di Indonesia sendiri hanya mendapatkan jatah 12 unit. Jatah tersebut pun sudah ludes dipesan oleh para miliarder Indonesia.

Bagaimana di tahun depan? Toyota sendiri belum memastikan apakah unitnya akan tersedia sebanyak 12 unit atau lebih. Pastinya, karena permintaannya cukup tinggi, Toyota sedang mengupayakan agar unit yang masuk ke Indonesia juga bertambah. Dari pada memikirkan hal tersebut, lebih baik fokus saja kepada mobil yang akan saya cicipi nanti.

Sejarah Singkat Toyota Supra

  • Toyota Supra Generasi 1

Siapa tak kenal dengan Toyota Supra? Mobil yang dikenal punya mesin buas di balik kap mesinnya ini seakan menjadi cerita legenda. Toyota Supra sendiri pertama kali eksis di dunia mulai tahun 1978 hingga 1981. Generasi pertama ini muncul mengusung nama Celica Supra dengan model liftback, yang ditujukan untuk ekspor. Toyota kala itu merilis Toyota Celica Supra ini demi memberikan perlawanan bagi muscle dan sport car asal Amerika yang kala itu merajai pasar.

Toyota Celica Supra, generasi pertama Toyota Supra
Toyota Celica Supra, generasi pertama Toyota Supra
  • Toyota Supra Generasi 2

Tak disangka, mobil dua pintu ini ternyata sukses menarik minat banyak orang di dunia. Hingga akhirnya Toyota pun merilis beberapa generasi dari Toyota Supra. Toyota Supra generasi kedua lahir pada tahun 1982 hingga 1986. Konsepnya masih sama, memakai gaya liftback dengan wheelbase yang panjang dan mesin 6 silinder.

Toyota Celica Supra gen 2. Generasi kedua Toyota Supra
Toyota Celica Supra gen 2. Generasi kedua Toyota Supra
  • Toyota Supra Generasi 3

Guna meneruskan kesuksesan ini, membuat Toyota melahirkan generasi ketiga dari Toyota Supra yang lahir pada tahun 1986 sampai 1992. Pada generasi inilah, Toyota mulai menanggalkan nama Celica dan mulai mengenalkan mobil sport berkemampuan tinggi secara khusus. Bodi tetap liftback dengan penggerak roda belakang. Dengan nama lengkap Toyota Supra MA70, mobil ini jadi mobil sport berteknologi canggih kala itu. Ia ditanamkan fitur rem ABS dan Toyota Electronic Modulated Suspension (TEMS). Suspensi ini dapat diatur tingkat kekerasannya sesuai selera sang pemilik. Desainnya seakan menyerupai BMW 8 Series yang juga lahir di tahun yang sama.

Generasi ketiga Toyota Supra, tak lagi memakai nama Celica
Generasi ketiga Toyota Supra, tak lagi memakai nama Celica
  • Toyota Supra Generasi 4

Namun, era Toyota Supra seakan baru lahir di generasi berikutnya. Karena generasi keempat yang lebih dikenal dengan nama JZA80 ini dibuat jauh lebih kencang dan buas dibandingkan generasi ketiga. Toyota Supra generasi keempat dibekali dengan mesin baru yang masih dianggap sebagai mesin pujaan hingga detik ini. Mesin tersebut merupakan mesin 6 silinder berkode 2JZ-GE dan 2JZ-GTE. Generasi keempat ini lahir pada tahun 1993 hingga 2002. Sejak saat itu, nama Toyota Supra pun sangat ikonik dengan sebagai mobil pilihan pecinta kecepatan.

Generasi 4 Toyota Supra, bermesin 2JZ yang legendaris
Generasi 4 Toyota Supra, bermesin 2JZ yang legendaris

Mesin yang bersemayam di balik kap mobil ini bisa dimodifikasi hingga menghasilkan tenaga ribuan Hp (horse power). Hal tersebut menjadi mungkin karena material mesin yang digunakan pada Toyota Supra generasi ini memang dikhususkan sebagai mesin high performance.

