Home » Berita » Resmi Diluncurkan, Simak Penjelasan Tentang e-Drive

Resmi Diluncurkan, Simak Penjelasan Tentang e-Drive

Jakarta — Setelah meluncurkan Smart SIM, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya kembali mengeluarkan inovasi baru, yaitu Electronic Driving Test System atau dikenal dengan e-Drive. Ini merupakan uji praktik penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM) dengan sistem elektronik.

Sistem tersebut menggunakan sensor getar dan cahaya infra merah yang terhubung dengan ruang monitoring sehingga ujian mengemudi jadi lebih transparan dan akurat.

Dilansir dari laman resmi NTMC Polri Senin (9/12), e-Drive menggunakan berbagai teknologi elektronik, salah satunya Radio Freauency Identification (RFID). Fitur ini merupakan sistem identifikasi nirkabel, dimana bisa mengambil data tanpa harus bersentuhan.

Saat peserta melewati radar RFID, data peserta akan tampil di aplikasi ujian praktek SIM pada ruang monitoring. Selain itu, terdapat Vibration Sensor.

Kombes. Pol. Yusuf, S.I.K., M.Si. selaku Dirlantas Polda Metro Jaya mengungkapkan vibration sensor, yaitu sensor yang dapat mengetahui suatu getaran pada benda.

“Sensor ini diletakkan dalam patok yang terpasang di samping lintasan. Jika kendaraan menyenggol atau menabrak patok, maka sensornya akan aktif dan mengirimkan sinyal ke aplikasi uji praktek SIM di komputer server pada ruang monitoring,” jelasnya.

Yusuf juga mengatakan dengan adanya fitur vibration sensor ini, penguji dapat mengetahui posisi dan jumlah patok yang tersenggol atau tertabrak.

Fakta e-Drive

Penerapan e-Drive. (Foto: NTMC Polri)

Resmi diluncurkan pada Kamis (5/12) lalu, Yusuf memberitahukan beberapa hal berkaitan dengan penerapan e-Drive sebagai berikut.

  1. e-Drive memiliki sistem dengan empat buah sensor, yakni RFID (Radio Frequency Identification), Passive Infrared, Ultasonic, dan Vibration Sensor.
  2. Seperti dijelaskan sebelumnya, sensor RFID merupakan sistem untuk mengambil data secara nirkabel. Saat peserta melewati radar RFID, data akan tampil pada aplikasi ujian praktik SIM di ruang monitoring secara otomatis.
  3. Passive infared yaitu cahaya infra merah yang berfungsi untuk mengetahui saat peserta memulai dan selesai pada masing-masing tahapan. Fitur ini terpasang di garis awal dan garis akhir.
  4. Vibration sensor untuk mengidentifikasi getaran jika ada peserta yang menyentuh atau menabrak patok yang dipasang di samping lintasan.
  5. Sensor ultrasonik merupakan pancaran gelombang suara dengan frekuensi sebesar 20 kilo Hertz untuk ujian praktik tanjakan dan turunan. Sensor akan mengirimkan sinyal ke ruang monitoring jika terdapat pergerakan maju atau mundur sebelum kendaraan melanjutkan tanjakan ataupun turunan.

Penulis: Nadia

Editor: Lesmana

Previous post
Tak Seberuntung di China dan Thailand, Toyota RAV4 Singkirkan Mazda3 di Jepang
Next post
Diduga Ada Iklan Terselubung, Video Demo Keselamatan Garuda Indonesia di-Bully