Home » Sample Blog » Iklim Industri Otomotif di Asia: Preferensi Mobil Masyarakat di Indonesia 2014-2016

Iklim Industri Otomotif di Asia: Preferensi Mobil Masyarakat di Indonesia 2014-2016

Apa yang menjadi preferensi masyarakat Indonesia ketika memilih mobil? Apa dampak yang ditimbulkan dengan menjamurnya pasar online jual beli kendaraan di Indonesia? Carmudi menganalisa perilaku pembeli dan mengungkap fakta penting yang dapat memberi gambaran iklim industri otomotif di Indonesia di masa depan.

Tahun 2015 merupakan tahun yang cukup membuat cengang industri otomotif Indonesia. Gaikindo sebagai salah satu asosiasi otomotif di Indonesia bahkan mengurangi target penjualan mereka yang tadinya berjumlah 1,2 juta kendaraan menjadi 1,1 juta kendaraan saja. Alasan penurunan target ini adalah pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang hanya 4,7% saja di quartal pertama tahun 2015.

Mau tidak mau pertumbuhan ekonomi ini memiliki pengaruh kuat terhadap industri otomotif di Indonesia sendiri. Bahkan inflasi meningkat menjadi 6,7% sejak tidak adanya subsidi BBM dari pemerintah dan kenaikan BBM mempengaruhi minat banyak orang untuk membeli dan memiliki kendaraan bermotor.

Mengesampingkan semua itu, Carmudi telah mengolah data traffic website pada periode tahun 2014-2016 dan mengungkap fakta menarik mengenai preferensi mobil masyarakat Indonesia. Kemudian, Carmudi juga melakukan wawancara terhadap beberapa diler mobil rekanan untuk melihat preferensi mobil seperti apa yang dimiliki masyarakat dari perspektif diler mobil.

Internet Penetration

Internet Penetration

Pertumbuhan internet yang signifikan setiap tahunnya berdampak juga pada pertumbuhan dunia e-commerce. Diantaranya adalah segmen jual beli mobil baru dan bekas. Para pelaku pasar dengan mudah menggunakan internet untuk bisnis online tersebut.

Berikut merupakan data pengguna internet dalam kurun waktu 2 tahun ke belakang:

Negara (Juta)201420152016
China647,7674,3700,1
Amerika253.1259.7265.6
India226.3277.4321.8
Brazil107.7113.7119.8
Jepang102.1103.6104.5
Indonesia83.793.4102.8
Sumber:eMarketer

Tabel ini memperlihatkan bahwa Indonesia menjadi negara ke-enam di dunia dengan pengguna internet terbanyak, baik itu secara aktif membuka dari desktop, juga yang mengakses internet melalui ponsel dan perangkat elektronik lainnya. Dari sini pula dapat terlihat peluang besarnya industri jual beli mobil dan motor secara online yang dapat dijalankan di Indonesia sendiri. Dengan total 102,8 juta pengguna maka dapat dikatakan bahwa pengguna internet di Indonesia atau internet penetration  sebesar 41%.

Objek Penelitian

Objek Penelitian

Pada whitepaper ini industri otomotif ditilik dari berbagai macam segmen seperti penjualan mobil berdasarkan warna, tipe bodi, harga, dan juga brand dari kendaraan yang digunakan di Indonesia. Dari data ini akan dapat terlihat bagaimana karakter kendaraan yang menjadi preferensi mobil masyarakat Indonesia. Selain itu dapat dilihat pula bahwa whitepaper ini menganalisis korelasi Produk Domestik Bruto (PDB) dengan angka penjualan mobil di Indonesia selama kurun 2 tahun terakhir.

Produk Domestik Bruto (PDB)

Produk Domestik Bruto (PDB) – Penjualan Mobil

Jika dilihat dari merk-merk mobil yang dijual dan dirakit di Indonesia, mobil-mobil Jepang merupakan mobil-mobil yang tengah memegang nilai penjualan mobil paling tinggi di Indonesia. Hingga akhirnya General Motor pun kembali membuka pabrik setelah menutupnya pada beberapa tahun ke belakang.

