Home » Berita » Pertamina Prihatin Banyak Mobil Baru “Konsumsi” BBM Premium

Pertamina Prihatin Banyak Mobil Baru “Konsumsi” BBM Premium

BBM Euro4
Standart Euro4. Foto/Ilustrasi.

Jakarta – Terhitung sejak Oktober 2018 semua mobil dengan mesin bensin keluaran terbaru harus sudah memenuhi standar emisi Euro4. Imbauan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No. 20/Setjen/Kum.1/3/2017 Tanggal 10 Maret 2017. Mobil-mobil baru yang sudah berstandar Euro4 diharuskan menggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memiliki nilai Research Octane Number (RON) 92 ke atas. Seperti Pertamax dengan RON 92 atau Pertamax Turbo (RON 98).

Meski sudah disarankan, sayangnya pemilik mobil seolah-olah tidak mau tahu. Masih banyak di antara mereka yang dengan sengaja  memakai Premium sebagai sumber energi mesin. Tanpa mereka sadari penggunaan BBM di bawah RON 92 pada mobil keluaran baru bisa berdampak pada kinerja mesin.

“Kami prihatin bahwa untuk mobil-mobil baru keluaran setelah Oktober 2018 ini banyak yang antre atau terlihat mengisi BBM jenis Premium, nah ini sangat memprehatinkan sekali,” ungkap Remigius Choerniadi Tomo Manager Technical and Fuel Retail Marketing PT Pertamina dalam webinar Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sabtu (27/6/2020).

Dijelaskan Choerniadi, bahan bakar bensin jenis Premium memiliki angka RON rendah. Sehingga apabila dipaksakan digunakan untuk mobil berstandar Euro4 yang memiliki rasio kompresi tinggi maka gas buangnya akan sangat kotor dan polutif.

Para pabrikan mobil telah melakukan sejumlah modifikasi pada mesin bensin supaya bisa memenuhui standar Euro4. Oleh karena itu, bahan bakar yang digunakan juga harus memiliki spesifikasi Euro4 supaya emisi gas buang yang dikelaurkan dari hasil pembakaran tidak banyak dan lebih ramah lingkungan.

“Untuk menurunkan emisi gas buang kendaraan selain meminta supaya menggunakan bahan bakar yang lebih bersih, para pabrikan juga memasang suatu alat untuk menyerap emisi yang berbahaya. Alat-alat tadi akan menyerap emisi yang berbahaya misalnya CO (Carbon monoxide), NOx (nitrogen oxides) kemudian dioksidasikan di alat yang terpasang pada gas buang mobil-mobil Euro4. Alatnya disebut three-way catalyst,” terang Choerniadi.

Dirinya menambahkan, adapun fungsi utama dari three-way catalyst adalah untuk membuat HC (hydrocarbons), CO, dan NOx turun. “Tetapi alat ini menutut kandungan sulfur pada bahan bakar harus rendah dibawah dibawah 50 ppm untuk Euro4,” sambung dia.

SPBU
Isi Sesuai Spesifikasi Mesin Bikin Konsumsi BBM Irit Foto/Pertamina.

Premium Belum Mengandung Zat Aditif

Premium merupakan jenis BBM paling rendah saat ini. RON-nya cuma 88 sedangkan BBM jenis baru yaitu Pertalite sudah di angka 90. BBM jenis premium tidak disarankan digunakan untuk mobil-mobil baru sebab belum mengandung zat aditif.

“Zat aditif untuk mobil-mobil modern merupakan sebuah keharusan. Oleh karena itu mobil-mobil modern relatif bersih dibandingkan mobil-mobil lama,” papar Choerniadi

Sebagai pembuktian Premium tidak cocok dipakai pada mobil-mobil modern, Pertamina sudah melakukan pengujian. Mesin yang selama ini dipaksa mengkonsumsi bensin Premium dibongkar. Dari situ terlihat jelas adanya deposit atau kerak yang amat tebal di dalam mesin.

“Deposit menimbulkan emisi gas buang dan akan menurunkan power mobil. Yang lebih parah lagi jika timbunan deposit dalam mesin mobil sudah menumpuk dan tebal maka mesin mobil itu akan membutuhkan bahan bakar dengan octane number yang lebih tinggi lagi. Bisa 5 octane lebih tinggi dari pada yang direkomendasikan oleh pabrikan mobil,” pungkas dia.

Penulis: Santo

Editor: Lesmana

Previous post
Kontribusi Suzuki Carry Terhadap Penjualan Mobil Nasional Naik 10%
Next post
Satu Lagi, Pameran Sepeda Motor EICMA 2020 Dibatalkan Akibat Corona