Home » Tips dan Trik » Kenali Penyakit Satria Hiu, Pengapian Suka Ngambek

Kenali Penyakit Satria Hiu, Pengapian Suka Ngambek

Satria Hiu, Penutup Era Suzuki Satria 2-Tak yang punya penyakit di pengapian

Jakarta – Para penggemar kecepatan era 90an sampai 2000-an tentu sudah tidak asing dengan Satria 120R. Motor keluaran Suzuki ini menjadi bebek super dengan mesin 2-tak, karena bermesin 120 cc dan jadi salah satu yang terbesar saat itu. Pada generasi terakhir Satria 120R ditutup dengan model Satria Hiu, dimana motor ini terkenal ngacir tapi punya penyakit khas di sektor pengapian.

Suzuki Satria Hiu juga menjadi model penutup era motor 2-tak di segmen cub hingga akhirnya digantikan oleh Satria F 150. Kini, Satria 120R sudah nyaris punah. Eksistensinya hanya tersisa sedikit dan biasanya hanya dimiliki kalangan penghobi.

Suzuki Indonesia mengimpor Satria 120R yang lebih dikenal dengan julukan ‘Satria Hiu’ langsung dari Malaysia. Satria Hiu pertama kali hadir pada 2003 dan tidak lagi diproduksi lokal seperti era lumba-lumba karena peraturan pemerintah yang melarang di produksinya motor 2 tak di dalam negeri pada masa itu.

Satria Hiu memiliki bodi yang sama sekali beda dengan era 120 S atau 120R versi awal. Headlamp Satria Hiu desainnya seperti mangkok, bodi depan lebih ramping tapi bagian belakang tetap gendut.

Satria Hiu Tantang Dominasi Motor Sport 2-tak

Satria 120R Hiu berhasil menjuarai ajang balap (foto: Tokopedia)

Tampang dan performa Satria Hiu hadir jauh lebih sporty. Peleknya model palang lima dicat hitam dan dilengkapi rem cakram di kedua roda. Mesin dan transmisi tetap, masih memakai kopling manual 6-percepatan tapi tenaganya meningkat jadi 15 dk.

Kelebihan Satria Hiu ini adalah larinya kencang. Dengan bobot motor  hanya 101 kg dan dibekali mesin 120 cc bertenaga 13,5 ps, Satria Hiu sanggup digeber mencapai kecepatan hingga 130km/jam.

Suzuki Satria 120 dengan mesin tegaknya berhasil merusak dominasi motor sport. Karena pada waktu itu, moped atau motor bebek umumnya menggunakan mesin selonjoran alias horizontal.  Sudah menjadi rahasia umum kalau motor dengan mesin tegak punya performa lebih oke.

Rival terdekat dari Satria 120R dari sesama motor bebek hanyalah dari kubu garputala. Yamaha saat itu memiliki Force 1 ZR yang kita kenal sebagai F1ZR. Memang, Yamaha punya sosok Yamaha Tiara yang secara spesifikasi sepadan, tapi populasinya sangat jarang karena motor tersebut masuk secara impor.

Satria hiu harganya masih belasan juta rupiah (foto: Carmudi)

Kelebihan motor 2-tak:

  • Mudah di “oprek”, dan akselerasi gahar. Karakternya cocok buat para speed lover.
  • Suara mesin 2-tak yang garing dan enak, jadi saat digeber suaranya menggelar.
  • Bau asapnya wangi, beda seperti bau asap mesin 4-tak yang kalau ngebul berarti pistonnya bermasalah.
  • Satria 120R memakai rangka dual crandle box seperti yang umumnya ditemukan di motor kelas sport.
  • Sebagai bebek super, Satria 120R didukung teknologi sistem pendinginan udara Jet Cooled yang telah terbukti efektif dalam melepaskan panas mesin ke udara bebas.

Satria Hiu bahkan sempat merajai balap road race tanah air lewat pebalap nasional seperti Hendriansyah, M. Fadli dan lainnya. Sayangnya, Satria Hiu ini hanya bertahan sampai 2005 saja karena terbentur regulasi pemerintah. Padahal motor ini mendapat respon baik dari masyarakat, namun cuma bertahan sebentar di Indonesia.

Penyakit Khas Satria Hiu, Sering Bikin Repot

Tenaganya yang besar dan akselerasi spontan membuat Satria Hiu masih menjadi favorit, bahkan hingga sekarang. Di tengah populasinya yang kian terbatas, para penghobi berusaha melestarikan Satria Hiu yang tersisa. Pasalnya, perawatan Satria 120R mulai dari era Lumba-lumba sampai Hiu tergolong mudah.

Kendala dari penyakit yang muncul di Satria Hiu atau lumba-lumba biasanya lebih karena faktor usia, misalnya rangka rawan karat dan keropos. Khusus untuk Satria Hiu, penyakit khas di motor ini berasal dari sistem pengapian, mulai dari CDI atau koil bisa mati mendadak.

“CDI mesti dicek karena rawan bermasalah, soalnya beda sama CDI punya Satria Lumba-lumba. Koil juga mulai berkurang performanya karena faktor usia,” jelas Denta Prayudhana, pemilik Satria Hiu saat dihubungi Carmudi.

Lebih lanjut, pria dengan sapaan Denta ini menyebut bila bagian koil ini bisa ngadat bahkan mati mendadak. Bila sudah begini, akan berbahaya bagi piston dan boringnya karena bisa tergores akibat tiba-tiba berhenti bekerja. Satu-satunya solusi yaitu dengan mengganti koil dengan yang baru karena koil yang lemah tidak bisa diakali lagi.

“Koil yang bermasalah dikhawatirkan bikin motor mati tiba-tiba waktu lari kencang. Bila sudah ganti koil dengan yang baru, sekalipun setelan oli sampingnya dibikin irit pun motor tidak akan mati,” jelas pria yang bekerja sebagai mandor proyek tersebut.

Menurutnya, Satria 120R versi lumba-lumba lebih minim masalah terutama bagian pengapian. Soal perawatannya, kedua varian Satria 120 ini dikatakannya serupa. Di forum Satria 120ERS disebutkan kalau masalah CDI di Satria Hiu bisa diatasi dengan substitusi memakai milik Satria lumba-lumba.

“Pin nomor 3 & 4, warna kabel hijau/putih & biru/kuning. Dua kabel itu dari pulser. Dituker aja posisinya,” tulis akun Ervan Ayahnya Nayla.

Akun itu menyebut bila efek dari substitusi CDI hanyalah membuat jarum RPM tidak berfungsi. Sebab, di era Satria 120R lumba-lumba belum memakai indikator rpm. Dari sisi performa tidak mengalami masalah setelah substitusi CDI.

Rangka dan Arm Satria Hiu Rentan Berkarat

Bila dibandingkan Satria lumba-lumba, Satria Hiu punya riwayat penyakit yang lebih rumit (foto: Pinterest)

Hal lainnya yang juga patut diperhatikan dalam merawat sang hiu yaitu soal kebersihannya. Mengingat motor ini usianya sudah lebih dari 15 tahun, maka bagian dari rangka rawan muncul karat hingga membuatnya keropos.

Untuk itu, setelah dipakai atau dikendarai saat hujan segeralah dicuci bersih. Dengan begini, sisa-sisa air hujan penyebab karat bisa hilang.

“Bagian rangka rawan karat atau keropos khususnya bagian bawah dekat bosh swing arm. Bosh swing arm juga bisa oblak karena umur,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Satria Hiu memakai sistem suspensi monoshock. Bagian arm berikut shockbreaker dudukannya hampir menyatu. Karena posisinya yang sedikit tersembunyi, kita kadang suka lupa membersihkan bagian tersebut terutama setelah menerobos hujan.

Penyakit di Satria Hiu Akibat Usia

Seiring usia dan pemakaian, beberapa komponen di Satria Hiu kinerjanya sudah melemah dan mulai kurang tokcer. Paling sering, per kick starter atau selahan sudah dol. Gejalanya, kick starter tidak mau kembali lagi setelah kita injak untuk menyalakan mesin.

Hal ini cukup sering dikeluhkan pemilik Satria di forum Satria 120ERS akibat pernya sudah lemah atau patah. Solusinya cukup mengganti per di bagian dalam dengan yang baru. Namun perlu disimak, pemasangan jangan sampai salah atau terbalik karena bila salah pemasangan membuat kick starter tetap tidak mau balik.

Perawatan Satria Hiu, Perhatikan Oli Samping

Selain menggunakan pelumas guna melancarkan kinerja pada komponen mesin, motor 2 tak menggunakan tambahan pelumasan lainnya berupa oli samping. Fungsi oli samping guna menambah pelumasan bagian piston, setang seher, serta laher bearing as kruk.

Pastikan kondisi oli samping jangan sampai kering atau kosong. Atur volumenya dengan takaran yg sesuai yaitu tidak terlalu irit dan tidak pula terlalu boros. Bila terlalu irit menyebabkan overheat atau kepanasan, dan bila terlalu boros membuat motor mbrebet dan asap ngepul.

Untuk itu, oli samping di motor 2 tak boleh dibilang merupakan hal yang wajib dan mutlak diperlukan. Bila oli samping sampai kering, dapat membuat seher atau piston ngejim atau macet. Bila sudah begini, kerusakan pun merambat ke boring dan silinder.

Penulis: Yongki

Editor: Lesmana

Previous post
Gokil! VW Crew Cab 1969 Ini Siap Saingi Tesla Cybertruck
Next post
Kini Pelanggan Bisa Pesan dan Servis Mobil Wuling di Rumah