Setelah menjadi negara yang merakit mobil terbanyak kedua di Asia Tenggara setelah Thailand, penjualan mobil di Indonesia semakin banyak di setiap tahunnya. (sumber)

Total penjualan mobil  di Indonesia pada bulan Agustus 2016 saja telah mencapai angka 96.294 unit, jumlah ini menunjukan peningkatan 53% sejak bulan Juli 2016. Tetapi pertumbuhan angka penjualan per tahunnya hanya sebesar 8.5% saja. (sumber)

Grafik PDB vs Penjualan Mobil

penjualan mobil pdb indonesia

Apabila kita melihat data penjualan terlebih dahulu, terlihat daya beli masyarakat pada periode ini melemah, dan sedikit meningkat di pertengahan tahun 2015. Jika dilihat lebih jelas maka dapat diketahui bahwa pada tahun 2014, angka penjualan mobil mencapai angka 1.208.019 kendaraan dan terus melemah di tahun berikutnya sebesar 16%.

“Angka penjualan rata-rata satu juta unit per tahun tersebut masih relatif rendah untuk Indonesia, sekitar 85 unit mobil per 1.000 penduduk. Sementara jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 250 juta jiwa. Malaysia dan Thailand memiliki rasio populasi mobil lebih tinggi, antara 200 hingga 300 unit per 1.000 penduduk.” Sumber: Catatan GAIKINDO dari General Assembly OICA di Moskow.

PDB Indonesia juga secara stabil mengalami penurunan semenjak 2010, yaitu 6.2% dan 4.8% di penghujung tahun 2015. Penurunan ini disebabkan tingkat suku bunga Bank Indonesia yang tinggi. BI menetapkan suku bunga acuannya di 7,75% di akhir 2014 untuk melawan laju inflasi yang tinggi (disebabkan oleh reformasi subsidi bahan bakar). Oleh dari itu, BI lebih memilih untuk menjanga stabilitas finansial daripada pertumbuhan ekonomi.

Tahun 2014 Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum dengan kandidat Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Pertarungan sengit dua kandidat ini menyebabkan perlambatan realisasi investasi.

Dari dua grafik di atas, angka penjualan mobil dan PDB memiliki pergerakan serupa pada tahun 2014-2016.
Peningkatan penjualan mobil ini berlangsung dari tahun 2011 hingga tahun 2013, namun setiap tahun terlihat penurunan yang signifikan baik dari GDP maupun jumlah mobil  yang berhasil terjual. Turunnya penjualan mobil tahun 2014 ke tahun 2015 ini berbanding lurus dengan turunnya antusiasme masyarakat. Penjualan tahun 2015 dengan penuruan GDP sekitar 0,8% dari tahun 2014, mengalami penurunan sekitar 200 ribuan mobil. Bahkan sepanjang Januari ke September, GDP berada di angka 4%-5% saja.

Penurunan ini dikabarkan karena efek samping dari kenaikan BBM pada tahun tersebut. Kenaikan BBM ternyata berpengaruh kepada minat masyarakat dalam membeli kendaraan bermotor. Kondisi ekonomi yang saat itu masih belum stabil mengakibatkan ketakutan masyarakat sehingga masyarakat jauh lebih waspada ketika membeli suatu barang. Tentu saja kenaikan harga BBM mempengaruhi semua aspek kehidupan, sehingga sangat wajar berdampak pada mobil sebagai barang luxurious mengalami hal yang sama dalam hal penjualan. Tidak heran jika pada tahun 2014 GDP hanya mencapai angka 5,6% saja.

Pada tahun 2015, Gaikindo bahkan merevisi target penjualan mereka sebanyak tiga kali karena belum juga mendapat kepastian dari pertumbuhan ekonomi yang membaik. Nilai Rupiah yang terus bergerak turun terhadap Dolar menyebabkan lesunya penjualan mobil pada tahun 2015, hingga hanya mampu mencatat GDP sebesar 4,8% dengan penjualan mobil sebanyak 1.006.048 unit.

Grafik Projeksi Pertumbuhan PDB
projeksi pertumbuhan pdb indonesia 2017

Grafik di atas memperlihatkan positifnya harapan kenaikan GDP untuk tahun 2017. Bahkan sepanjang tahun 2016 diharapkan Indonesia akan mengalami kenaikan GDP hingga 5,18% dari yang tadinya hanya 4,8% saja. Di tahun 2017 sendiri diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar 5,6% mengingat banyaknya kebijakan ekonomi baru dan nilai Rupiah yang sedang mencoba mendaki ke arah yang lebih baik dari nilai Dolar.

