BeritaSumber informasi

Nissan Indonesia Pertahankan X-Trail Hybrid, Meski Kurang Laku

Penulis: Santo Evren Sirait

Jakarta – November 2015 menjadi bulan sekaligus tahun bersejarah bagi PT Nissan Motor Indonesia NMI selaku Agen Pemegang Merek (APM) mobil Nissan di Indonesia, pasalnya NMI meluncurkan X-Trail varian hybrid. Mobil jenis Sports Utility Vehicles (SUV) tersebut pertama kali meluncur di Jepang pada April di tahun yang sama.

Nissan X-Trail hybrid masuk ke Indonesia dalam bentuk utuh atau Completely Built Up/CBU) dari Jepang. Sejak meluncur hingga sekarang penjualan X-Trail hybrid tidak semoncer produk Nissan lainnya.

Tidak hanya NMI saja pabrikan lain pun yang juga memasarkan mobil berteknologi hybrid tidak begitu mendapat angka yang besar hanya berkisar puluhan sampai seratusan unit saja dalam setahun. Kendati penjualan tidak cermelang, namun NMI tetap mempertahakan dan memasarkan X-Trail hybrid kepada konsumen di Tanah Air.

“Setiap merek yang meluncurkan mobil hybrid itu tujuan utamanya bukan volume, tapi tujuan utamanya membangun image. Ya sama seperti X-Trail hybrid hadir untuk membangun image, menunjukkan bahwa Nissan itu sudah mempunyai teknologi ini. Tapi kalau secara bisnis tujuannya untuk brand image,” ujar Davy Jeffry Tuilan, selaku Vice President Director of Marketing and Sales NMI, beberapa waktu lalu (19/1/2018).

Faktor utama yang sering kali menjadi pertimbangan konsumen untuk membeli mobil hybrid adalah harga. Sekarang ini belum ada peraturan yang bisa membuat harga mobil ramah lingkungan itu menjadi terjangkau.

Mobil hybrid masuk dalam kategori kendaraan mewah sehingga dikenai pajak sangat tinggi. Menurut Davy, jika nantinya pajak diturunkan kemungkinan penerimaan pasar terhadap mobil hybrid akan tumbuh.

“Ya sekarang kurang diminati karena harga mahal, sebab untuk mendapatkan teknologi itu (hybrid) mesti ditebus dengan harga mahal. Ya jadi masalah di Indonesia tidak ada nafsu untuk segmen itu. Tapi kalo segmen itu di buat lebih menarik, accessible saya rasa akan cukup menarik,” terang Davy.

Tak ada strategi khusus yang diterapkan oleh NMI guna merangsang konsumen untuk membelinya. Termasuk memberikan edukasi ringan kepada masyarakat mengenai keunggulan dari mobil berteknologi hybrid ketimbang kendaraan konvensional.

“Edukasi itu tidak akan bisa sepadan dengan value yang mereka dapatkan dari harga yang harus mereka bayar,” tutur dia.

Sebagai informasi, berdasarkan data penjualan wholesales (pabrik ke dealer) Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Nissan X-Trail hybrid hanya terjual 10 unit saja sepanjang 2017. Satu unit terjual pada Juni dan sembilan unit di Juli.

Nissan X-Trail hybrid dibekali dengan mesin bensin berkapasitas 2,0 L yang mampu menghasilkan daya sekuat 144 ps yang dikombinasikan dengan motor listrik bertenaga 41 ps. Mobil yang dibanderol RP650,1 juta itu diklaim mampu menghasilkan konsumsi bahan bakar 20,6 kilometer per liter.

Harga Bisa Turun

Program mobil ramah lingkungan atau low carbon emission vehicle (LCEV) yang disusun oleh Kementerian Perindustrian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Keuangan yang saat ini masih dalam tahap penyempurnaan akan mengatur banyak hal soal mobil ramah lingkungan. Salah satu isi dari program tersebut adalah mengatur pemberian insentif bagi pabrikan mobil yang memasarkan mobil berbahan bakar compressed natural gas (CNG), hybrid, plug in hybrid, sampai full electric.

Jika peraturan tersebut telah resmi diterbitkan maka ada kemungkinan harga mobil hybrid akan lebih terjangkau dari yang sebelumya. “Bisa turun, cuma aturannya belum ada,” kata Davy.

Jika mengharuskan untuk memproduksi mobil hybrid di produksi secara lokal, Davy mengatakan hal itu tidak bisa dilakukan secara langsung setelah peraturan keluar. Karena harus melihat penerimaan pasar terlebih dahulu.

“Bahwa harus produksi di Indonesia saya rasa aturan itu kan nanti ada periodenya. Enggak mungkin kalau sekonyong-konyong jual LCEV langsung produksi di Indonesia. Jadi harus ada tes pasar dahulu, kalau dua-tiga tahun ternyata pasarnya bagus, baru harus di produksi di Indonesia,” pungkas dia. (dol)

Dony Lesmana

Dony Lesman memulai karirnya di dunia jurnalis di Jawa Pos Surabaya 2003. Hijrah ke Jakarta bergabung di majalah Otomotif Ascomaxx dan Motomaxx di 2010. Sempat bergabung di portal berita Sindonews.com di kanal Autotekno hingga 2016 yang mengupas perkembangan otomotif dan teknologi. Terhitung Januari 2017 masuk sebagai tim Journal Carmudi Indonesia yang mengulas dan mempublikasikan berita-berita otomotif terbaru di Indonesia maupun dunia.

Related Posts