  • Toyota Supra Generasi 5

Bagai sebuah lilin yang sedang menyala yang tiba-tiba padam, Toyota seakan ‘tidak memikirkan’ generasi baru bagi Toyota Supra. Karena sejak tahun 2002 hingga 2017 silam, Toyota tak kunjung memamerkan model baru Supra. Tak heran jika banyak yang menilai jika kehadiran Toyota Supra baru sudah menjadi angan-angan semata.

Generasi 5 Toyota Supra, hasil kolaborasi dengan BMW
Generasi 5 Toyota Supra, hasil kolaborasi dengan BMW. Photo: Toyota

Namun, cerita legenda Supra pun berlanjut. Toyota kembali menorehkan tinta sejarah dengan memunculkan teaser Toyota Supra generasi kelima pada 5 Juli 2018. Pertama kali muncul ke hadapan publik, banyak perdebatan mengenai mobil ini. Ada yang menilai jika desainnya tak sesuai ekspektasi, namun ada tak sedikit juga yang memuji desain baru tersebut. Padahal, 4 tahun sebelumnya tepatnya pada 2014, Toyota pernah memamerkan sebuah mobil konsep dengan nama FT-1. Mobil konsep inilah yang akhirnya digunakan untuk desain Toyota Supra yang saat ini telah meluncur di seluruh dunia.

Baca Juga: Ternyata Pembeli Toyota GR Supra Juga Ada yang Kredit

Kedatangan di Sirkuit Sentul

Jam menunjukkan pukul 12 siang WIB. Sirkuit Sentul pada Rabu (20/11/2019) siang itu terasa sangat panas menyengat. Saya yang masuk ke dalam batch kedua harus menelan ludah untuk menunggu giliran batch pertama selesai. Sebanyak lebih dari 30 media diundang untuk mencicipi Toyota GR Supra di Sirkuit Sentul. Batch pertama selesai lebih kurang pukul 13.00 WIB yang dilanjut menuju batch kedua. Sembari menunggu giliran saya yang kebagian pukul 16.00 WIB, saya pun menikmati santap siang sembari melihat Toyota GR Supra melintas penuh amarah di trek lurus.

Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota
Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota

Deru mesin Toyota GR Supra yang melintas di trek lurus Sirkuit Sentul membuat saya berdebar-debar dan tentunya menciutkan nyali saya yang sedang menunggu giliran.

Hingga akhirnya giliran saya pun tiba, ternyata saya tidak langsung bisa mencicipi Toyota GR Supra itu. Di sana ada tiga mobil yang disiapkan. Yakni Toyota 86 modifikasi dengan transmisi manual, Toyota C-HR modifikasi Modellista, dan Toyota GR Supra. Sebelum mencicipi Supra, saya mendapatkan giliran mencicipi Toyota 86. Dalam hati saya bergumam,”Wuih, transmisi manual nih. Pasti sedap banget”.

Setiap peserta diwajibkan memakai helm sebagai aturan mengendarai mobil di dalam sirkuit. Saya tak bisa banyak melakukan pengaturan, karena saya merupakan kelompok yang masuk ke dalam giliran terakhir test drive. Helm dipakai, masuk ke posisi gigi 1 dan saya pun melaju. Pebalap Toyota Team Indonesia (TTI) menjadi pendamping saya. Ia sembari menjelaskan mengenai sedikit kondisi di dalam sirkuit dan bagaimana cara berkendara ala pebalap.