Mobil Baru VS. Mobil Bekas

Mobil Baru VS. Mobil Bekas

Pada tahun 2016 penjualan mobil bekas melesat jauh terutama ketika menjelang hari raya Idul Fitri atau lebaran. Saat menjelang lebaran pada bulan Juli 2016 saja terjadi peningkatan hingga 30% untuk penjualan mobil bekas.
Untuk kuantitas tentu saja mobil baru masih memegang pasar daripada mobil bekas. Hanya saja jika dibandingkan dengan mobil bekas, penjualan mobil baru tidak selalu stabil seperti penjualan mobil bekas.

Permintaan terhadap mobil baru ini dapat dikarenakan beberapa faktor seperti:

  • Meningkatnya taraf ekonomi masyarakat
  • Kebutuhan mendasar (baik secara pribadi maupun bisnis)
  • Kemudahan pembelian mobil dari banyaknya jumlah layanan kredit dan pinjaman

Sedangkan untuk mobil bekas, permintaan muncul karena mobil bekas dirasa memiliki harga lebih murah, tetapi mampu memberikan kenyamanan yang tidak berbeda jauh dengan mobil baru. Bahkan fenomena ini terjadi kepada mobil LCGC (Low Cost Green Car) yang sering disebut dengan mobil murah.

Mobil LCGC merupakan mobil yang selalu diproduksi karena minat masyarakat yang masih tinggi untuk memiliki kendaraan roda empat. Kebijakan pemerintah yang mensubsidi mobil LCGC membuat harganya terjangkau oleh kalangan kelas menengah ke bawah dan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi booming-nya mobil LCGC di Indonesia.

Jika dilihat di Jakarta sendiri, penerapan aturan nopol ganjil-genap menjadi salah satu penyebab meningkatnya penjualan mobil LCGC. Aturan ini membuat banyak orang membeli mobil dengan harga yang murah dengan nopol yang berbeda. Ditambah lagi belum maksimalnya alat transportasi yang ada menyebabkan banyak masyarakat memilih untuk memiliki mobil pribadi, baik di kota besar maupun di kota kecil di seluruh Indonesia.

Kemunculan LCGC tentu saja memiliki nilai positif dan negatif. Positifnya adalah memberikan kemudahan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah untuk dapat memiliki kendaraan, sedangkan negatifnya adalah banyak masyarakat yang mulai beralih ke mobil LCGC sehingga meninggalkan pilihan mobil lainnya. Artinya, segmen mobil lain dapat tergerus dengan kemunculan mobil-mobil LCGC baik di segmen mobil baru maupun mobil bekas.

Mobil bekas dari semua jenis produsen mobil ternyata masih diminati oleh banyak orang. Sebut saja dua produsen mobil dengan penjualan mobil bekas tertinggi, Toyota dan Honda. Di Indonesia preferensi mobil masyarakat Indonesia akan mobil bekas meningkat hingga 70%, penyebab utama peningkatan ini diinisiasi oleh keadaan ekonomi yang tidak begitu stabil sehingga membuat minat masyarakat untuk membeli mobil baru menurun. Hal ini pula yang membuat GDP pada tahun 2014 ke 2015 semakin menurun ke angka 4,8%.

Menurut data Carmudi sendiri, preferensi mobil masyarakat Indonesia pada periode tahun 2014-2015 lebih condong ke mobil bekas, mengambil porsi sebesar 70% dan 30% untuk mobil baru. Dan pada periode tahun 2015-2016 mengalami peningkatan minat terhadap mobil bekas. Rasio minat mobil bekas terhadap mobil baru menjadi 87% dan 13%.

Merek Mobil Favorit

Merk Mobil Favorit

Pada periode 2014-2015 merk yang mendominasi mobil baru adalah Toyota, Honda dan BMW. Untuk periode 2015-2016, pangsa pasar mobil dipegang oleh Toyota, Honda dan Daihatsu. Hanya Honda yang mengalami peningkatan pangsa pasar, yaitu 14% ke 21%. Akan tetapi, posisi Toyota sebagai pemegang pasar terbesar tidak bergeser dari podium pertama. Penurunan terbesar dialami oleh BMW, dari besar pasar 13% menjadi hanya 3%. Model-model yang terbukti menjadi incaran konsumen adalah Toyota Avanza, Toyota Agya dan Honda Brio.

