Home » Berita » Indonesia Menuju Era Mobil Listrik, Jaguar Angkat Bicara

Indonesia Menuju Era Mobil Listrik, Jaguar Angkat Bicara

“Ada dua tantangan utama Indonesia dalam menghadapi era mobil listrik” -Tommy Handoko, Product Planning and Logistics Manager Jaguar Land Rover Indonesia

Konsep Jaguar I-pace. (Foto: Jaguar)

Jakarta – Era kendaraan listrik tidak bisa dihindari kedatangannya setelah Peraturan Presiden (Perpres) resmi diteken. Tak heran jika sebagian industri otomotif baik luar maupun dalam negeri tengah melakukan persiapan pengembangan mobil ramah lingkungan untuk ke depannya. Bahkan ada beberapa produsen sudah mulai memberanikan diri memasarkan mobil listrik murni, sebut saja merek Jaguar Land Rover, dengan produknya Jaguar I-Pace.

Terlepas dari akan bermunculannya mobil-mobil listrik baru, sebenarnya ada banyak hal yang perlu dan harus diperhatikan oleh pemerintah maupun produsen otomotif. Menurut Tommy Handoko, Product Planning and Logistics Manager Jaguar Land Rover Indonesia menyebutkan setidaknya ada dua tantangan utama Indonesia dalam menghadapi era mobil listrik.

Infrastruktur dan Pengolahan Limbah Baterai Jadi Sorotan

Menurut Tommy, pertama adalah infrastruktur seperti charging station kehadiran mobil listrik tidak berarti apa-apa.

“Infrastruktur sendiri bukan tanggung jawab brand (produsen otomotif), yang kami buat hanya mobil bukan charging station. Jadi kami harus berkolaborasi dengan partner spesialis charging station,” ungkap Tommy baru-baru ini di Jakarta.

Tantangan kedua, sambung Tommy yaitu limbah baterai. Sebagaimana diketahui limbah baterai sangat berbahaya sekali bagi lingkungan dan manusia. Oleh karena itu harus diolah dengan baik.

Electrification bukan hal yang akan terjadi sekarang tapi yang akan terjadi di masa depan yaitu limbah baterai bagaimana? Daya tahan baterai bisa bertahan 8 sampai 10 (tahun). Jadi 8 sampai 10 tahun mendatang bisa bayangkan ada jutaan baterai per tahun di Indonesia yang harus dimusnahkan. Ke mana ini harus dimusnahkan, kalau misalnya mesin konvensional jadi asap, tapi beda dengan mobil dengan baterai, masih ada wujud fisiknya, ini harus dipikirkan bersama bukan cuma produsen mobil tapi industri secara keseluruhan,” tegas Tommy.

Dirinya memberikan gambaran, sebenarnya ada banyak cara untuk memperpanjang usia pakai baterai. Tommy mengambil contoh di Belanda. Di mana di negara tersebut baterai yang sudah tidak lagi dipergunakan untuk mobil listrik atau berstatus bekas dimanfaatkan sebagai sumber tenaga untuk penerangan.

“Kami sih enggak mau nasib baterai itu seperti plastik. Dulu direncanakan untuk didaur ulang tapi saat ini tetap saja menumpuk. Mungkin contoh konkrit di Belanda baterai bekas diolah kembali untuk sumber tenaga penerangan stadion bola. Limbah baterai bukan tidak mungkin tidak bisa dipakai sama sekali tapi mungkin diturunkan grade-nya,” papar Tommy.

Ilustrasi limbah Baterai mobil listrik (Foto: Fuelfreedom)

Jaguar Land Rover Sudah Menatap ke Mobil Listrik

Sebagai brand mobil mewah, Jaguar Land Rover menyadari jika ke depannya akan terjadi peralihan dari mobil mesin konvensional ke listrik. Oleh karena itu perusahaan yang bermarkas di Inggris itu terus bersiap menghadapi era kendaraan rendah emisi.

“Pada dasarnya Jaguar Land Rover sebagai manufaktur sekaligus salah satu pionir dalam mobil listrik dengan Jaguar I-Pace. Kami tentunya juga berjalan menuju ke sana (mobil listrik). Anda bisa lihat kami juga ikut balapan Formula E, itulah salah satu komitmen Jaguar terhadap mobil listrik,” timpal Jentri Izhar, Brand Director Jaguar Land Rover.

 

Penulis: Santo Sirait

Editor: Dimas

Mobil dari Innova Community berfoto bersama.
Previous post
Ulang Tahun ke-13, Innova Community Tanam Ribuan Pohon Bakau
Wuling Almaz
Next post
6 Kelemahan Wuling Almaz yang Patut Jadi Sorotan