Tips dan Trik

Memahami Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan

Jakarta – Pengetahuan mengenai pemeliharaan mesin kendaraan ringan bukan hanya untuk mereka yang menggeluti dunia mekanik. Carmudian yang memiliki mobil pribadi pun bisa mendapatkan manfaat dengan memahaminya.

Sejatinya, pemeliharaan mesin kendaraan ringan merupakan salah satu topik atau mata pelajaran yang ada di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Teknik Mesin.

Di dalam kurikulumnya membahas berbagai langkah praktis maupun yang bersifat konseptual terkait perawatan sebuah kendaraan.

Tapi perlu ditekankan, artikel ini akan fokus meringkas langkah-langkah perawatan yang bisa dilakukan oleh seorang pemilik mobil.

Faktanya, bagi mereka yang ingin mendalaminya, tersedia buku panduan yang disediakan oleh situs web Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan

Tujuan pemeliharaan kendaraan di antaranya menekan biaya operasional dari kendaraan itu sendiri. (Foto: Pixabay/DokaRyan)

Tujuan Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan

Mengacu pada buku “Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan” yang ditulis Bintoro, perawatan kendaraan itu sendiri bisa dibedakan ke dalam dua jenis.

Pertama adalah perawatan terencana atau yang juga sering disebut perawatan berkala. Sesuai namanya, perawatan jenis ini dilakukan mengacu pada jarak tempuh kendaraan atau masa pakainya. Umumnya perawatan berkala dilakukan setiap 10.000 km.

Selain itu, ada pula yang dinamakan perawatan tidak terencana. Nah, jenis perawatan seperti ini umumnya dilakukan ketika kendaraan mengalami kerusakan sewaktu-waktu. Sehingga perlu menjalani perbaikan atau reparasi agar bisa digunakan kembali.

Jenis Perawatan Kendaraan
Perawatan Berkala Dilakukan berdasarkan jarak tempuh kendaraan atau masa penggunaan. Umumnya dilakukan setiap 10.000.
Perbaikan Tidak Terencana Dilakukan setiap ada kerusakan yang mengharuskan kendaraan menjalani perbaikan atau reparasi.

Adapun tujuan utama dari pemeliharaan kondisi kendaraan ada tiga, meliputi mengoptimalkan kondisi kendaraan, menekan biaya operasional, dan menjaga keamanan serta keselamatan berkendara,

Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan Ilustrasi

Memilih peralatan yang tepat menjadi bagian dari perawatan kendaraan. (Foto: Pixabay/Vinayr16)

Tahap Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan

Masih dari sumber yang sama, dijelaskan secara detail tahap-tahap yang perlu dilakukan dalam pemeliharaan kendaraan ringan. Jadi bisa dibilang, bongkar mobil juga ada langkah-langkahnya.

Persiapan

Ada beberapa hal yang mesti dilakukan dalam tahap persiapan, di antaranya lokasi pengerjaan, kemudian peralatan yang dibutuhkan, dan buku manual kendaraan jika memang dibutuhkan.

Pelaksanaan Pekerjaan

Setelah semuanya persiapan beres, Carmudian bisa melakukan pengerjaan terhadap bagian dari kendaraan. Disarankan untuk melakukan pengerjaan sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang berlaku.

Tes Jalan dan Kontrol

Ketika sudah selesai, lakukan kontrol terhadap pekerjaan yang telah dilakukan. Misalnya, memeriksa kekencangan baut, memastikan tidak adanya kebocoran dan sebagainya. Termasuk memastikan tidak ada peralatan yang tertinggal di dalam mesin.

Pembersihan dan Penyerahan Kendaraan

Idealnya, setiap kendaraan yang keluar dari bengkel setelah menjalani perawatan mesti dalam kondisi bersih. Maksudnya tidak ada bekas pengerjaan, seperti oli atau grease yang menempel di body apalagi interior. 

Setelah itu kendaraan pun siap diserahkan kepada konsumen atau Carmudian gunakan kembali. Oiya, tak kalah penting adalah merapikan kembali peralatan yang telah digunakan. 

Jenis Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan

Seperti sudah disebutkan di awal, topik pemeliharaan mesin kendaraan ringan memiliki cakupan yang luas. Mulai dari cara benar mencuci mobil sampai penyetelan bukaan valve.

Carmudian tidak perlu memahami semuanya, cukup beberapa poin sederhana yang bisa bermanfaat untuk menjaga mobil tetap sehat.

Apa saja itu? Cek artikel di bawah ini!

Memeriksa Air Radiator

Radiator memiliki peran penting sebagai bagian dari sistem pendingin mesin kendaraan. Setiap pemilik mobil pun disarankan selalu memeriksa jumlah air radiator pada kendaraannya secara rutin.

Jangan sampai air radiator di bawah batas minimum atau malah habis karena bisa menyebabkan kerugian besar.

Jika air radiator sudah berkurang, Carmudian bisa melakukan pengisian sendiri. Untuk melakukannya pastikan menggunakan produk air radiator, bukan air keran atau air mineral.

Hal penting sebelum melakukannya, pastikan mesin mobil berada dalam kondisi dingin. Karena saat mesin masih panas maka temperatur air radiator juga tinggi.

Jangan sekali-sekali membuka tutup radiator ketika mesin panas karena bisa mengakibatkan cidera serius. Jika mobil habis digunakan, coba tunggu sekitar 30 menit sampai 45 menit untuk mendinginkannya.