60% dealer berpendapat bahwa Toyota Calya merupakan mobil terpopuler pada 2 tahun belakangan. Dan sisanya, meski sependapat bahwa Toyota masih merupakan mobil tervaforit di Indonesia, beragumen bahwa Toyota Avanza masih memegang angka penjualan tertinggi, walaupun adiknya Toyota Cayla memang sedang naik daun pada 2 periode ini.

“Mungkin secara data Toyota Avanza masih memegang penjualan tertinggi, tetapi sejak kemunculan Toyota Calya, penjualan Avanza sedikit kendor akibat harga dan fitur yang yang diberikan oleh Calya sendiri.”
— Fauzan rizki, Marketing Communication Toyota Tunas Pasar Minggu
Dikutip dari Fauzan rizki selaku Marketing Communication Toyota Tunas Pasar Minggu: “mungkin secara data Toyota Avanza masih memegang penjualan tertinggi, tetapi sejak kemunculan Toyota Calya, penjualan Avanza sedikit kendor akibat harga dan fitur yang yang diberikan oleh Calya sendiri.”

Grafik Merek Mobil Baru Terfavorit
merk mobil baru terfavorit indonesia

Untuk segmen mobil bekas, hanya posisi ke-3 yang mengalami perubahan. Jika ditemui untuk mobil baru BMW meraih posisi ke-3, untuk mobil bekas Daihatsu mengambil trofi untuk posisi ke-3 membuat pabrikan-pabrikan jepang menunjukkan kekuatannya dalam membuat mobil reliabel dan dengan harga terjangkau dengan menggusur pabrikan eropa.

Grafik Merek Mobil Bekas Terfavorit
merek mobil bekas terfavorit indonesia

Jika dilihat dari jumlah leads yang ada di Carmudi sendiri serta melihat market share di Indonesia, terdapat kesesuaian dengan rekor penjualan. Carmudi sendiri mencatat bahwa Toyota dan Honda menjadi preferensi mobil masyarakat Indonesia yang memiliki leads paling tinggi, sesuai dengan penjualan yang dilakukan oleh Toyota dan Honda. Toyota tentu saja masih memegang rekor sebagai merk paling favorit dengan penjualan tertinggi.

Tipe Bodi Mobil Favorit

Tipe Bodi Mobil Favorit

Tipe bodi mobil sendiri telah banyak berpengaruh dari karakteristik konsumen Indonesia. Bodi mobil seperti apa yang memiliki daya Tarik konsumen terbesar bisa dilihat dari 2 grafik di bawah ini.

Grafik Tipe Bodi Mobil Baru Terfavorit
tipe bodi mobil baru tervaforit indonesia

Di tahun 2014-2015 market share mobil baru berdasarkan tipe bodi adalah sebagai berikut: MPV 38%, SUV 33%, dan Sedan 13%. Untuk periode tahun 2015-2016, tren ini berganti menjadikan Hatchback menjadi tipe bodi mobil terfavorit ke-3 dengan peningkatan YOY dari 11% menjadi 22%, sedangkan SUV dan MPV tetap menduduki posisi 1 dan 2.

Mobil dengan tipe bodi SUV atau MPV memiliki daya tarik masyarakat dikarenakan masyarakat Indonesia ingin membeli mobil yang dapat mengakomodasi penumpang lebih banyak. Sedan tidak menjadi preferensi mobil masyarakat Indonesia karena dinilai kurang efisien untuk menunjang kebutuhan konsumen pada kegiatan sehari-hari meski tampilan sedan yang dibilang lebih mewah. Faktor efisiensi merupakan salah satunya. Preferensi mobil masyarakat Indonesia adalah mobil yang dapat digunakan untuk kebutuhan individu seperti ke kantor di hari kerja, dan membawa seluruh keluarga berlibur di akhir pekan.

