Sumber informasi

Biaya Servis Moge di Mata Pengguna, Mahal atau Murah Itu Relatif, Bro!

Biaya servis moge alias motor gede jelas lebih mahal dibandingkan motor-motor bermesin kecil. Sekali masuk bengkel, seorang pemilik bisa merogoh kocek lebih dari Rp1 juta untuk pengerjaan yang sifatnya perawatan sekaligus ganti oli.

Biaya Servis Moge

(Foto: Unsplash)

Memiliki moge masih menjadi cita-cita bagi bagi kebanyakan penyuka kendaraan roda dua. Di Indonesia sendiri cukup banyak brand yang meramaikan segmen ini.

Dari brand Jepang ada Honda, Yamaha, dan Kawasaki yang terpantau masih aktif memasarkan motor-motor besarnya.

Ditambah lagi kehadiran brand Eropa, semisal Moto Guzzi, Triumph, atau BMW Motorrad.

Harley Davidson sebagai salah satu brand moge legendaris juga masih banyak diminati pemotor berkantong tebal di Tanah Air.

Pengalaman yang dirasakan seseorang ketika memiliki moge akan berbeda dibandingkan saat ia memiliki motor bermesin kecil.

Hal yang pertama tentunya terkait harga jual. Banderol motor besar bisa disejajarkan dengan harga mobil baru.

Ambil contoh Kawasaki Z1000 keluaran 2021 yang dijual PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) dengan harga Rp349 juta.

Kasarnya, dengan bujet sebesar itu Carmudian sudah bisa mendapatkan Honda HR-V baru atau mobil-mobil sekelasnya.

Oleh karena itu, biasanya moge adalah kendaraan yang sifatnya hobi atau koleksi.

Di samping harga yang mahall, moge juga memiliki pajak dan biaya perawatan yang tentunya lebih tinggi dari motor-motor bermesin kecil.

Kisaran Biaya Servis Moge

Istilah mahal atau murah memang sangat tergantung pada kondisi finansial seseorang.

Terlebih jika individu tersebut sudah terlanjur jatuh hati pada tunggangannya. Dana sebesar apapun akan rela dikeluarkan.

Untuk mengetahui kisaran biaya servis moge, Carmudi coba menghubungi seorang pemilik yang berpengalaman merawat motor besar dari sejumlah brand berbeda.

“Untuk servis rutin sama ganti oli itu bisa kena antara Rp1,4 juta atau Rp1,6 juta” ujar pria bernama Hendra Kirana.

Biaya tersebut yang harus ia keluarkan saat memiliki Moto Guzzi V7 Racer keluaran tahun 2012.

Biaya servis moge itu sendiri sebenarnya tergantung juga dari modelnya. Moge dengan kapasitas mesin lebih besar cenderung lebih mahal terutama untuk biaya ganti olinya.

Hendra memberi contoh, Moto Guzzi yang pernah ia miliki menggunakan mesin dengan kapasitas “hanya” 750 cc.

Dengan begitu, jumlah oli yang dibutuhkan tidak begitu banyak dan pada akhirnya membuat pengeluaran rutin jadi lebih terjangkau baginya.

“Olinya nggak banyak, cuma sekitar dua atau tiga liter,” tambahnya.

Biaya tersebut relatif lebih murah paling tidak jika dibandingkan moge Harley Davidson yang ia rawat saat ini.

“Kalau Harley lebih mahal karena kapasitas mesin lebih besar. Jadi olinya yang diganti lebih banyak,” ujarnya.

Saat hendak melakukan perawatan, kira-kira membutuhkan dana hingga Rp2,5 jutaan untuk ganti oli sekaligus servisnya.

Pehobi motor yang tinggal di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan itu pun saat ini merawat dua unit Harley Davidson, yaitu Dyna 2016 dan Softail 1993.

Di balik biaya yang mencapai jutaan, Hendra menyampaikan sisi lain yang jarang disadari para awam. Hal tersebut adalah interval jadwal servis moge yang lebih lama dibanding motor bermesin kecil.

Motor bermesin kecil hadir sebagai kendaraan penunjang mobilitas sehari-hari. Dengan frekuensi penggunaan yang tinggi maka paling tidak setiap 4.000 km harus masuk bengkel.

Sebaliknya, moge memiliki jadwal servis dengan interval lebih jauh. Hal ini ditunjang fakta mayoritas moge hanya digunakan sesekali oleh pemiliknya.

“Dalam setahun moge belum tentu bisa sampai 5.000 km pemakaiannya,” tambahnya.

Nah, untuk interval atau jadwal servis moge sendiri dikembalikan lagi pada rekomendasi yang diberikan oleh pabrikan.