Pemanasan Menggunakan Toyota 86 Transmisi Manual

Saya pun mencoba menginjak gas dalam-dalam. Ternyata Toyota 86 bertransmisi manual ini benar-benar membuat saya tersenyum. Tenaganya besar, dan handling yang dihasilkan juga mengasyikkan. Putaran bawah mesin lumayan bertenaga, tetapi masuk putaran tengah ke atas, Toyota 86 ini seakan menantang saya untuk lebih liar. Putaran tengah ke atas lebih berisi lagi ketika gas diinjak dalam-dalam. Karena saya hanya diberikan kesempatan 1 lap saja, jadi saya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Tikungan demi tikungan pun dilahap dengan asyik. Ini benar-benar menjadi salah satu pengalaman mengasyikkan mengendarai mobil bertransmisi manual di sirkuit.

Toyota C-HR balap. Photo: Toyota
Toyota C-HR balap. Photo: Toyota

Handling Toyota 86 ini benar-benar nikmat. Badan dan kaki dibuat bergoyang karena harus memainkan irama pada saat berbelok, melakukan pengereman dan memutar setir di racing line (garis belok yang disarankan). Setelah mencicipi Toyota 86, saya kemudian berpindah menuju Toyota C-HR yang sudah dimodifikasi. Karena sudah sore dan kondisi saat itu sudah mulai mendung, penggantian mobil pun dipercepat dengan alasan agar tidak terkena hujan pada saat test drive. Wajar saja, karena pada saat siang hari sirkuit Sentul ini sangat panas, jika hujan deras aspal sirkuit akan menjadi sangat licin. Itu cukup berbahaya bagi pengendara, sekalipun itu adalah pebalap profesional.

Baca Juga: Generasi Penerus Toyota 86 dan Subaru BRZ Segera Diperkenalkan, Kapan?

Tersenyum Bersama Toyota C-HR

“Padahal belum puas nyicipin Toyota 86, tapi sudah harus ganti mobil,” gumam saya dalam hati. Panitia yang bertugas sesegera mungkin mengatakan jika peserta harus secepat mungkin berganti mobil. Saya pun segera duduk di Toyota C-HR.

Toyota C-HR ini menggunakan bodykit buatan Modellista. Modellista merupakan rumah modifikasi yang berafiliasi dengan Toyota di Jepang. Modellista menyediakan komponen aksesoris untuk varian Toyota yang dijual.

Kembali ke Toyota C-HR, ya. Mobil yang saya cicipi ini merupakan mobil dengan transmisi otomatis.

Toyota C-HR balap. Photo: Toyota
Toyota C-HR balap. Photo: Toyota

Saya juga didampingi oleh pembalap TTI saat mengendarai C-HR. Aba-aba berjalan sudah dilontarkan, saya pun bergegas memasukkan tuas transmisi ke posisi D untuk segera meninggalkan pitstop.

“Langsung gas aja ya mas, karena kita ngejar cuaca nih mau hujan,” ujar pembalap TTI kepada saya.

Suara dan kilatan cahaya petir seakan memaksa saya untuk segera bergegas. Memasuki tikungan pertama, saya merasa jika Toyota C-HR ini memang cukup asyik diajak berlari di aspal sirkuit.

Namun tetap tidak seasyik Toyota 86 yang merupakan mobil sport sedan. Meski demikian, tikungan demi tikungan dilahap dengan cukup baik oleh mobil crossover ini. Performa mesin yang dihasilkan dan suara knalpot khas balap menjadi kesenangan tersendiri yang tak dapat diungkapkan. Di trek lurus, mobil ini ternyata cukup kencang juga. Bahkan untuk diajak menikung dalam kecepatan tinggi juga terbilang nyaman. Namun karena harus mendengarkan instruksi dari pebalap di samping saya, saya pun dipaksa untuk menyiksa mobil ini.

“Injak rem yang dalam, kalau bisa badannya harus sampai maju ke depan!” seru pebalap TTI kepada saya.

Rem pun saya injak, sontak mobil berdecit untuk menghentikan langkahnya. Setelah rem diangkat, setir dipaksa diputar mengikuti arah tikungan dan gas kembali diinjak dalam-dalam.

“Woohooooo. Asyik banget nikung-nikung dan ngegas kenceng kaya begini,” dalam hati sembari tersenyum dan tertawa.