Grafik Tipe Bodi Mobil Bekas Terfavorit
tipe bodi mobil bekas terfavorit indonesia

Di tahun 2014-2015 market share mobil bekas berdasarkan model adalah sebagai berikut: SUV 39%, Sedan 32%, MPV 11%. Untuk periode tahun 2015-2016 ditemukan peningkatan preferensi mobil masyarakat Indonesia pada bodi mobil tipe MPV, walaupun fakta ini tidak mengubah urutan bodi mobil terfavorit.

Salah satu dealer membeberkan fakta yang sedikit berbeda, Reza dari Handy Auto mengungapkan bahwa merek Kijang Innova menempati posisi teratas di tahun 2016 ini. “Selain Innova, merek Avanza juga tidak kalah banyak peminatnya,” lanjut Reza.

“Selain Innova, merek Avanza juga tidak kalah banyak peminatnya,”
— Reza, Handy Auto

Dengan hasil tersebut bisa dikatakan bahwa model MPV lebih menjadi pilihan para konsumen Indonesia. Hal senada juga diungkapkan oleh narasumber lainnya, Mirzal Motor dan Mustika Jaya Motor. Namun begitu, model SUV di Mirzal Motor juga tidak kalah jumlah peminatnya.

Pergeseran preferensi mobil masyarakat Indonesia ditemukan di segmen mobil bekas terutama pada mobil dengan tipe bodi sedan. Bila pada segmen mobil baru Sedan menduduki posisi ke-3 sebagai tipe bodi mobil terfavorit, pada segmen mobil bekas. Sedan berhasil menduduki posisi ke-2. Hal ini diasumsikan terjadi karena harga mobil sedan bekas yang menjadi lebih terjangkau membuat masyarakat tergoda untuk membeli mobil yang memiliki tampilan lebih mewah dan tidak hanya fokus ke jenis mobil yang memiliki daya angkut terbesar.

Model SUV yang sulit ditemukan varian harga murahnya menjadi salah satu faktor menurunnya minat konsumen. Sedangkan salah satu faktor konsumen lebih berminat kepada hatchback dibandingkan MPV adalah karena modelnya yang lebih compact. Bentuknya yang lebih kecil sangat cocok untuk jalanan di Indonesia yang padat dan mayoritas masih kurang lebar, terutama daerah pemukiman dan pinggiran kota.

Secara khusus, pada segmen mobil bekas tahun 2015 dan 2016 model SUV dan sedan mengalami penurunan popularitas. Contohnya pada tipe sedan Soluna yang sebelumnya pernah dipakai untuk taxi kini membanjiri pasaran dengan harga miring. Hal ini dikarenakan banyak yang beralih profesi dari driver taxi menjadi ojek online. Taxi online sendiri lebih variatif, karena dapat menggunakan mobil selain sedan.

Menilik lebih lanjut lagi, berdasarkan model, model terpopuler untuk mobil baru adalah sesuai dengan data yang diperoleh Carmudi, model mobil yang terpopuler memiliki tipe bodi SUV atau Hatchback/city car. Model-model mobil untuk lebih spesifik adalah sebagai berikut: Toyota Avanza, Toyota Agya dan Honda Brio.

Untuk model mobil bekas, masih mendominasi pasar yaitu Toyota Avanza, Honda Jazz dan Honda CR-V. Avanza lebih diminati karena model dan kualitasnya telah teruji di jalanan Indonesia, serta ketersediaan komponen purna jualnya sangat mudah ditemukan. Menyentuh pasar konsumen usia muda, Jazz masih menjadi pilihan utama di mobil bekas. Model hatchback pabrikan Honda ini masih menjadi primadona gaya hidup konsumen usia muda di perkotaan. Sedangkan CR-V cukup banyak dicari karena telah teruji kualitasnya dan tampilannya yang menarik untuk sebuah SUV dinilai dapat memenuhi kebutuhan keluarga Indonesia.

Pada tahun 2015, meningkatnya minat LCGC mendorong naiknya permintaan pasar terhadap Agya. Meskipun begitu, Avanza yang muncul facelift masih sangat diminati karena kualitas dan harganya. Kemunculan New Pajero menjadi pilihan para konsumen mobil high-class. Namun di tahun 2016, minat pasar terhadap Pajero turun yang kemudian digantikan Brio sebagai mobil low-class. Harganya yang murah dan modelnya yang compact sangat efektif menembus jalanan padat ibukota. Selain itu, Brio sendiri berangsur-angsur mulai menjadi gaya hidup konsumen usia muda layaknya Jazz sebagai pendahulunya.