Kisaran Biaya Servis Moge

(Foto: Unsplash)

Tips Merawat Moge

Perawatan moge tak sebatas datang ke bengkel untuk melakukan servis rutin. Melainkan, dimulai saat motor tersebut berada di tangan pemiliknya.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan pemilik itu sendiri agar mogenya selalu dalam kondisi prima.

Memanaskan Mesin Motor

Seperti sudah disinggung di awal bahwa mayoritas moge sifatnya adalah kendaraan hobi atau koleksi. Motor semacam ini lebih banyak berada di garasi dibandingkan digunakan di jalan raya.

Oleh karena itu penting bagi pemilik memanaskan moge milikinya secara berkala. Menurut informasi, mesin moge paling tidak perlu dinyalakan setiap dua hari atau tiga hari sekali.

Pemilik bisa memanaskan mogenya di garasi sekitar dua sampai tiga menit. Namun, cara yang lebih baik lagi ialah mengendarai motor tersebut ke jalan raya.

Alasannya, memanaskan mesin motor dalam kondisi diam dikhawatirkan justru membuatnya mengalami overheat, walaupun mayoritas moge sudah dilengkapi dengan radiator.

Tujuan utama dari aktivitas memanaskan mesin motor ialah agar listrik di dalam aki tetap terjaga.

Gunakan Bahan Bakar Berkualitas

Salah satu hal yang diincar oleh pemilik moge adalah kenikmatan berkendara dengan mesin berkapasitas besar. Namun, performa terbaik hanya bisa didapat dari penggunaan bahan bakar yang tepat.

Oleh karena itu disarankan selalu menggunakan bensin yang sesuai spesifikasi.

Penurunan tenaga mesin mungkin tidak akan dirasakan secara langsung.

Namun, penggunaan bensin di luar spesifikasi mengakibatkan pembakaran tidak sempurna yang pada akhirnya menimbulkan kerak karbon di ruang bakar.

Endapan sisa pembakaran tersebut yang lama kelamaan akan membuat mesin jadi “lemot” dan biasanya menimbulkan suara “ngelitik”.

Motor Jarang Digunakan

(Foto: Unsplash)

Jangan Biarkan Tangki Bensin Kosong

Poin ini ada hubungannya lagi dengan sifat moge yang mayoritas hanya menjadi “hiasan” di garasi.

Jangan mentang-mentang motor jarang digunakan lantas tangki bensin dibiarkan kosong dalam jangka waktu lama.

Hal tersebut dapat mengakibatkan udara di dalam tangki yang kosong berubah menjadi embun. Dari situ kemudian akan muncul karat.

Karat di dalam tangki bensin bukan perkara sepele karena bisa menimbulkan kebocoran sulit diperbaiki.

Akibat lainnya adalah kerusakan pada fuel pump. Namun, risiko yang satu ini lebih mungkin terjadi jika motor terlalu sering digunakan dengan kapasitas bensin yang minim di dalam tangki.

Untuk diketahui, fuel pump berfungsi memompa bensin dari tangki menuju injektor. Fuel pump itu sendiri memiliki bentuk semacam dinamo.

Pada saat digunakan maka fuel pump juga mengalami panas. Oleh karena itu idealnya fuel pump harus terendam bensin agar suhunya terjaga.

Perhatikan Tekanan Angin Ban

Hal lain yang juga kerap terjadi jika motor jarang digunakan ialah berkurangnya tekanan angin ban. Terdengar sepele, namun bakal merepotkan ketika motor hendak digunakan.

Hilangnya tekanan ingin ban disebabkan karena sebenarnya karet ban tetap memiliki pori-pori walau ukurannya sangat kecil.

Saat motor jarang digunakan maka angin di dalam ban akan menjadi dingin dan lebih berpotensi menyusup keluar.

Ada beberapa solusi untuk mengatasinya. Misalnya parkir motor dengan menggunakan lift agar ban tak langsung menyentuh lantai.

Atau bisa juga mengisi ban dengan nitrogen. Seperti diketahui nitrogen memiliki molekul yang lebih besar dibandingkan dengan angin biasa.

Nah, molekul nitrogen yang lebih besar juga membuatnya tidak mudah keluar melalui pori-pori karet ban.

Baca Juga:

Penulis: Mada Prastya

Editor: Dimas

Mada Prastya

Bergabung sebagai penulis di Carmudi Indonesia sejak Februari 2021. Menyukai kendaraan roda dua karena simpel, cepat, dan memberi rasa kebebasan dalam berkendara. Email: [email protected]

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *