Mobil

Toyota Kijang Innova Diesel vs Bensin, Mana yang Paling Irit?

Kijang Innova

Kijang Innova Diesel kini semakin banyak peminatnya. Foto/Carmudi.

Jakarta – Nama Toyota Kijang telah melegenda sejak dekade 1970-an. Minibus ini menjadi mobil andalan masyarakat Indonesia sebelum hadirnya Toyota Avanza. Sekarang masyarakat dihadapkan dengan dua pilihan, Kijang Innova diesel vs bensin, mana yang paling irit?

Faktor ini menjadi pertimbangan mendasar bagi kebanyakan masyarakat Indonesia saat akan membeli mobil. Terlebih, Innova dibekali mesin 2.000 cc ke atas yang dikenal ‘banyak minum’. Sekalipun terkenal boros, kenyamanan dan kabin lega ala Innova masih menjadi magnet utama sehingga masih menjadi primadona di kelas MPV medium.

Masyarakat awam masih bimbang saat harus memilih antara Kijang Innova diesel vs bensin dari sisi konsumsi bahan bakar dan performa masing-masing. Secara umum, konsumsi bahan bakar Toyota Kijang Innova berkisar 8-10 km/liter. Kebimbangan ini semakin menjadi saat melihat varian diesel menawarkan torsi besar dengan konsumsi bahan bakar lebih irit.

Toyota berhasil membuang stigma mobil diesel sebagai ‘angkot’ yang berisik dan kotor. Bagaimana tidak, mesin diesel common rail yang digunakan Innova, suaranya sangat halus dan getarannya juga rendah. Lebih asiknya lagi, knalpot tidak ngebul hitam layaknya cumi-cumi menyemburkan tinta.

Bagi yang doyan bepergian jauh bersama keluarga, opsi mesin diesel D4D menarik untuk jadi pilihan. Alasannya, banyak pengguna Innova diesel mengaku bila konsumsi solarnya bisa menembus 11 km/ liter. Torsinya juga besar di putaran bawah sehingga tarikan awalnya lebih enak saat penuh muatan.

Sebaliknya, apabila mobil jarang digunakan bepergian beramai-ramai, maka opsi mesin bensin bisa dilirik. Memang, Innova bensin terkenal borosnya namun sebanding dengan tenaga dan putaran atasnya yang enak. Mesinnya digeber hingga 150 km/jam pun tidak ngeden.

Hadirnya Mesin Diesel dalam Toyota Kijang

Toyota Kijang

Toyota Kijang kapsul pertama kalinya menghadirkan mesin diesel Foto/Istimewa.

Sejak awal kemunculannya, Toyota Kijang selalu memakai mesin berbahan bakar bensin. Opsi mesin diesel baru hadir pada era Kijang Kapsul di tahun 1997. Hadirnya mesin berbahan bakar solar bertujuan untuk melawan Isuzu Panther yang menjadi penguasa tunggal minibus diesel.

Saat itu, Toyota bisa dibilang melakukan perjudian pada mesin diesel kuno yang irit namun berisik dan getarannya sangat besar. Toyota Kijang bermesin diesel saat itu masih kalah tenar dibanding Isuzu Panther. Namun, masyarakat perlahan mulai bisa menerima kehadiran minibus mesin diesel selain Panther.

Toyota lantas berusaha mengatasi keluhan dari mobil diesel yang kurang lari, getarannya besar, dan bising. Raksasa otomotif Jepang ini menciptakan mesin 2KD-FTV 2,5 liter dengan teknologi commonrail dan turbocharger pada Kijang Innova.

Dua fitur ini jadi rahasia performa mesin diesel di Kijang Innova jauh lebih baik dan getaran lebih halus. Konon, mesin ini lebih irit bahan bakar dan bertenaga dibandingkan mesin bensin 1TR-FE 2,0 liter. Selagi mesin diesel terus mengalami perkembangan pesat, Toyota tidak banyak melakukan pengembangan di mesin bensin.

Mesin 2KD-FTV dipensiunkan untuk beralih ke 2GD-FTV saat merilis Innova Reborn. Pada Innova generasi terakhir sudah dibekali Variable Nozzle Turbocharger (VNT) serta intercooler. Walaupun kapasitas mesinnya berkurang 100 cc, tenaga dan torsinya malah melonjak menjadi 149 PS dan torsi 342-360 Nm.

Mesin Bensin Toyota Kijang Innova Kurang Nendang

Toyota Kijang

Toyota Kijang Innova generasi pertama. Foto/Istimewa.

Perkembangan pesat teknologi pada mesin diesel ternyata tidak diimbangi inovasi pada varian mesin bensin yang menjadi andalan utama penjualan Kijang Innova. Toyota masih percaya dengan mesin 1TR-FE 4-silinder 2,0-liter yang terkenal ‘lemot’ dan boros. Penambahan teknologi Dual VVT-i dampaknya tidak signifikan.

Alhasil, output Innova bensin kini kalah dari diesel, yaitu 139 PS dan 183 Nm. Sudah kalah tenaga, Innova bensin kalah torsi juga sehingga akan sangat merisaukan. Torsi besar menghasilkan daya yang ringan, sehingga tidak perlu usaha banyak untuk akselerasi awal.