Warna Favorit

Warna Favorit

Pada pilihan warna mobil, konsumen Indonesia pada umumnya tidak memiliki banyak pilihan. Ditambah lagi bahwa konsumen tersebut lebih mengutamakan harga, fitur serta kapasitas kabin pada pilihan mobil keluarga.

Grafik Warna Mobil Baru Terfavorit
warna mobil baru terfavorit indonesia

Namun, warna mobil bukan berarti bisa dengan begitu saja dikesampingkan. Tercatat pada data tahun 2014-2015 bahwa warna favorit mobil baru didominasi oleh warna putih sebesar 42%, hitam 26% dan abu-abu 18%. Masih pada segmen mobil baru, ketiga warna tersebut masih menjadi preferensi mobil masyarakat Indonesia di tahun 2015-2016 namun meskipun begitu jumlahnya mengalami penurunan pada warna putih dan hitam. Tercatat bahwa warna putih sebesar 36%, hitam 22%, dan abu-abu 21%.

Peningkatan pada warna abu-abu terjadi karena konsumen sudah terlalu banyak melihat mobil yang berwarna putih maupun hitam karena dinilai kurang istimewa. Selain itu, warna abu-abu adalah warna alternatif antara putih dan hitam.

Hasil wawancara dengan beberapa dealer juga menunjukkan warna hitam dan silver mendominasi pasar dengan warna putih mejadi warna yang sedang naik daun.

Data tahun yang sama, peningkatan preferensi mobil masyarakat Indonesia terjadi pada pilihan mobil berwarna merah. Peningkatan ini, seperti dijelaskan di atas, konsumen mulai mencari varian warna selain putih dan hitam yang dinilai biasa saja. Diluar dua warna itu, peningkatan populasi mobil warna merah cukup drastis, yakni sekitar 6% -> 13%. Faktor lain adalah warna merah dinilai membawa keberuntungan bagi masyarakat tionghoa di Indonesia.

Grafik Warna Mobil Bekas Terfavorit
warna mobil bekas terfavorit indonesia

Di segmen mobil bekas, pada tahun 2014-2015 warna populer yang menjadi pilihan konsumen adalah hitam sebesar 35%, abu-abu 32%, dan putih 12,5%. Warna hitam dan abu-abu cukup mendominasi pilihan konsumen, salah satu faktornya adalah terbatasnya ketersediaan pasar mobil bekas. Warna hitam dan abu-abu banyak dipilih karena dapat menyamarkan kondisi mobil bekas. Dengan perawatan yang baik, mobil berwarna hitam dan abu-abu ini akan tampak seperti baru kembali.

Pada tahun 2015-2016, warna hitam dan warna abu-abu mengalami penurunan. Tercatat bahwa preferensi mobil masyarakat Indonesia atas warna hitam sebesar 32%, abu-abu 30%, dan putih 17%. Mobil warna hitam sudah dikenal lebih sulit untuk dirawat. Hal tersebut merupakan salah satu faktor bahwa warna hitam mengalami penurunan. Meskipun begitu warna hitam masih menjadi favorit karena sangat efektif untuk menyamarkan kondisi tampilan mobil bekas.

Warna putih, meski menduduki posisi nomor 3, mengalami peningkatan karena justru lebih mudah melakukan perawatan. Meskipun sangat kontras dengan bercak cipratan tanah yang menempel di badan mobil, kekhawatiran konsumen mobil berwarna putih bisa berkurang dengan menjamurnya salon mobil yang menawarkan harga terjangkau.

Handy Auto, yang kebetulan diler yang kebanyakan menjual mobil mid-class dan premium,  mengatakan warna putih memiliki nilai jual yang sedikit lebih tinggi. Sepertinya harga bukan lagi persoalan untuk konsumen yang benar-benar memperhatikan tampilan. Perbedaan harga inilah yang menjadikan pembeli mobil menjadi ciut untuk menjatuhkan pilihan pada mobil putih.

Anggapan masyarakat Indonesia bahwa mobil putih (atau selain hitam atau silver) akan susah untuk diijual kembali mengakibatkan sedikitnya ketersediaan mobil warna putih di pasaran. Penjual merasa bahwa mereka tidak akan mendapat harga setinggi mobil dengan warna hitam atau silver, sehingga memutuskan untuk lebih baik tetap menggunakan mobilnya ketimbang menjualnya.