Dalam buku “Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan” disebutkan pengisian air radiator bisa dilakukan langsung lewat lubang radiator. Idealnya pengisian dilakukan sampai air menggenangi seluruh sirip-sirip radiator.

Tapi Carmudian juga bisa mengisi air radiator melalui tabung reservoir-nya. Dalam tabung tersebut terdapat tanda batas minimum dan maksimum jumlah air radiator. Isi radiator sampai menyentuh batas maksimum.

Ilustrasi pengisian air radiator mobil

Ilustrasi batas pengisian air radiator langsung dari lubang radiator (gambar 1) dan ilustrasi batas volume pengisian dari tabung reservoir (gambar 2). (Foto: Buku “Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan”)

Memahami Sistem Pelumasan

Bisa dibilang ada dua jenis sistem pelumasan mesin kendaraan, yaitu pelumasan campur dan pelumasan dengan memanfaatkan tekanan.

Pelumasan campur contohnya seperti yang digunakan pada sepeda motor 2-tak. Tapi jenis pelumasan seperti ini sudah mulai ditinggalkan karena tingginya polusi yang dihasilkan dan boros oli.

Sementara itu sistem pelumasan dengan tekanan bisa ditemui pada mobil-mobil berbahan bakar bensin ataupun mesin diesel. Sistem pelumasan seperti ini dinilai lebih baik karena kerjanya kontinyu, teratur, dan merata. 

Oli yang digunakannya memiliki usia pakai tertentu dan mesin diganti umumnya setiap 10.000 km.

Nah, oli atau pelumas yang ada di dalam mesin memiliki beberapa fungsi sekaligus, di antaranya mengurangi gesekan sehingga komponen tidak cepat aus, mendinginkan komponen, mengisi celah-celah antara komponen, dan membersihkan komponen.

Dalam melakukan pemeliharaan mesin kendaraan ringan juga perlu memilih oli yang tepat. Hal ini bisa dilakukan dengan melihat kode SAE (Society of Automotive Engineering). 

Kode SAE sebuah oli bisa dilihat pada kemasannya. Sedangkan spesifikasi oli yang dibutuhkan untuk setiap kendaraan tercantum dalam buku manual pemilik.

Semakin besar kode SAE maka oli akan semakin kental. Sebagai contoh SAE 20 (encer), SAE 30 (sedang), SAE 50 (kental).

Kini di pasaran kita bisa menemukan yang dinamakan oli multigrade. Ciri-cirinya, oli semacam ini memiliki kode tambahan setelah kode SAE-nya, misal SAE 20W-50. 

Untuk membaca kode tersebut, “SAE 20W” berarti pada kondisi dingin kekentalan oli seperti pada umumnya oli SAE 20. Huruf “W” yang terdapat pada kode tersebut memiliki arti “winter” atau musim dingin.

Kemudian, kode “50” yang ada di belakangnya berarti oli memiliki kekentalan seperti oli SAE 50 pada kondisi panas.

Dikatakan, penggunaan oli multigrade tidak memberi banyak keuntungan untuk penggunaan kendaraan di Indonesia. Hal ini dikarenakan suhu udara yang cenderung merata.

Mengetahui Kondisi Mesin dari Warna Busi

Mayoritas Carmudian mungkin sudah tak asing dengan komponen yang satu ini. Bukan hanya sebagai bagian dari sistem pengapian, namun busi juga bisa menjadi indikator kondisi mesin.

Hal itu dapat dilakukan dengan melihat warna atau kondisi dari elektrodanya. Penjelasan detailnya bisa Carmudian simak di bawah ini.

Ilustrasi kondisi busi

Ilustrasi kondisi busi (Foto: Buku “Pemeliharaan Mesin Kendaraan Ringan”)

No. 1 (normal): Isolator berwarna kuning atau coklat muda. Puncak isolator bersih, permukaan rumah isolator kotor berwarna coklat muda atau abu-abu. Artinya kondisi kerja mesin baik, pemakaian busi dengan nilai panas yang tepat.

No. 2 (terbakar): Elektroda terbakar dan pada permukaan isolator terdapat partikel kecil mengkilat dan menempel. Isolator berwarna putih atau kuning. Penyebabnya nilai oktan bensin terlalu rendah, campuran bahan bakar terlalu kering, pengapian terlalu awal, busi terlalu panas.

No. 3 (berkerak karena oli): Kaki isolator dan elektroda sangat kotor berwarna coklat. Penyebabnya oli bocor, penghantar katup aus.

No. 4 (berkerak karbon): Kaki isolator, elektroda, kaki busi berkerak karbon atau jelaga. Penyebabnya campuran bahan bakar dan udara terlalu basah, tipe busi terlalu dingin.

No. 5 (isolator retak): Percikan api bisa loncat dari isolator langsung ke massa. Akibatnya tidak terdapat bunga api di celah busi. Penyebabnya jatuh, kelemahan bahan.

Nah, dengan mengetahui beberapa hal dasar dari pemeliharaan mesin kendaraan ringan di atas harapannya Carmudian bisa lebih baik lagi dalam merawat kendaraannya. Dengan begitu mobil tetap nyaman digunakan dan bisa mempertahankan harga jualnya.

Baca Juga:

Penulis: Mada Prastya

Editor: Dimas

Mada Prastya

Bergabung sebagai penulis di Carmudi Indonesia sejak Februari 2021. Menyukai kendaraan roda dua karena simpel, cepat, dan memberi rasa kebebasan dalam berkendara. Email: [email protected]

Related Posts