Tak terasa, saya sudah diharuskan kembali menuju pit stop untuk berganti ke mobil yang sudah menjadi fokus saya sejak awal, Toyota GR Supra. Sesaat memasuki pit stop, tetesan air hujan sudah turun. Ternyata tetesan ini tak hanya berasal dari air hujan saja, tetapi tetesan ini juga datang dari adrenalin saya yang mendadak berdegup sangat kencang. Jujur saja, saya langsung merasa terintimidasi oleh tampilan Toyota GR Supra.

Baca Juga: Toyota C-HR Facelift Resmi Meluncur, Sayang Bukan untuk Pasar Indonesia

Bagian mesin Toyota GR Supra. Photo: Toyota
Bagian mesin Toyota GR Supra. Photo: Toyota

First Impression Toyota GR Supra

Wajah menjorok ke depan, kap mesin yang besar dan panjang disisipi dengan lampu LED melancip. Jika dilihat dari depan, wajahnya terlihat seperti raut wajah yang sedang marah. Terlihat garang untuk sebuah mobil sport. Ditambah lagi bagian depan punya lekuk yang dapat membuat mobil ini lebih aerodinamis pada saat melaju di kecepatan tinggi.

Jujur, Toyota GR Supra ini punya kap mesin yang panjang dan besar. Lekuk tubuhnya membulat dari sisi samping hingga bagian belakang. Di bagian atap, terlihat lekukan seperti ombak di bagian kanan dan kiri. Tujuannya untuk memberikan ruang kepala yang lebih besar untuk orang berpostur tinggi.

Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota
Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota

Di bagian belakang, Toyota GR Supra terlihat kecil. Walaupun ini adalah sebuah mobil dengan posisi mesin yang berada di depan, menurut presentasi Toyota mobil ini memiliki handling yang setara dengan mobil bermesin tengah. Distribusi bobotnya dibuat sepresisi mungkin.

Daripada penasaran, saya pun segera memasuki kabin dari Toyota GR Supra. Entah sebuah keberuntungan atau sedang sial, ketika saya masuk ke dalam Supra, guyuran hujan deras langsung menyapa saya.

“Mas, nanti kecepatannya diturunkan ya. Jangan terlalu kencang, karena ini hujannya sudah mulai deras,” ujar panitia sebelum membolehkan saya meninggalkan pit stop.

“Oke, mbak,” jawab saya cepat.

Tanpa pikir panjang, saya pun langsung bergegas meninggalkan pit stop untuk menjinakkan monster merah ini.

Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota
Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota

Sensasi Mengendarai Toyota GR Supra Saat Hujan Deras di Sirkuit

Sebelum memasuki belokan pertama usai keluar dari pit stop, pebalap TTI mengatakan untuk ‘sedikit nakal’.

“Gas aja mas, enggak apa-apa kok,” katanya.

Tanpa pikir panjang, saya pun menginjak dalam-dalam pedal gas. Mesin berkode B58 berkapasitas 2.998 cc, 6 silinder segaris, 24 valve, twin scroll turbocharge ini seakan menjelma monster yang berteriak meminta dilepaskan dari dalam. Tenaga yang dihasilkan terasa sangat mantap dan besar. Tak terasa angka speedometer sudah menunjukkan 130 km/jam. Memasuki tikungan, saya menginjak dalam-dalam sesuai dengan teknik yang diinstruksikan oleh pebalap saat briefing.

Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota
Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota

“Injak rem dalam, tahan.. tahan.. keluar tikungan sebentar lagi, baru injak gas,” kata pebalap memberi instruksi.

Sesaat keluar dari tikungan, saya diminta untuk menginjak dalam-dalam pedal gas. Lonjakan tenaga yang benar-benar buas akhirnya bisa saya rasakan. Pada saat menginjak gas, bagian belakang mobil terasa sedikit membuang berlawanan arah. Ternyata saya merasakan mobil mengepot pada saat keluar tikungan.