Perlu diketahui juga bahwa komunitas mobil dengan varian warna tertentu tengah menjamur di Indonesia. Selain warna, motif tertentu juga terus tumbuh. Sebagai contohnya adalah Black Car Community dan White Car Community, dll.

Penemuan Carmudi dari wawancara dengan beberapa diler (Mirzal Motor, dan Mustika Jaya Motor) adalah warna hitam, silver dan putih menjadi warna preferensi mobil masyarakat Indonesia untuk mobil bekas.

Range Harga

Distribusi Range Harga

Dengan kenaikan GDP quarter 2 tahun 2016 mendorong tingkat penjualan mobil baru di tahun yang sama dan tahun sebelumnya. Meskipun pada range harga Rp150-200 juta-an tercatat sebesar 16%, namun mobil dengan range harga Rp 250 juta ke atas juga mengalami peningkatan yang tidak sedikit (10%-14%).

Menurut diler-diler yang diwawancara Carmudi, kemunculan mobil LCGC membuat pembelian mobil dengan harga di bawah Rp150 juta semakin meningkat.

Mobil di atas harga Rp200 Jutaan tidak mengalami kenaikan maupun penurunan yang signifikan. Fauzan dari diler Toyota Tunas mengungkapkan penjualan mobil pada harga ini tetap memiliki pangsa pasar tersendiri.  Hanya saja tidak mengalami seperti yang dialami oleh mobil LCGC.

Preferensi mobil masyarakat Indonesia yang dipandang price-oriented ini pun memanfaatkan penurunan harga ini untuk memiliki mobil-mobil murah tetapi memiliki spesifikasi yang mumpuni. Dapat disimpulkan Calya merupakan mobil paling populer saat ini dengan harga di bawah Rp150 Jutaan.

Grafik Range Harga Mobil Baru
rentang harga mobil baru indonesia

Pada segmen mobil bekas justru terjadi sebaliknya. Di tahun 2014-2015 range harga yang banyak terjual adalah kisaran Rp 100 juta-an (31%), dan kemudian turun di tahun 2015-2016. Di tahun ini justru mobil bekas dengan range harga Rp 50 juta-an meningkat (17%-21%).

Bily dari Mustika Jaya Motor menerangkan bahwa mobil bekas yang menjadi preferensi mobil masyarakat Indonesia di pasaran justru pada range harga Rp100-150 juta. “Kalo yang dibawah Rp100 juta, orang-orang pikir mending beli mobil LCGC baru,” terang Bily. Meskipun model dan fitur yang  memiliki keterbatasan -karena harganya- LCGC lebih menggiurkan karena aftersales yang tentu mudah dicari dan usia pakai kendaraan  yang relatif lebih panjang.

Grafik Range Harga Mobil Bekas
rentang mobil bekas indonesia
“Kalo yang dibawah Rp100 juta, orang-orang pikir mending beli mobil LCGC baru.”
— Bily, Mustika Jaya Motor

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, meningkatnya GDP berbanding sejajar dengan hasil penjualan mobil baru dengan harga berkisar Rp 250 juta-an. Di tahun yang sama, konsumen Indonesia memilih mobil bekas karena harganya. Para konsumen akan mencari mobil bekas ini dari harga terkecil. Pada harga Rp 50 juta-an saja sudah banyak ditemukan mobil-mobil compact dari merk ternama sehingga perawatannya tergolong mudah. Model compact ini sangat cocok dengan kondisi jalanan yang padat. Selain itu, sedan keluaran tahun 2000-an juga sudah bisa didapat dengan banderol Rp 50 juta-an.

Kemunculan Situs Jual Beli Kendaraan Online

Kemunculan Situs Jual Beli Kendaraan Online

Carmudi sebagai pasar jual beli kendaraan online terbesar di Indonesia menanyakan dampak menjamurnya pasar online serupa ke beberapa diler. Jangkauan pemasaran kendaraan bermotor sangat terbantu dengan adanya situs-situs jual beli kendaraan. Para pemilik atau perwakilan dealer mobil bekas sendiri mengakui sekitar 80-90% penjualan bersumber dari pemasaran online. “Ya, kan intinya online gitu cuma buat iklannya aja. Orang liat mobilnya di internet, kemudian ke dealer buat liat fisiknya. Bisa juga sekalian lihat mobil lain di dealer,” Reza dari Handy Auto menjelaskan.

