HomeBeritaGrab dan Uber Bakal Bersatu di Asia Tenggara, Mungkinkah?

Grab dan Uber Bakal Bersatu di Asia Tenggara, Mungkinkah?

Jakarta – Bisnis layanan transportasi online tumbuh subur di negara berkembang seperti Indonesia. Kebutuhan akan moda transportasi yang murah dan nyaman, membuat layanan aplikasi seperti Grab atau Uber terus berbenah diri. Di masa depan, kedua perusahaan itu tidak lagi bersaing karena layanan keduanya berpotensi dipersatukan dalam cakupan regional.

Uber, perusahaan transportasi masa kini asal Amerika Serikat, sudah cukup lama eksis di dunia transportasi online Indonesia. Mereka menghadapi persaingan sengit dengan Go-Jek dan Grab untuk layanan ojek dan taksi online.

Setelah memindahkan pusat operasionalnya ke China di bawah kepemimpinan Didi Chuxing pada 2016, Uber bermaksud memfokuskan operasinya ke ASEAN, pasar internet terbesar keempat di dunia. Ternyata, Uber harus menghadapi Grab yang kuat dalam cakupan Asia Tenggara. Situasi ini tentu bakal menimbulkan rivalitas atau persaingan memperebutkan pelanggan.

grab dan uber
Transportasi Online dari Uber (Foto: Uber)

Dikutip dari Paultan, Uber telah mengklaim angka 5 miliar perjalanan pada Juni lalu. Namun, Uber tidak menjelaskan secara rinci perihal jumlah perjalanan di tiap negara. Sementara itu, Grab ‘hanya’ meraih jumlah perjalanan sebesar 1 miliar trip di kawasan Asia Tenggara. Sekalipun lebih kecil, cakupan layanan Grab lebih luas.

Grab di kawasan ASEAN menyediakan 95% taksi dari pihak ketiga. Dari jumlah tersebut, 71% kendaraan dimiliki oleh kalangan pribadi.

Grab hadir di lebih dari 160 kota ASEAN dan Asia Selatan, tersedia di Malaysia, Singapura, Indonesia, India, Thailand, Filipina, Vietnam, Myanmar dan Kamboja. Sementara itu, Uber hanya dapat diakses di 60 kota di wilayah ini.

Meroketnya penyebaran wilayah Grab ini karena perusahaan sejak awal menawarkan pembayaran tunai sebagai pilihan. Sebaliknya, Uber lamban mengimplementasikan pembayaran tunai di ekonomi yang sebagian besar berbasis uang tunai pada sebagian besar negara di kawasan ASEAN. Perusahaan asal San Francisco ini awalnya hanya menyediakan pembayaran melalui kartu kredit.

Wacana Penggabungan oleh Softbank

Sulitnya cara pembayaran ongkos pastinya membuat pertumbuhan Uber tersendat, ditambah lagi persaingan dengan layanan sejenis. Namun, rivalitas antara kedua raksasa transportasi online ini mungkin segera berakhir karena Softbank disebut berencana mendorong penggabungan keduanya.

Perusahaan komunikasi asal Jepang ini secara resmi memiliki saham baik di Grab maupun di Uber.  Tahun lalu Softbank menginvestasikan modal beberapa miliar dolar AS ke Uber.

Bukan tidak mungkin, layanan keduanya dibuat terintegrasi. Ini sudah dilakukan antara Go-Jek dengan perusahaan taksi Blue Bird di Indonesia. Pengguna bisa memesan taksi konvensional melalui menu aplikasi yang disediakan Go-Jek.

Kita nantikan saja perkembangan selanjutnya. (dna)

Suzuki Ignis
Previous post
10 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Suzuki Ignis SE
Yamaha Lexi
Next post
Tak Hanya Perempuan, Yamaha Lexi Juga Cocok untuk Ojek Online