“HAHAHAHAHAHAHA, gila ini mobil seru banget! Wooooooh,” ucap saya reflek.

Memasuki trek lurus, tenaga yang dihasilkan terasa mengalir. Menurut saya, mesin dan transmisi otomatisnya sangat responsif.

Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota
Toyota GR Supra, test drive di sirkuit Sentul. Photo: Toyota

Putaran bawahnya bertenaga hingga atas. Selain dikarenakan oleh hujan, tenaga mobil ini memang cukup besar. Sehingga cukup mudah untuk membuatnya mengepot pada saat keluar tikungan. Hujan pun semakin deras, saya pun mencoba untuk lebih mengeksplorasi lebih dalam Toyota GR Supra ini. Memasuki tikungan S besar di sirkuit, saya diminta untuk mengikuti racing line. Dan lagi-lagi, saya merasakan mobil ini mengepot pada saat masuk dan keluar tikungan. Bagi pembeli mobil seharga Rp1,9 miliar ini, rasanya mereka tak akan kecewa dengan performa dan kesenanangan berkendara yang dihasilkan oleh GR Supra.

Speedometer Toyota GR Supra. Photo: Toyota
Speedometer Toyota GR Supra. Photo: Toyota

Kepotan Dikendalikan Fitur LSD

Walaupun merasakan mobil sedikit mengepot, tetapi mobil ini punya fitur limited slip differential (LSD) yang dikontrol penuh secara elektronik. Tak terasa, tetesan hujan pun semakin deras. Adrenalin saya terpompa cukup dalam saat mengendarai Toyota GR Supra di Sirkuit Sentul saat hujan deras. Saking cepat dan antusiasnya, saya tidak mempedulikan sisi interior apa saja yang ada di dalam mobil. Saya hanya fokus ke dalam sensasi mengemudi yang jarang didapatkan orang.

Usai meninggalkan mobil, sore itu saya meninggalkan arena sirkuit hampir jam 4 sore. Di belakang saya, masih terngiang pengalaman mengendarai mobil legenda yang terlahir kembali sembari ditemani oleh derasnya air hujan yang menjadi memori manis. Selamat datang Toyota GR Supra!

Bagian dalam Toyota GR Supra. Photo: Toyota
Bagian dalam Toyota GR Supra. Photo: Toyota
Bagian dalam Toyota GR Supra. Photo: Toyota
Bagian dalam Toyota GR Supra. Photo: Toyota
Bagian dalam Toyota GR Supra. Photo: Toyota
Bagian dalam Toyota GR Supra. Photo: Toyota

Spesifikasi Toyota GR Supra

Dimensi

  • Panjang: 4.380 mm
  • Lebar: 1.855 mm
  • Tinggi: 1.290 mm
  • Wheelbase: 2.470 mm

Kaki-Kaki

  • Suspensi: Double-joint Type MacPherson Strut (depan), Multi-Link (belakang)
  • Rem: Ventilated Disc Brake with Fixed Caliper 4-cylinder (depan), Ventilated Disc Brake with Floating Caliper 1-cylinder (belakang)
  • Ukuran Ban: 275/35 R19

Mesin

  • Mesin: 2.998 cc, B58, 6 Cylinders, Inline Type, 24-Valve DOHC, Chain Drive with Variable Valve Timing (IN/EX), Twin-scroll Turbocharger
  • Tenaga: 340 Ps/5.000-6.500 rpm
  • Torsi: 50.5 kgm/1.600-4.500 rpm

 

Penulis: Rizen Panji

Editor: Dimas

Baca Juga:

Marcus Gideon Punya Toyota GR Supra Satu-satunya di Indonesia

 

Previous post
Tak Cuma di Indonesia dan Vietnam, Mitsubishi Xpander Juga Akan Dirakit di Malaysia
Next post
Juara Modifikasi, Ford Falcon 76 Akasia Ini Jadi Trendsetter Baru