“Ya, kan intinya online gitu cuma buat iklannya aja. Orang liat mobilnya di internet, kemudian ke dealer buat liat fisiknya. Bisa juga sekalian lihat mobil lain di dealer”
— Reza, Handy Auto

Hal senada juga diungkapkan oleh The Auto Central, dikutip dari sini, “Untungnya, kita bisa juga cari konsumen di online, karena kita juga pasang online. Dan, itu memang jadi banyak yang cari. Bahkan, sampai ada yang telepon, meski barang sudah ludes,” ujarnya.

Angka penjualan bisa terdongkrak dengan adanya situs jual beli kendaraan online seperti Carmudi, meski menurut pengakuan diler peningkatan brand awareness tidaklah terlalu signifikan. Hal ini disebabkan karena jasa jual beli kendaraan online tidak fokus memasarkan nama diler itu sendiri tetapi lebih kepada produk saja.

Kata Penutup

Kata Penutup

Kebijakan pemerintah tentu akan sangat berpengaruh pada iklim perkembangan industri otomotif di Indonesia. Kebijakan pemerintah akan LCGC (Low Cost Green Car) telah terasa di pasar mobil murah sekarang ini. Dengan munculnya varian berteknologi canggih serta isu pengendalian emisi gas buang menjadi bahan-bahan pertimbangan pemerintah dalam mengemas kebijakan dunia industri otomotif.

Sebagai contoh, mesin hybrid menjadi salah satu solusi dalam rangka mengurangi emisi gas buang karena berbekal 2 tipe mesin, yakni mesin berbahan bakar minyak (konvensional) dan listrik. Namun karena terbentur dengan infrastruktur yang belum bisa berkembang baik, pemerintah masih sangat membatasi peredaran mobil hybrid ini. Alih-alih karena berbekal 2 tipe mesin, maka pajak pun belum bisa diturunkan lebih rendah. Bisa dilihat pada mobil Honda CRZ (hybrid) yang kemudian dihentikan pemasarannya karena kurang laku dipasaran.

Meskipun tingkat pertumbuhan penjualan mobil terus naik, namun mobil murah masih akan sangat diminati, meskipun minim fitur berkendara dan keamanan. Selera konsumen Indonesia sangat terbawa arus utama pasar. Sebagai contoh, bergerak pada harga yang sama, Mazda 2 dengan fitur berkendara yang terbilang lengkap justru kalah pamor dengan Toyota Yaris yang berbekal fitur biasa saja. Faktor lain tentu saja layanan purna-jualnya, karena mayoritas konsumen mobil baru di Indonesia menggunakan sistem pembayaran kredit. Dari sistem ini bisa disimpulkan bahwa konsumen akan sangat memperhitungkan layanan purna-jual agar tidak memakan biaya lebih banyak lagi karena sudah harus membayar cicilan mobil mereka setiap bulannya.

Dari kondisi perkembangan ekonomi, infrastruktur, layanan purna jual, bisa disimpulkan bahwa minat akan mobil murah dengan bentuk compact akan terus berkembang. Seiring perkembangan infrastruktur, mobil bermesin hybrid juga diprediksi akan terus tumbuh. Mobil compact dengan mesin hybrid yang sistem pengecasannya dapat dilakukan di rumah, sepertinya menjadi impian setiap konsumen di Indonesia. Atau mobil murah yang terus diperbaiki kualitasnya, seperti fitur keamanan dan bantuan berkendara lainnya akan menjadi nilai lebih persaingan mobil murah antar pabrikan.

Segmen mobil bekas juga masih akan terus menjadi preferensi mobil masyarakat Indonesia. Usia mobil yang cukup panjang hingga kondisi yang masih prima, menjadi faktor utama pilihan konsumen karena harganya yang jauh lebih murah dari mobil baru yang beredar di pasaran.

Toyota Sienta
Previous post
Video Review Toyota Sienta, Lebih Intim dengan Multi Activity Vehicle
Next post
Kontes Modifikasi Datsun Tiba di Jakarta