Innova Diesel memang relatif lebih irit dibanding Innova Bensin, tapi harus dikompensasi dengan Harga baru yang relatif lebih mahal. Di sisi lain, resale value Innova Diesel relatif lebih baik dibanding versi bensin.

Perbandingan konsumsi bahan bakar Innova diesel vs bensin

Perkembangan mesin diesel pada Kijang Innova sangat pesat dibanding saat era Kijang Kapsul. Hal ini dilakukan karena dorongan masyarakat yang butuh mobil hemat bahan bakar dan punya tenaga atau torsi lebih baik. Efeknya, teknologi yang terdapat pada mesin bensin jadi kalah canggih.

Modifikasi Innova

Modifikasi Innova karya Innova Community

Varian diesel yang tadinya kurang dilirik karena dinilai kurang nyaman dan kotor pun kini malah jadi primadona. Bagi penggemar kecepatan, Innova diesel lebih mudah dioprek supaya jadi makin gahar tenaganya. Lebih gilanya lagi, banyak Innova diesel yang mesinnya dimodifikasi untuk turun balap drag race.

Berdasarkan pengalaman pemilik Kijang Innova yang ada di forum otomotif Seraya Motor, Innova versi diesel dengan transmisi otomatis bahkan torsinya bisa diatur lebih besar. Dengan demikian, tarikan bawah mobil keluarga ini bisa semakin responsif dibandingkan manual.

Pada kondisi standar pabrikan, konsumsi bahan bakar Kijang Innova generasi pertama untuk mesin bensin berkisar 5-6 kilometer/liter. Sementara itu, konsumsi Kijang Innova diesel berkisar antara 9-10 kilometer/liter untuk pemakaian harian dalam rute kombinasi.

Untuk meningkatkan perfora Innova diesel juga lebih mudah ketimbang mesin bensin. Mesin cukup dibiarkan standar, sedangkan ubahannya dengan memasang kabel ground, mengganti filter udara dengan produk aftermarket, lalu memakai bahan bakar dengan kualitas lebih bagus. Hasilnya, konsumsi bahan bakar Innova diesel untuk pemakaian style boros menembus 11 km/liter.

Sebagaimana diketahui, harga Solar bersubsidi dari Pertamina yaitu Rp 5.150 per liter. Bandingkan dengan harga bensin non subsidi yang termurah yaitu Pertalite yang dijual Rp 7.800 per liter. Selisih keduanya terpaut lumayan apabila kita mengisi BBM setidaknya 10 liter.

Mesin Diesel Commonrail Kijang Innova Terbukti Tangguh

Mesin Diesel Toyota Innova (Foto: Youtube)

Innova masih menjadi primadona, khususnya pada varian mesin diesel. Mobil ini menawarkan tenaga yang jempolan khususnya untuk perjalanan jauh. Karena karakter mesinnya commonrail yang dirancang badak alias tangguh, Kijang Innova diesel jarang bermasalah saat minum solar bersubsidi.

Memang, konsekuensi saat memakai solar bersubsidi yaitu dari sisi performa kurang responsif dan bertenaga saat akselerasi. Namun, keuntungan lain yang didapat oleh pemilik yaitu soal biaya bahan bakar yang sangat hemat karena harganya yang terjangkau. Masyarakat Indonesia mulai sadar, mobil berukuran besar dengan tenaga pas-pasan jelas kurang nyaman karena tarikannya yang berat.

Performa Innova diesel sedikit berbanding terbalik dengan Innova bensin yang disarankan untuk minum bensin non subsidi. Apabila masih bandel minum bensin dengan RON 88, konsekuensinya mesin bakal ngelitik dan performa menurun.

Selain biaya untuk beli bensin yang tinggi, konsumsi BBM termasuk boros. Untuk mesin bensin, Toyota tidak melakukan perubahan yaitu 1TR-FE 2.000cc 4 silinder 16 valve DOHC dengan tenaga 137 hp dengan torsi 183 Nm.

Sekarang, kita telisik lebih jauh untuk performa tiap varian mesin diesel pada Kijang Innova. Pada varian transmisi otomatis, menghasilkan torsi maksimal 36.7 kg.m / 1.200 – 2.600 rpm. Sementara itu, transmisi manualnya menghasilkan torsi maksimal 34.9 kg.m / 1.200 – 2.800 rpm.

Untuk Innova diesel dibekali transmisi otomatis 6-percepatan dengan Sport Sequential Switchmatic sehingga mampu menghasilkan output torsi yang lebih besar dan instan. Bisa dilihat, besaran torsi varian diesel metik lebih besar 1.8 kg.m dibanding manual. Tarikan bawah makin enteng, dan pengemudi merasa enak “ngegas” untuk akselerasi awal.

Penulis: Yongki

Editor: Lesmana

Tutus Subronto

Tutus Subronto memulai karirnya di dunia otomotif sebagai jurnalis di Media Indonesia. Sejak 2008, telah meliput beragam kegiatan otomotif nasional. Terhitung Januari 2014 masuk sebagai tim Content Writer di Carmudi Indonesia. Kini terlibat di tim editorial Journal Carmudi Indonesia untuk mengulas dan publikasikan berita-berita otomotif terbaru. Email: tutus.subronto@icarasia.com

Related Posts